
Di apartemen, Zamar melangkah masuk dengan gontai. Tidak ada tenaga, selain kerapuhan yang ia rasa.
"Aku pikir, dia menerimanya, Huan. Melihat tatapan Mama, aku baru sadar. Ia tidak menyukainya." Zamar menghela napas.
"Aku terpukul, melihat Mama yang sakit dan harus menanggung malu. Ia bahkan, memintaku untuk tetap menerima Maya dan menikah dengannya," lirih Zamar, yang masih terus mengeluarkan beban hatinya. "Dia bahkan menginginkan cucu." Zamar tertawa dengan getir.
"Tuan. Mengenai anak, mungkin dia sudah besar sekarang."
Jantung Zamar, seolah berhenti berdetak. Ia menoleh dengan cepat dan pandangannya berubah sayu. Seolah, baru menyadari sesuatu yang sangat penting, selain terbongkarnya kebohongan sang ibu.
"Tuan."
Zamar, tidak mampu, mengucapkan satu kata dibibirnya. Hanya air matanya, yang sudah meluncur jatuh. Ia menggeleng beberapa kali, tangan kanannya meremas dada, yang terasa sangat nyeri. Oksigen disekitarnya, seolah habis, hingga suara napasnya, terdengar berat dan wajahnya memerah.
"Tuan, Tuan," Huan panik, dengan sigap memegang tubuh Zamar yang goyah.
Seluruh tubuhnya, mendadak lemah, seolah kehilangan penyangga. Tulang-tulangnya, seakan tidak mampu menopang tubuhnya lagi.
"Anakku, Huan. Oh, Tuhan!" Matanya sudah berenang, ia menjatuhkan kepalanya dipundak sang sekretaris. Terisak, disana.
"Tuan, saya berjanji, akan menemukan mereka. Tolong, kuatlah!"
"Aku tidak sanggup, Huan. Maya berjuang tanpaku. Anakku pasti hidup kekurangan dan menderita. Aku tidak sanggup, membayangkannya."
"Tuan, duduklah!" Huan memapah Zamar, menuju sofa.
"Tinggalkan aku, Huan. Aku ingin sendiri."
"Tapi, Tuan_"
"Aku mohon, biarkan aku." Huan mengangguk, meski ragu, ia tetap pergi.
Baru saja, pintu ditutup. Zamar langsung bersujud, dengan jidat menempel dilengannya. Ia hampir mencium lantai dan menangis tanpa suara. Bayang-bayang Maya, yang memohon dan berlutut di kakinya, membuat dadanya seperti diremas, hingga sulit bernapas. Semakin ia menyebut nama Maya, air mata Zamar semakin tumpah. Semakin ia meminta maaf dalam tangisnya, dadanya semakin menghimpit pernapasannya.
"Maaf." Satu kata, yang membuat hati Zamar sangat sakit. Ia menangis pilu, dengan suara serak dan menyayat hati. "Maafkan aku, hiks, hiks."
Lendir, menutupi hidung dan memenuhi tenggorokannya. Ia kesulitan bernafas, ditambah kepalanya berdenyut sakit. Tapi, yang membuatnya tidak mampu bertahan, adalah sakit hati yang bercampur penyesalan, yang seakan merobek dadanya. Kecewa dan marah pada sang ibu dan penyesalan pada Maya.
Zamar bangkit, duduk dengan lutut tertekuk kebawah. Pandangannya buram dan perlahan menghitam.
***
"Tuan."
Suara Huan terdengar samar di pendengarannya. Matanya menyipit dan buram. Bau alkohol, menusuk indra penciumannya.
__ADS_1
"Dimana?"
"Rumah sakit. Anda baik-baik saja?"
Zamar hanya mengangguk lemah dan kembali memejamkan mata.
"Apa saya perlu memanggil pelayan, untuk menemani Anda?"
"Tidak. Pergilah, selesaikan pekerjaan mu. Kau bisa kembali nanti."
"Baiklah. Tuan, tolong hubungi saya, jika Anda butuh bantuan."
"Hmm."
Huan berpamitan, saat membuka pintu, dua anak kecil masuk dalam ruangan, dengan tiba-tiba. Yang perempuan, dengan rambut dikucir, berdiri cukup lama depan pintu. Ia mengedarkan pandangan, seolah sedang mencari seseorang.
"Tante Fila, tidak sini," teriaknya, dengan nada geram. "O..., halo om ganteng!" Ia berlari masuk menghampiri Zamar, dengan menarik tangan anak laki-laki, yang wajahnya mirip dengannya.
Huan tidak jadi keluar, ia kembali masuk dan memperhatikan kedua anak itu dengan intens. Matanya melebar, saat anak laki-laki itu, membalas tatapannya.
"Halo, Aira." Zamar langsung bangkit. "Kalian sedang apa sini?"
