
"Ehem"
Yana langsung melihat ke arah sampingnya. Wanita cantik dengan baju yang sangat terbuka, pikirnya.
"Lo dicari Bu Bos" Ucapnya tanpa melihat Yana, melainkan kuku cantiknya yang sudah dia poles dengan warna pink.
"Heh, kalo ngomong lihat orangnya dong, Ti"
"Nanas ga komplen, kenapa lo yang sewot, huh? Dan stop panggil gue Ti, nama gue Tia"
Perempuan dengan pakaian one piece itu menatap tajam Dina yang juga ikut melotot dan tersenyum sinis.
"Oke, gue ga bakal panggil lo Ti, tapi gue ganti panggilan khusus buat lo. Ehem, Ti-kus, hahahaha"
Dina tertawa terbahak-bahak, dia sangat senang dengan nama panggilan untuk asisten pribadi, Bu Siska, atau biasa mereka panggil, Bu Bos.
"Wah, kurang ajar banget sih lo"
Tia langsung menjambak rambut Dina, begitupun sebaliknya.
"Aw, rambut gue" Dina berteriak dan balas menjambak rambut Tia dengan kuat, mungkin beberapa helai rambut itu sudah dia cabut.
"Sial, rambut gue" Teriak Tia saat melihat helaian rambutnya jatuh di lantai.
Suasana cafe menjadi ramai, dan para pengunjung lebih senang meneriaki Dina dan Tia untuk terus saling menjambak.
"Ya Allah, berhenti" Yana bangun dari posisi duduknya dan berusaha melerai pertengkaran teman satu kantornya itu.
"Anj*, kuku gue rusak" Kuku cantik Tia patah saat menjambak rambut Dina.
"Berhenti, Dina lepas" Yana berusaha melepas tangan sahabatnya di rambut Tia.
"Heh, lepasin rambut gue" Dina menatap sengit wanita yang dia ketahui adalah salah satu teman masa SMA yang pasti telah menyakiti hati Yana.
"Lepas rambut gue"
Manajer cafe tersebut juga ikut melerai pelanggan yang sangat dia kenal, Dina adalah putri dari pemilik cafe.
"Mbak Din, lepas dulu rambutnya" Ujar Manajer sambil berusaha membujuk Dina.
"Heh, lo bilang dulu ke Ti-kus ini, LEPAS"
"Apa lo bilang?"
Plak
Suara tamparan tendengar cukup keras. Bukan Dina sebagai korban, melainkan Yana. Gadis berjilbab itu merasakan perih di pipi kirinya.
"Anj*, tangan gue ternoda, iuh"
Tia langsung pergi begitu saja, sebelumnya dia menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Awas lo berdua" Sebelum keluar dari cafe, Tia menunjuk ke arah Dina dan Yana.
Yana meneteskan air matanya, hatinya terasa sangat sakit setelah mendengar ucapan Tia saat dia telah menamparnya. Bukan permintaan maaf yang Yana dapatkan, tapi hinaan.
"Yana, kamu gapapa?"
__ADS_1
Setelah merapikan rambut dan mengucapkan permintaan maaf kepada para pelanggan di cafe milik keluarganya, Dina memeluk tubuh Yana yang bergetar.
"A-aku ke butik dulu, Din"
***
Ring
Lonceng berukuran kecil terdengar saat Yana membuka pintu butik.
"Mbak Yana sudah ditunggu Bu Siska di ruangan" Ujar Fani, salah satu asisten Bu Siska selain Tia.
"Terimakasih, Fani"
"Sama-sama, Mbak. Oh itu, pipi Mbak Yana merah, mau saya ambil kan salep atau air hangat?"
"Tidak perlu, saya langsung naik ya. Terimakasih atas bantuanya"
Fani menganggukan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya untuk meninjau beberapa produk terbaru di butik.
"Huft, Bismillah"
Yana menarik nafas dan mengeluarkan nya perlahan. Semoga Bu Siska tidak menyampaikan kabar buruk hari ini, sudah cukup dia mendapatkan tamparan dari Tia yang berhasil membuat perasaannya buruk, sangat.
