
Jam kerja, sudah usai. Namun, tidak berlaku bagi Huan. Pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi, bukan hanya masalah kantor, tetapi juga menyelesaikan masalah pribadi atasannya.
Ia kini berada, tak jauh dari depan rumah orang tua Sandra. Ia duduk dibalik kemudi, dan mengawasi pagar rumah yang tertutup rapat.
Sore tadi, ia memberikan bingkisan, pada beberapa pelayan. Sekedar basa basi, menanyakan hal biasa. Tentang pelayan, dalam foto, yang ternyata asisten pribadi, ibu Sandra. Huan juga berkeliling dan tanpa sengaja menemukan gudang penyimpanan di halaman belakang. Jaraknya cukup jauh dari rumah utama. Ia harus melewati pagar besi, rerumputan dan pohon, yang terawat.
Tidak ada yang aneh, dalam gudang, selain tumpukan barang yang tidak terpakai. Ada juga, peralatan kebun, ban bekas dan entah apa lagi dalam kardus yang ditumpuk rapi dalam rak besi. Kardus yang sudah diberi nama, untuk memudahkan menemukan barang. Huan tertarik pada kardus, yang sudah berdebu, dengan tulisan SaZa.
Saat membukanya, sudut bibir Huan terangkat. Ia mengeluarkan satu persatu isi kardus, untuk diperiksa. Ia mengambil satu undangan dan satu souvenir, untuk diserahkan pada Zamar. Entah mengapa mereka meletakkannya disini. Apakah sebagai kenang-kenangan atau sengaja menyembunyikannya?
Sebuah mobil putih, dengan nomor plat yang ia hapal diluar kepala, keluar dari halaman.
"Ikuti," perintah Huan, pada seseorang dibalik telepon.
Mobil didepan melaju dengan kecepatan sedang. Huan mengikuti dengan jarak aman. Sepertinya, jalanan yang ia lintasi, tidak asing. Dan benar saja, sesuai dugaan Huan, Rumah Riko.
Mobil putih, berhenti diseberang jalan, tanpa mematikan mesin mobil. Riko dengan pakaian serba hitam, menghampiri kendaraan tersebut. Entah apa yang mereka lakukan dalam mobil, begitu lama, sebab mobil itu belum juga bergerak.
"Pak, kita harus bagaimana?"
"Kita butuh Riko," jawab Huan dari sambungan telepon.
"Baik, pak. Kami mengerti."
Riko keluar dari mobil, dengan menenteng tas berwarna hitam. Ia melirik, kiri kanan, sebelum menyebrangi jalan. Dihalaman, Riko berhenti sejenak, menatap mobil putih pergi meninggalkannya.
"Sekarang!" perintah Huan.
Huan hanya duduk dalam mobil, memperhatikan anak buahnya menyergap Riko dan langsung membawanya dalam mobil. Setelah, Riko dibawa pergi. Huan turun dari mobil dan berjalan menuju rumah.
Tok tok tok
"Cari siapa?" Perempuan dengan baju daster, menyambut Huan. Wajahnya memucat, seolah kelelahan.
"Saya mencari suami Anda," jawab Huan, yang memperhatikan keadaan rumah.
"Dia sedang ke warung. Silahkan tunggu diluar, maaf."
"Sebentar!" Huan menahan daun pintu, yang hendak ditutup. "Apa nama suami Anda Riko?"
"Riko?" ulang perempuan itu. "Maaf, Anda salah orang."
"Apa dia bukan Riko?" Huan memperlihatkan foto pria dalam ponselnya.
__ADS_1
"Dia suami saya, tapi namanya bukan Riko. Entah apa Anda mencari Riko yang mana. Saya memiliki adik ipar bernama Riko, tapi dia sudah meninggal. Suami saya bernama Rian."
"Kalau begitu,.... "
Huan berpamitan, meminta maaf karena sudah mengganggu. Mendapatkan banyak informasi, sudah cukup untuk mengakhiri teka teki ini. Sekarang, hanya perlu membuat Rian membuka mulut.
Huan kembali manapaki kakinya, ditempat yang sama hampir tiga tahun lalu. Dan ia kembali, menangkap pria yang sama, tapi dengan perlakuan yang berbeda.
Rian duduk tanpa tangan terikat, wajahnya masih bersih tanpa lebam dan darah. Didepannya, ada botol minuman diatas meja, namun belum ia sentuh.
"Kau.... " Rian tersentak. Pria yang membawanya tiga tahun lalu, kembali berdiri dihadapannya.
"Kau masih mengingat ku, Riko? Ah, bukan, seharusnya aku memanggilmu Rian."
"Apa yang kau inginkan?"