"Cali, tante Fila. Tapi, ndak ketemu-ketemu. Om ganteng, sakit?"
"Iya. Om, hanya sakit biasa." Zamar membungkukkan badan, mengulurkan tangan untuk membawa kedua anak itu, naik diatas bed. "Om, kangen," peluk Zamar.
"Kalian kenapa cepat pulang? Padahal, Om sudah datang loh, mau ajak kalian berenang."
"Oh, ayah ada kelja. Minta, cepat-cepat pulang." Khaira mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya yang mini. "Om, Aila mau ulang tahun. Jangan upa, bawa kado, banyak-banyak." Ia memberikan undangan ulang tahun berwarna pink, dengan motif barbie.
"Om, pasti datang."
"Aila, pulang dulu. Mau cali, tante Fila, mana-mana." Ia mengecup pipi Zamar, sampai berbunyi. Zamar terkekeh karena geli dan gemas.
"Khay, tidak mencium, Om?"
"Tidak. Telima kasih, Om." Khay melambaikan tangan dan Zamar semakin terbahak. Sesaat, ia melupakan masalahnya yang pelik, karena kehadiran mereka.
"Huan, antara mereka. Bantu mereka mencari tantenya."
"Baik, Tuan."
Huan memegang kedua tangan mereka, disisi kanan dan kiri.
Kesunyian, kembali menerpa. Zamar masih menatap, pintu yang sudah tertutup rapat. Berharap, kedua anak itu kembali.
__ADS_1
"May, apa anak kita, sudah sebesar mereka?" lirihnya, sembari menatap undangan ulang tahun yang lucu itu. Padahal, mereka ulang tahunnya berdua, namun undangan seakan lebih mengarah pada Khaira. Gadis kecil yang lucu, namun mendominasi. Dan sifat kakaknya, terlihat dingin, namun selalu mengalah.
Zamar menoleh, saat pintu ruangannya dibuka. Huan kembali, seorang diri dan Zamar tampak kecewa.
"Kau sudah menemukan, tante mereka?"
"Sudah, Tuan. Dia nona Saphira, adik dokter Ansel."
"Ah, benar. Aku harus bertemu dengan dokter itu. Apa dia tugas di sini?"
"Saya sempat bertanya pada perawat, katanya dia sudah pindah, dirumah sakit milik orang tuanya."
"Jadi, dia memiliki rumah sakit sendiri? Tapi, kenapa malah bertugas disini."
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi, saya rasa kita bisa bertemu dengannya, diulang tahun anaknya."
"Kau benar. Besok, bantu aku cari kado untuk mereka." Zamar tersenyum simpul. "Kau lihat gadis kecil itu? Dia sangat lucu. Aku bertemu mereka dipantai sekitar Villa."
"Tuan. Maaf, tapi aku merasa aneh dengan mereka."
"Kenapa?" Zamar mengernyitkan alis.
"Mereka berwajah persis dengan Anda."
"Kau bercanda?" Zamar terkekeh. Namun, kembali menatap Huan, dengan pandangan berbeda. "Anak laki-laki itu, sangat mirip dengan Anda, Tuan. Dan maaf, jika saya bertindak terlalu jauh." Huan memberikan dua helai rambut yang panjangnya berbeda.
"Huan, ini sudah terlalu jauh. Meskipun, mirip. Tapi, itu tidak mungkin."
"Tuan, kemiripan wajah, hanya bisa diperoleh dari genetika orang tua. Tidak mungkin, berasal dari orang lain."
Zamar menatap dua helai rambut tersebut. Menimang-nimang, perkataan sekretarisnya yang terdengar logis. Apa salahnya mencoba, meskipun mustahil?
"Baiklah. Lakukan, sesuai keinginanmu." Zamar mencabut helai rambutnya. Secara terpisah, ia memberikannya pada Huan. "Aku ingin hasilnya dalam dua hari, sebelum acara ulang tahun mereka."
"Baik, Tuan." Huan menerimanya dan memasukkan dalam plastik klip secara terpisah.
"Aku rasa, kau ada benarnya," ujar Zamar, "aku bertemu dokter Ansel dipantai. Mereka tidak memiliki kemiripan sama sekali. Aku berpikir, mungkin mereka mengikuti wajah ibunya. Tapi, aku menjadi ragu sekarang, karena ucapanmu."
"Tuan. Nona pernah tinggal dipantai dan membuka kedai, yang menjadi milik dokter Ansel. Lalu, toko roti itu, saya sudah menyelidikinya. Katanya, itu milik dokter Ansel. Semuanya, terlalu kebetulan."
"Kau benar. Di dunia ini, tidak ada kebetulan secara berturut-turut, kecuali takdir. Aku ingin tahu, semua tentang dokter Ansel, hari ini, Huan."
"Baik, Tuan. Hari ini, akan ada di meja, Anda."
🍋 Bersambung.
__ADS_1
.