Tok tok tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, masuk"
"Siang, Yana. Silahkan duduk"
Yana duduk di hadapan Bu Siska dan wanita itu.
"Jeng, Yana adalah salah satu desainer terbaik di butik. Insyaallah rancangan baju yang Jeng Yasmin inginkan, pasti sangat memuaskan"
"Salam kenal, Ya-na. Subhanalla"
Bu Siska dan Yana terkejut melihat wanita itu langsung berpindah tempat duduk di samping Yana.
"Akhirnya, Mama bisa bertemu denganmu lagi, Bidadari Cantik"
"Ehm, bidadari cantik? Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Bu?" Yana tersenyum canggung saat dirinya di panggil 'Bidadari Cantik', kedua pipinya merah merona.
"Iya, nama kamu Yana ya? Nama yang cantik"
"Terimakasih, Bu"
"No, panggil Mama"
"Jeng Yasmin kenal dengan Yana?" Tanya Bu Siska saat melihat teman baiknya yang tidak canggung untuk duduk di sebelah Yana.
"Kenal sih nggak, tapi aku pernah bertemu dengan wanita cantik ini" Mama Yasmin menyentuh dengan lembut tangan kanan Yana.
"Bertemu di mana ya, M-ma?"
"Hm, ceritanya nanti aja ya. Kamu punya pacar?"
__ADS_1
"Yana tidak pernah pacaran"
"Wah, syukurlah"
"Sudah menikah?"
Yana hanya menggeleng kepalanya dan tersenyum malu.
"Alhamdulillah, Yana mau ya nikah sama putra Mama"
Ungkapan Mama Yasmin berhasil membuat Yana terkejut setengah mati, begitupula Bu Siska.
"Hah?"
"Iya, Yana menikah dengan putra Mama. Huft, Mama ingin Yana saja yang menjadi menantu Mama, tidak mau wanita yang lain"
"Ta-tapi, Yana tidak cantik, Ma" Yana menundukkan wajahnya. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dan membuatnya malu nanti.
"Kata siapa Yana tidak cantik, hm? Mama tidak pernah melihat orang dari penampilannya, tapi hatinya"
Ungkapan Mama Yasmin berhasil membuat Yana mengangkat kepalanya.
"Wajah Yana jelek, banyak jerawat, berminyak, terus ..."
Belum selesai Yana mengutarakan semua hal yang selalu diucap oleh orang-orang, Mama Yasmin memeluk Yana.
"Yang penting itu, hati Yana yang cantik. Kalau cantik dari segi penampilan, itu adalah bonus"
Yana mendengarkan dengan seksama ucapan Mama Yasmin.
"Sebenarnya, Yana ingin berubah. Tapi, Yana ga mau berubah hanya karena ucapan orang lain"
"Yana boleh berubah, karena ingin membahagiakan diri sendiri. Yana jangan pedulian ucapan orang lain, cukup lakukan apa yang hati kamu inginkan"
"Makasih, Ma. Ehem, Yana sudah mau berubah kok. Setiap pagi olahraga sama kakak Zara, biar Yana tidak dibilang gendut lagi" Nada suara Yana seperti anak kecil yang berhasil melakukan sesuatu, polos dan lucu.
"Wah, bagus itu. Olahraga kan bagus, biar tubuh kita sehat"
Yana menganggukan kepalanya berulang kali sambil tersenyum bahagia.
"Nah, apa Yana mau menerima pinangan Mama untuk putra Mama?"
Senyum Yana langsung menghilang begitu saja saat Mama Yasmin kembali bertanya tentang pernikahan dengan putranya.
❣❣❣❣❣
Hai, selamat membaca karya terbaru ku ini ya
Jangan lupa juga mampir di karyaku yang lain
Oh ya, Like Comment Favorit dari kalian membuat ku lebih semangat 😃
Thank you all so much 😚
L0ve Macan
😊😊😊☺☺
__ADS_1