
Cuaca sedikit berbeda, dari hari kemarin. Pagi ini, angin tampak bertiup kencang, mega diatas menghitam, kilatan-kilatan kecil seperti beradu diatas langit. Pohon-pohon berayun, mengikuti kemana arah angin membawanya. Dedaunan berterbangan, tanpa sempat berpamitan.
Segelas kopi panas dan roti isi, yang tampak dingin, bertengger diatas meja. Si pemilik, duduk dengan menikmati pemandangan yang menggelap diluar. Entah apa yang menarik disana, selain ketakutan, karena tiupan angin yang menerbangkan segalanya.
Ia menyesap kopi panasnya, dengan sorot mata masih belum beralih dari pemandangan diluar. Rintik-rintik hujan, perlahan jatuh membasahi tanah. Sedikit demi sedikit air langit itu, kini menderas, beriringan suara guntur yang memekakkan telinga.
Sudut bibirnya terangkat, seolah menikmati pemandangan itu. Ia menggoyang-goyangkan cangkirnya, mengeluarkan uap panas didalamnya.
"Selamat ulang tahun, May," lirihnya.
Zamar meletakkan cangkirnya, meraih ponselnya yang berdering dalam saku celana. Ibu jarinya, tak langsung mengusap layar. Ia memperhatikan nama Sandra, yang begitu pagi menelpon.
"Ada apa?"
"Bisa kita bertemu?"
"Katakan saja. Cuaca sedang buruk diluar."
"Tentang perceraian kita. Apa kau bisa menyediakan tempat tinggal untukku diluar negeri? Aku ingin menetap disana."
"Baiklah. Akan aku atur."
"Selain itu, aku ingin perceraian kita lakukan diam-diam. Aku tidak mau, berurusan dengan media."
"Aku mengerti."
"Terima kasih. Aku tutup."
Seperti orang asing, padahal hubungan pertemanan mereka sebelumnya, sangat akrab. Perasaan yang seharusnya tidak ada, kini menciptakan jarak diantara keduanya.
Hujan semakin deras saja, cuaca yang sebagian orang, memilih untuk bergelut dalam selimut. Dalam cangkir, tinggal menyisakan setengah saja. Roti yang semalam dibeli, belum disentuhnya.
Zamar beranjak, membuka lemari pakaian. Banyak baju wanita menggantung, bercampur dengan pakaian miliknya. Ia memilih kemeja hitam, sama seperti cuaca saat ini.
"Selamat pagi, Tuan."
"Pagi. Kau terlalu tepat waktu, Huan." Zamar melipat lengan kemejanya. "Kau sudah bertemu pengacara?"
"Sudah, Tuan. Saya sudah menyerahkan dokumen perceraian Anda."
"Hmm. Tunggu sebentar!" Zamar kembali masuk dalam kamar.
Dan Huan menatapnya dengan bimbang. Dilema antara janji dan perintah, mana yang harus ia pilih.
Semalam,
"Anggap, kau tidak pernah melihatku, Huan."
"Nona, bisaka Anda kembali? Tuan, sedang mencari Anda?"
__ADS_1
"Untuk apa?" Maya menyeringai. "Aku sudah pernah bilang, jangan pernah ia mencariku."
"Nona. Tolong, beri dia kesempatan untuk memperbaikinya."
"Huan, aku menganggapmu sebagai teman. Tolong, berjanjilah jangan mengatakan pertemuan kita. Tidak ada yang perlu diperbaiki, karena semua sudah selesai. Aku sudah menikah."
"Apa...?"
Malam itu, Huan terperangah, bahkan panggilan Zamar, berlalu begitu saja dipendengarannya. Sampai, tepukan mendarat dipundaknya.
"Pulang nanti, kau ikut mampir bersamaku."
Zamar berjalan lebih dulu, jas berwarna hitam bertengger dilengannya.
"Apa yang harus saya lakukan disana?"
"Berkeliling."
Huan melaju dengan lambat, beberapa kendaraan melaju dengan kecepatan yang sama. Jarak pandang yang pendek, ditambah hujan yang terus mengguyur.
"Tuan. Bagaimana jika nona Maya, sudah menikah?" Huan mencoba membuka pembicaraan, yang sebenarnya tidak seharusnya ia tanyakan.
"Huan. Jangan pernah kalimat itu, keluar dari bibirmu," desis Zamar. "Dia milikku."
"Tapi, bagaimana_"
"Shut up! Damn it!"
"Maafkan, saya, Tuan."
Zamar bersandar, matanya terpejam, embusan nafasnya terdengar berat. Suasana hatinya, kembali memburuk.
Di kantor, ia berjalan dengan wajah menakutkan. Sorot mata tajam dan rahangnya mengetat. Karyawan yang berniat menyapa, memilih untuk menghindar, sebagai jalan aman.
Didepan ruangan, ada dua orang karyawan pria, menunggu. Mereka menundukkan kepala, sebagai tanda hormat.
