Cantik Demi Keluarga

Cantik Demi Keluarga
Teman Zio


__ADS_3

Suasana di dalam mobil terlihat sunyi. Dua orang dewasa hanya diam, entah pikiran dan hati mereka.


"Sumpah, canggung banget satu mobil sama Mas Zio. Dan ... dan jantungku kenapa berdetak lebih cepat gini. What happened to me? Oh, apa jangan-jangan mungkin karena aku gugup. Huft, ini adalah pertama kalinya aku ke tempat umum tanpa menggunakan masker"


Batin Yana terus berbicara mewakili mulutnya yang sedang dalam mode silent, begitupula dengan Zio.


"Anda mau ke mana di Mall nanti?"


Tanya Zio sambil tetap konsentrasi ke jalanan dalam mengemudikan mobil bewarna putih miliknya itu.


Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menemani Zio. Sebenarnya, ada suara ocehan si bayi kembar di bagian tengah mobil.


"Ya-Yana?"


Kini, pangggilan nama oleh Zio berhasil membuat hati Yana berhenti bicara.


"Iya, Pak?"


"Pak?"


"Iya"


Wajah Zio terlihat sangat kesal setelah mendengar Yana memanggil dirinya dengan sebutan 'Pak'.


"Turun, kita sudah sampai. Kamu masuk duluan saja, dan ingat ini baik-baik. Tunggu aku di toko Gremedian, jangan kemana-mana sebelum aku datang. Aku akan parkir mobil dulu"


"Iya, Pak"


Tanpa sengaja, Zio memukul dengan keras setir mobilnya.


"Enak saja, dia panggil aku Pak? Emangnya aku setua itu ya?" Zio berbicara sendiri sambil sesekali memukul lagi kemudi setir, sepertinya Zio lupa jika dirinya berstatus sebagai Bapak dari dua anak sekaligus, hehehe.


***


Tepat di depan toko buku yang disebut Zio tadi, Yana duduk di kursi dan menghadap ke arah si bayi kembar.


"Ya Allah, kalian lucu banget sih. Huft, pengen banget Bunda bawa culik dan bawa pulang kalian berdua ke rumah Tante"


"Dasar tua"


Yana terkejut mendengar suara seseorang tepat di samping telinganya, posisi yang sangat dekat.

__ADS_1


"Pak Zi-zio? Kapan datang?"


"Please, don't call me like that" Zio tidak bisa menahan amarah nya hanya karena panggilan Pak oleh Yana.


"Apa maksud Bapak?"


"Huft, gue benci lo panggil gue seperti itu"


"Seperti apa maksudnya? Oh, karena aku panggil Anda, Bapak?"


"Stop it"


Yana berusaha menahan tawanya. Sebenarnya, dalam hatinya merasa sangat gugup.


"Tenang, Yana. Everything will be fine. Lihat! Tidak ada yang memperhatikan dirimu" Yana tetap menunjukkan senyuman manis di bibirnya.


"Yana?"


"Iya, Pak"


Tatapan tajam Zio menghunus tepat di jantung Yana.


"Ehem, maaf M-as Zio"


"Tadi, Mas Zio mau ngomong apa?"


"Hm, kamu nggak pengen jadi cantik?"


"Sebenarnya, aku ingin sekali berubah Pak, tapi hanya demi keluarga ku. Aku nggak mau, keluarga ku selalu mendapatkan pertanyaan dan pernyataan yang sama tentang diriku yang begini, dan jauh dari kata cantik. Huft, mereka selalu membandingkan diriku dengan kakakku, aku sebel banget deh"


Zio memperhatikan dengan jelas wajah Yana yang terlihat ... manis di matanya. Ada lesung pipit di kedua pipi Yana yang sedikit chubby.


"Ke-kenapa Mas lihatin aku kayak gitu? Ada sesuatu ya di wajahku?" Yana langsung panik dan meraba wajahnya. Dia yakin ribu persen jika sebelum benar-benar masuk kedalam mobil, dirinya sempat berkaca terlebih dahulu di kaca spion dan semuanya baik.


"Tidak apa-apa"


Mereka diam kembali.


"Hm, kita mulai jalan-jalan aja gimana sekarang?"


"Boleh"

__ADS_1


Yana menganggukkan kepalanya. Dia ingin mendorong kereta bayi, tapi Zio ingin melakukan hal yang sama. Sehingga, mereka berdua kembali bersentuhan.


Zio dan Yana hanya saling memandang mata mereka masing-masing.


"Ehem" Untung saja Yana cepat sadar dengan situasi itu.


"Ma-maaf. Hm, lebih baik kamu bawa tas bayi saja" Ujar Zio.


Akhirnya, mereka menikmati jalan-jalan bersama dari toko satu ke toko lainnya. Tanpa mereka sadari, Zio akan meminta pendapat Yana dan begitupula sebaliknya.


"Menurut kamu ini lucu nggak?" Tanya Zio sambil menunjukkan sepasang baju kembar dengan motif sama tapi berbeda warna.


"Bagus banget Mas, wah Faza dan Zafa pasti lucu dan ganteng banget kan?"


"Iya"


Zio menatap heran wanita disampingnya. Setiap dia berbicara, Yana selalu menundukkan wajahnya. Entah ada apa di lantai, memangnya wajahnya kurang oke ya sama si lantai, wkwkwk.


"Kita makan siang dulu ya"


"Iya, Mas"


Zio meletakkan beberapa kantong belanja mareka. Untung saja kantong belanja untuk kebutuhan sehari-hari sudah Zio taruh duluan di bagasi mobil.


"Kamu boleh pesan apa saja" Ujar Zio sambil menunjukkan buku menu di restoran masakan jepang.


"Hai, Bro"


Tepukan di bahu Zio dari arah belakang, berhasil membuat Zio terkejut.


"Anj* baru balik Indo?" Zio memeluk erat sahabatnya yang telah lama tinggal di luar negeri sejak mereka lulus sekolah menengah atas.


"Yap, kemarin gue baru balik. Biasa, nyokap nanyain mulu, kapan sih putra sulung ku menikah, ishhh"


Renald mengusap kasar rambutnya.


Zio tidak menyadari raut wajah Yana yang pucat dan menyembunyikan dirinya di balik buku menu.


"Lo, makan siang sama siapa nih? Eh, ini anak lo semua, Zi?" Tanya Renald saat melihat stroller bayi di sampingnya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Jangan lupa Like Comment Favorite ya 😘


🌺🌺🌺


__ADS_2