"Sudah hampir tiga tahun, aku yakin ingatanmu masih bagus." Huan meletakkan tas hitam milik Rian dan membukanya. "Sangat banyak. Kau hanya cleaning service, tapi memiliki uang sebanyak ini."
"Tolong, kembalikan! Itu milikku!"
Huan membuang tas itu, hingga isinya berhamburan diatas lantai. Rian memekik dan bangkit, namun langkahnya tertahan oleh anak buah Huan.
"Aku hanya ingin kau berkata jujur. Kau bisa mengambil uangmu dan pergi."
"Aku tidak mengerti, apa yang kau bicarakan. Bicara jujur, apa? Aku sudah mengatakan semuanya tiga tahun lalu."
"Brengsek." Rian menggebrak meja. "Jangan pernah menyentuhnya. Aku akan membunuhmu!" Seperti kucing yang tersudut, ia mengeluarkan cakarnya.
"Pilihlah!" Huan menyeringai.
Rian memucat. Ia kembali duduk, dengan tubuh yang mendadak gemetar. Nyalinya menciut, pria didepannya, berkata dengan tegas. Wajahnya, tidak menunjukkan belas kasih, hanya ada aura dingin dan tidak bersahabat.
"Kau bicara padaku atau pria yang waktu itu? Aku cukup bersabar untuk menunggu. Tapi, tidak dengannya!" lanjut Huan.
Tidak ada jawaban. Kedua matanya, hanya berkeliling, mungkin mencari jalan keluar. Namun, melihat hal mustahil itu, ia melirik tas dan uangnya yang berserakan.
"Baiklah. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Sembari, menemani istrimu yang mungkin mengkhawatirkan mu."
"Aku mohon, jangan lakukan itu! Aku...." Rian mengacak rambutnya, frustasi. "Aku tidak bisa," sahutnya dengan terbata.
Huan tidak menanggapi. Ia berjalan keluar, sembari menempelkan ponselnya ditelinga.
"Kami menemukannya, Tuan."
__ADS_1
"Siapa?"
"Riko."
"Dimana?"
"Tempat biasa."
"Tunggu, aku!"
"Baik, Tuan."
Huan, masuk dalam mobil mengambil tas. Bersandar, dipintu mobil yang tertutup. Menunggu Zamar, sekaligus menunggu pria itu berpikir, mengambil keputusan.
Hampir setengah jam berlalu, mobil sedan mewah terdengar. Ia mengerem mendadak, hingga menggerus tanah berumput. Menggunakan jeans hitam dan baju kaos yang tertutup hoodie, berwarna gelap.
"Mana dia?" tanya Zamar, dengan rahang menggeletuk.
"Didalam, Tuan." Huan berjalan lebih dulu, hendak mengantarkannya ke dalam. Namun, langkah Zamar justru melewatinya. Pria itu, sudah tidak sabar.
Yang duduk dikursi, wajahnya semakin pias. Pria yang menghajarnya, tanpa ampun, kini melangkah ke arahnya dengan sorot mata yang lebih tajam, seolah akan mencabik-cabik tubuhnya.
"Dia bernama Rian, bukan Riko." Huan menjelaskan. "Dia sudah menikah dan memiliki anak," lanjut Huan lagi.
"Bicaralah! Jika kau tidak mau, aku akan mengundang istrimu, sekalian," desis Zamar kasar.
"Tuan, tolong maafkan aku!"
"Huan, jemput wanita itu!"
"Baik, Tuan."
"Aku mohon. Tolong, jangan sentuh dia! Aku akan bicara."
Huan memberikan kursi pada Zamar. Duduk berhadapan, dengan meja sebagai pemisah jarak. Huan mengeluarkan beberapa foto dan berdiri disamping Zamar.
"Aku mengenal Maya, melalui adikku Riko. Kami hanya pernah bertemu sekali. Dia perempuan baik dan pekerja keras, begitu Riko menceritakannya padaku." Zamar dan Huan masih mendengarkan, meski Zamar lebih terlihat tidak sabaran, mendengar drama yang alurnya bertele-tele.
"Lima tahun lalu, Riko kecelakaan. Tapi, sebelum kejadian itu, ia pernah berpesan padaku. Bahwa setiap bulan, Maya akan mengirimkan uang untuknya. Katanya, untuk membayar utang, karena telah memberinya pinjaman. Aku tidak mengerti, pinjaman apa, karena ia tidak memberitahu ku."
"Lalu?"
"Aku menggunakan uang tersebut, untuk pernikahanku dan biaya hidup. Orang tuaku sudah meninggal dan toko percetakannya sudah bangkrut."
__ADS_1
Zamar menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran dan menahan amarah. Yah, dia merasa bersalah sekarang, perihal nomor rekening.
🍋 Bersambung