Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta
Bab 46. Momen ulang tahun


__ADS_3

Zamar membeku ditempat, pemandangan yang membuat seluruh pembuluh darahnya berdenyut. Wanita yang ia sia-siakan, tiga tahun lalu, tertawa dan dirangkul oleh laki-laki lain. Mereka seperti keluarga, anak-anak, bergelayut manja pada pria itu. Telinga Zamar, memekak kesakitan, saat mereka memanggil ayah kepadanya.


Saat putri kecilnya, memanggil. Semua sorot mata tertuju pada Zamar. Maya melebarkan mata, terlihat shock. Pria yang berperan sebagai ayah anak-anak, membawa mereka dibelakang tubuhnya, seolah melindungi dari Zamar.


"Om ganteng. Bawa hadiah?" Putri kecil yang sangat cantik dan baru Zamar sadari, dia memang memiliki kemiripan dengan wajahnya. Hari ini, dia seperti princes dengan gaun putih dan rambut disanggul.


"Om, bawa banyak."


Zamar langsung memberikannya dua bingkisan kado sekaligus. Aira, memeluk Zamar dan mendaratkan kecupan dipipi. Saat itu, kedua mata Zamar memanas. Jantungnya berdegup. Ia membalas pelukan sang putri cukup lama. Menghirup aroma tubuhnya, yang wangi seperti bayi.


"Papa, merindukanmu," bisik Zamar dan mampu terdengar oleh Aira, yang kini menatapnya bingung.


"Ini untuk, Khay." Zamar beralih pada pria kecil, yang wajahnya seperti fotokopi dirinya, saat masih berusia putranya. Ia memberikan dua bingkisan kado, yang diterima dengan girang dan memberikan pelukan sebagai balasan.


"Sayang, ayo. Sudah waktunya," panggil Ansel, yang langsung datang menarik tangan, kedua anak itu. Dan Zamar, tidak terima. Ia menahan tangan Ansel, dengan wajah menyiratkan permusuhan.


"Tuan Zamar, ini hari bahagia, untuk mereka." Zamar mengendurkan genggaman tangannya dan membiarkan mereka pergi.


Tepat didepan wajahnya, kedua anaknya dan Maya bernyanyi bersama. Yang tidak ia terima adalah kehadiran Ansel disana, yang sungguh mengganggu pemandangan.


"Tiup lilinnya, tiup lilinya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga.... "


Mereka bersorak, saat Aira dan Khay, berlomba meniup lilin. Tepuk tangan menggema, dari anak-anak yang hadir. Aira dan Khay, mendapat kecupan dari orang tua Ansel, sebagai ucapan selamat.


Tubuh Zamar, seolah lumpuh. Matanya yang memanas kini mulai basah. Ia hanya bisa mematung dan mengeratkan kepalan tangannya.


"Ayah, Aila mau cium."


Ayah, ayah, ayah. Zamar geram. Kata-kata, yang begitu mengganggu dan membuat hatinya memberontak.


Maya dan Ansel, membantu Aira dan Khay memotong kue. Potongan kue pertama diberikan pada Maya.


"Ini untuk, Mami." Maya sedang tidak berkonsentrasi. Semua senyumannya lenyap berganti dengan kecemasan.


"Terima kasih, Sayang." Maya tersenyum sekilas. Tatapan matanya, masih tertuju pada Zamar.

__ADS_1


"Om ganteng," panggil Aira dengan melambaikan tangan. Dan saat itu, Maya memilih mundur. "Ini untuk, Om ganteng."


"Terima kasih, sayang."


Aira memberikan potongan kuenya, kepada Opa dan Oma, yang suasana hatinya, sama dengan Maya dan Ansel saat ini. Hari bahagia, yang suasananya mendadak suram untuk mereka,


"May," panggil Zamar. "Aku ingin bicara." Zamar menatap dengan memohon.


"Tidak ada yang perlu, kita bicarakan," sarkas Maya.


"Aku mohon, sebentar saja." Zamar mendekat, yang membuat Maya melangkah mundur. "Kau mau aku memberitahu mereka, aku ayahnya?" ancam Zamar, dengan nada serius.


"Kau gila!" Maya melotot dengan geram. "Sudah tiga tahun dan kau ingat, kau yang membuang kami. Kau yang tidak mengakui mereka." Maya menjawab dengan setengah berbisik.


"Sebaiknya, kita membicarakan ini berdua!" Ansel datang menghadang didepan Zamar.


"Ini bukan urusanmu. Minggir!"


