Cantik Demi Keluarga

Cantik Demi Keluarga
Pinangan


__ADS_3

Hampir tiga hari, Yana dirawat di rumah sakit. Untung saja, keadaanya cepat pulih sebab dia dipaksa makan banyak oleh keluarganya.


Hari minggu adalah hari yang sangat menyenangkan bagi Yana. Dia bisa melanjutkan kegiatan olahraga, tapi dia mulai mengubah porsi makan dan durasi olahraga.


"Mau kemana, Dek?" Tanya Zara saat melihat adiknya sudah berpakaian dengan rapi dan terlihat segar, sepertinya sudah mandi.


"Ke taman, Kak"


"Ngapain?"


"Lari pagi bentar"


"Oke, ingat ya. Jangan lama-lama larinya, lari di tempat aja. Tuh di rumah depan kan enak, nggak perlu jauh. Kamu itu baru sembuh"


"Huft, iya deh. Aku lari di tempat di depan rumah"


Zara tersenyum geli saat melihat wajah cemberut adiknya.


"KAK"


Tiba-tiba saja, Yana berteriak cukup keras memanggil kakaknya.


"Apaan sih?"


Zara terkejut mendengar suara teriakan adiknya.


"Ada Bang Ahlan tuh"


"Assalamualaikum" Ucap laki-laki tampan yang biasa dipanggil Bang Ahlan. Dia masih duduk di jok sepeda tepat di depan pintu gerbang yang belum dibuka oleh pemilik rumah.


"Wa-waalaikumsalam" Zara tersenyum malu sambil membuka kunci gembok pintu pagar rumahnya. "Kenapa nggak kamu buka pintunya?" Tanya Zara kepada adiknya yang masih asyik lari di tempat.


Sayangnya, Yana masih diam dan tetap melakukan kegiatan lari.


"DEK?" Zara berteriak saat sepeda Bang Ahlan mulai masuk ke dalam halaman rumahnya.


"Hm, sepertinya Yana pakai headset deh"


Dan dugaan Bang Ahlan memang benar, Yana asyik lari di tempat sambil menggunakan headset di kedua telinganya.


"Mas Ahlan masuk dulu aja ya" Ujar Zaya kepada laki-laki yang masih berdiri di sampingnya.


"Baiklah"


Setelah Ahlan masuk ke dalam rumah, Zara langsung berjalan cepat menuju adiknya.


"DEK YANA" Zara berteriak tepat di telinga adiknya.


"Ish, apaan sih Kak" Yana menekan tombol pause di layar handphone nya yang dia letakkan di saku celananya.


"Buatin teh hangat dua"


"Kenapa aku? Kan Bang Ahlan tamunya Kakak"

__ADS_1


"Ish, sana cepet"


Untung saja Yana sudah selesai olahraga pagi meski hanya lari di tempat saja, dia langsung pergi meninggalkan kakaknya sendirian.


***


Setelah membuat minuman dan makanan ringan untuk tamu kakaknya, Yana langsung membersihkan diri untuk melanjutkan kegiatan rutinitas di hari libur.


"Hah, seger banget"


Yana menggosok rambut basah dengan menggunakab handuk kecil sambil duduk di depan meja kerjanya.


"Hm, desain baju Bu Yasmin hampir selesai"


Wanita itu mulai menggunakan deodorant dan hand and body lotion sebagai perawatan diri yang rutin dia gunakan, kecuali pada wajahnya. Sebenarnya, dia pernah menggunakan beberapa produk kecantikan untuk merawat wajahnya yang berjerawat. Namun, bukan sembuh melainkan wajahnya menjadi merah dan bekas jerawatnya tidak bisa hilang.


"Huft, semangat Yana. Kamu pasti bisa"


Yana mulai menggerakkan pensil gambar pada lembar kertas bewarna putih, dengan iringan lagu kesukaannya.


Tok tok tok


"APA?" Teriak Yana dengan kesal, karena telah mengganggu konsentrasi untuk segera menyelesaikan desain baju pesanan Bu Yasmin.


"BUKA PINTU"


"Kak, jangan teriak gitu. Malu"


Yana bingung, tumben banget ibunya menegur kakaknya karena berteriak. Biasanya, Bunda Aisyah hanya tersenyum dan menggeleng kepala saja.


"Apaan sih, ganggu banget" Gerutu Yana setelah pintu terbuka.


"Tuh, ada tamu. Buatin minuman sama camilan, cepetan"


"Lagi? Kan kakak punya tangan, buat aja sendiri"


"Kamu kan tahu, kakak nggak bisa bedain mana garam sama gula. Udah sana bikin minuman, jangan lupa pakek kerudung"


Zara langsung menghilang di balik pintu sebelah kamar Yana.


"Dasar, nyebelin"


Yana segera mengenakan kerudung instan bewarna coklat, untung saja dia mengenakan celana dan kaos panjang.


***


"Nah, ini anak saya yang paling cantik dan baik" Ujar Bunda Aisyah saat melihat putrinya meletakkan minuman dan makanan di meja ruang tamu.


"Alhamdulillah, kita bisa segera menjadi keluarga ya"


Yana langsung mengangkat kepalanya dan melihat siapa pemilik suara yang dia kenal.


"Bu Yasmin?" Mata Yana langsung melotot melihat pelanggan nya bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Yana"


"Wa-waalaikumsalam"


Yana mencium punggung tangan Bu Yasmin dan laki-laki paruh baya yang duduk di sebelahnya.


"Desain baju pesanan Bu Yasmin, masih belum selesai. Insyaallah, besok sudah bisa saya tunjukkan kepada Bu Yasmin"


Mama Yasmin tersenyum melihat raut wajah Yana yang ketakutan.


"Iya, tidak apa-apa. Saya ke sini bukan untuk ambil pesanan baju"


"Terus, mau ngapain Bu? Aw" Yana meringis kesakitan di pahanya akibat cubitan maut dari ibunya. "Sakit, Bun"


"Saya mau melamar kamu untuk anak saya"


Yana terkejut setelah mendengar ucapan dari Bu Yasmin tentang pinangan. Dia ingat, jika Bu Yasmin sudah melamar dirinya sebanyak dua kali. Meski, pinangan kali ini secara resmi karena langsung membicarakannya tepat di hadapan orang tuanya.


"Kamu belum cerita ya tentang persahabatan kita?" Tanya Bu Yasmin kepada Bunda Aisyah yang juga tersenyum melihat raut wajah putri bungsunya.


"Belum, Yas. Nanti aku akan cerita kepada putriku ini"


"Maaf, tadi saya masih ada keperluan"


Tubuh Yana menjadi tegang untuk kedua kalinya setelah mendengar suara yang sangat dia kenal sejak masa putih abu-abu dulu.


"Kak Zio?"


Tanpa sadar Yana memanggil nama laki-laki yang baru saja duduk di samping suaminya Bu Yasmin.


"Anda kenal saya?" Tanya Zio dengan kerutan di dahinya. Dia merasa tidak kenal dengan perempuan berjerawat di depannya itu.


Hati Yana sangat sakit saat Zio memang tidak mengingat dirinya.


"Kalian sudah saling kenal ya?"


"Tidak"


"Ya"


Yana dan Zio kompak menjawab pertanyaan Bu Yasmin bersamaan, namun jawaban yang berbeda.


❣🌼❣


Hai, jangan lupa ya Like Comment Favorite novel ini. Hm, boleh banget dong kalian mampir di karyaku yang lain


😍 MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA


😃 AYAH UNTUK ARLAN


Terimakasih


L0ve Macan

__ADS_1


🌼❣🌼


__ADS_2