"Pak sekretaris, kami dari divisi keuangan."
"Besok. Kalian kembali besok saja. Suasana hatinya sedang buruk."
"Baik, Pak."
Huan menutup pintu dari luar. Mungkin, membiarkannya sendiri, itu lebih baik. Bukan tanpa alasan, ia mengatakan itu. Karena, ucapan Maya, sangat mengganggu pikirannya.
Bagaimana jika benar, ia sudah menikah? Huan, mungkin tidak akan sanggup, menghadapi Zamar. Pria yang akhir-akhir ini, selalu emosian. Dan benar saja, suara barang pecah sudah bergema didalam. Satu persatu, suara barang lainnya menyusul.
"Menikah? Coba saja, jika kau berani, Maya?"
Prang, prang...
__ADS_1
Tak ada lagi, barang dalam jangkauan penglihatannya. Zamar bertolak pinggang, lalu berteriak frustasi. Sesak, musabab perkataan Huan, yang tidak bisa ia terima.
"Tuan," Huan sudah berdiri tegap, dengan memperhatikan keadaan ruangan.
"Keluar!" usir Zamar.
"Nyonya, ada di lobby bersama ibu nona Sandra. Saya hanya bisa menahan mereka beberapa menit."
Zamar menarik napas panjang, sebelum menjawab. "Bereskan!" Lalu, keluar ruangan, dan mampir sebentar untuk membanting pintu.
"Kau mau kemana, sayang?" Resti sudah menyambutnya diluar ruangan, tepat didepan pintunya.
"Kalian kemari?" Pertanyaan sang ibu, dijawab dengan pertanyaan.
"Kami ingin membicarakan hal penting. Kamu punya waktu, kan?"
"Baiklah." Zamar melangkah menuju ruang sebelah. Ruangan kecil yang biasa digunakan untuk briefing, dengan para direktur.
"Ini," Resti menyerahkan dua buah tiket penerbangan. "Mama dan ibu mertuamu, sudah memesan tiket bulan madu. Sekalian, kalian melakukan proses bayi tabung diluar negeri."
Zamar menghembuskan napas. Pertanda, ia tidak menyukai ide ini. Orang tua, yang terlalu ikut campur, membuatnya semakin tercekik dengan pernikahan ini.
"Aku tidak bisa. Pekerjaanku banyak. Kami sudah lama menikah, bulan madu sudah tidak perlu lagi. Masalah bayi tabung, aku belum memutuskan."
"Zamar. Mama sudah jauh-jauh hari merencanakan ini. Apa kau akan mengecewakan ibumu?" Kedua manik Resti, menatap iba.
"Nak, ibumu. Sudah bersusah payah mengaturnya untuk kalian. Ia bahkan meminta bantuan teman kami, untuk mereservasi hotel terbaik disana. Ia juga sudah membuat janji temu, dengan dokter di rumah sakit. Jika kalian tidak pergi, akan sia-sia usahanya," tambah ibu Sandra dengan wajah mengiba seperti besannya. Apalagi, menambahkan banyak bumbu perjuangan, seolah mereka melakukannya sendiri.
"Aku tidak akan pergi, Ma. Jangan memaksaku!" Zamar mengembalikan tiket itu. "Kami akan bercerai."
"Apa....?" Ibu Sandra tersentak.
"Zamar," pekik Resti. "Mama tidak akan mengijinkannya. Sandra perempuan baik-baik dan kau sendiri yang memilihnya menjadi istrimu."
"Ma, kali ini, tolong jangan ikut campur lagi. Aku bukan anak kecil, yang harus meminta ijin padamu. Pernikahanku adalah urusan pribadiku."
"Kenapa? Kalian bahkan baik-baik saja selama ini." Resti bangkit, menarik lengan putranya dengan amarah. "Hampir tiga tahun, apa kau belum melupakan perempuan sialan itu?"
"Mama.... "
"Kenapa? Kau tidak suka? Ingat, apa yang dia lakukan pada kita! Mama menerimanya dengan tulus, tidak mempersoalkan asal usul keluarganya, karena Mama pikir, itu bukan masalah. Tapi, kenapa dia malah mempermalukan Mama dengan berselingkuh? Kau tahu, bagaimana bahagianya Mama, mengurus pernikahan kalian? Dan apa, yang ia berikan?"
"Cukup!" Zamar menurunkan intonasinya. "Kalian, sebaiknya pulang!"
"Tidak. Mama tidak akan pergi, sebelum kau mengatakan alasan yang jelas pada Mama."
"Mama, bicarakan ini di rumah. Aku banyak pekerjaan." Zamar sudah melangkah pergi.
"Ingat, Zamar. Menantu Mama, hanya satu. Mama tidak akan menerima wanita manapun, termaksud perempuan sialan itu!"
__ADS_1
🍋 Bersambung