"Anda mau membuat keributan, ditengah suasana ini?"


Mereka berdiri, di halaman rumah. Zamar bertolak pinggang, seolah menantang. Sementara Ansel, memilih duduk dibangku kayu.


"Duduklah. Aku tahu, Anda memiliki banyak pertanyaan. Aku bisa menjawabnya untukmu. Tapi, aku harap, Anda tenang dan tidak mengganggu untuk hari ini."


Zamar yang keras kepala, masih bertahan dengan posisinya. Ia tidak suka diperintah.


"Aku kemari, bukan untuk basa-basi dokter Ansel. Aku datang menjemput anak-anakku dan juga Maya."


"Setelah, tiga tahun?" sarkas Ansel, yang mendapat pelototan tajam dari Zamar.


"Itu bukan urusanmu!"


"Aku bertemu Maya, tiga tahun lalu, di pesisir laut."


"Laut?" Zamar mulai penasaran dan duduk disebelah Ansel.

__ADS_1


"Iya, tempat dimana Anda membangun Villa." Zamar tertegun dan membiarkan Ansel melanjutkan. "Dia membuka kedai dan aku menjadi pelanggannya." Ansel menghela napas berat.


"Saat matahari tenggelam, aku melihat Maya menangis dan berteriak-teriak. Ia menyebutkan namamu dan memakinya. Aku pikir, dia akan berhenti, setelah puas. Tapi, tidak. Ia masuk dalam air dan berenang."


"Dia...." Kata-kata Zamar menggantung. Karena, air mata, mendahului kalimatnya.


"Tidak. Ia kembali naik, setelah kedinginan."


"La-lalu?"


"Malam itu, aku belum pulang. Karena, melupakan sesuatu. Dan saat kembali, aku menemukannya, didalam laut. Dia tenggelam."


"Ap-apa?" Zamar shock. Ia bahkan lupa bernafas.


"Benar. Dia bunuh diri. Maya mengganggap hidupnya sudah selesai. Ia tidak memiliki siapa-siapa, untuk mendukungnya." Ansel menyerong, menatap Zamar.


"Dia tidak pernah mengatakan apapun kepadaku. Alasan, kalian berpisah. Selama tiga tahun, dia berjuang untuk bangkit. Dan hari ini, tiba-tiba kau datang? Maaf, aku harus mengatakan ini. Tapi, semua yang terjadi tiga tahun lalu, tidak bisa kau perbaiki lagi."


Zamar tertunduk, dengan kepala bersandar di kedua tangannya yang tertekuk diatas lutut. Ada suara isakkan kecil, terdengar.


"Aku memang salah, karena lebih mempercayai orang lain. Tapi, aku tidak ingin kehilangannya." Zamar mendongak. "Mereka anakku dan aku tidak rela, mereka memanggilmu ayah."


"Zamar," Ansel memperlihatkan foto bayi, pada ponselnya. "Mereka sudah memanggilku ayah, saat mereka mulai berbicara. Kini kau datang, untuk mengatakan kau ayah kandung mereka? Apa kau ingin membuat mereka bingung, diusia mereka saat ini? Apa kau tidak tahu, dampak apa yang terjadi pada psikologis mereka?"


Zamar, tidak bisa berkata-kata dengan rentetan pertanyaan yang seperti anak panah yang langsung menembus jantungnya. Ia seperti raja yang tersudut, diatas permainan papan catur.


"Aku bukan pria yang mencari keuntungan dengan situasi kalian. Tapi, aku berharap, kau memikirkan anak-anak. Jika kau diposisi mereka, apa kau tidak bingung, jika memiliki dua ayah? Aira mungkin akan menerima dengan sifatnya yang periang. Tapi, tidak dengan putramu. Dia memiliki sifat berbeda. Dia tertutup dan kau tidak bisa mengetahui, apa yang ia pikirkan," lanjut Ansel.


"Pikirkanlah, Zamar. Kau bisa mencariku jika ingin bertemu dengan kedua anakmu. Tapi, tidak dengan Maya. Aku tidak mau dia pergi lebih jauh, karena menghindarimu."


Ansel bangkit, meninggalkan Zamar yang terpaku. Pria itu, sama sekali tidak membatah sepatah kata pun.


"Tuan," Huan menghampiri.


"Aku ingin pulang." Zamar langsung bangkit. Ia berjalan dengan tatapan kosong. Semua ucapan Ansel, begitu diterima oleh logikanya. Apa ia harus menerima keadaan ini?

__ADS_1


🍋 Bersambung


__ADS_2