
"Hm, dari dulu kamu seperti ini?" Tanya Zio dengan tatapan masih berpusat pada wanita berhijab yang sedang duduk di hadapannya.
"Maksudnya?"
"Wajah itu ... merah dan bentuk tubuh yang jauh dari tipe ku"
Yana tidak menyangka, jika Zio memindai dirinya dan memberikan penilaian terhadap wanita hanya berdasarkan penampilan dan bentuk fisik.
"Yah, ini merah karena bekas jerawat dan ... kalau bentuk tubuh sih ... aku masih proses untuk menurunkan berat badanku"
Walaupun begitu, Yana tetap menjelaskan bagaimana penampilannya dengan senyuman manis di bibirnya, dan lesung pipit di kedua pipinya. Wajah Yana memang sangat imut dan ... cantik.
"Heh, lo yakin semua itu akan berubah, huh? Sorry, gue nggak bisa hidup satu atap dengan wanita seperti ..." Zio melanjutkan akhir kata dengan tatapan yang terlihat sangat benci kepada Yana.
"Hm, tidak apa-apa. Aku tahu itu. Sebaiknya, kamu sendiri yang bilang kalau kamu menolak perjodohan ini"
Yana langsung pergi begitu saja, dia menghapus air matanya yang jatuh begitu saja.
"Dasar, laki-laki nyebelin. Aku benci mereka. Aku benci cinta pertamaku"
Perempuan itu menutup pintu kamarnya dengan keras, sehingga para tamu terkejut.
Brak
"Itu, Yana?" Tanya Mama Yasmin saat melihat pintu kamar yang tidak terlalu jauh dari penglihatannya, ditutup oleh seseorang.
"Ehem, sepertinya Yana tidak baik-baik saja. Aku lihat Yana dulu ya, Yas?"
"Oh, oke, Ai"
Bunda Aisyah langsung berjalan menuju kamar anak bungsunya.
Tok tok tok
"Yana? Adek? Buka pintunya, Sayang"
Pintu itu masih tertutup rapat oleh penghuni kamar.
"Nak Zio? Kalian berdua tadi bertengkar ya?" Bunda Aisyah langsung bertanya kepada laki-laki yang baru datang dari arah belakang rumahnya.
"Oh, hm, itu ... ada yang ingin saya bicarakan"
__ADS_1
"Oke, kamu duluan saja ya ke depan. Sepertinya, putri Tante sedang mode manja"
Zio langsung pergi begitu saja menuju ruang tamu, di sana Mama Yasmin dan Papa Akbar langsung menata tajam ke arah putra sulung mereka.
"Apa, Ma?"
"Kamu apain calon menantu Mama, huh?"
"Tidak apa-apa, Yas. Putriku itu memang baru keluar dari rumah sakit, jadi mungkin sekarang kurang enak badan" Ujar Ayah Ahmad agar suasana tidak lagi mencekam.
"Ehem, putriku sedang tidak enak badan. Maaf, Yas, Bang Akbar" Ucap Bunda Aisyah setelah kembali dari depan pintu kamar pintunya yang masih tidak dibuka oleh Yana.
"Benarkah? Yana pasti kesakitan gara-gara kamu, iya kan? Jawab!" Tatapan maut Mama Yasmin langsung tertuju kepada Zio.
"Nggak kok, aku nggak berbuat jahat kepada wanita itu"
"Wanita itu? Namanya, Yana, Yana Azura. Ingat baik-baik nama itu" Mama Yasmin menekankan nama Yana kepasa Zio.
"Aduh, Ai. Maafin putra sableng ku ya, harap maklum. Hm, sepertinya dia lupa kontrol, hehehe"
"Mama" Zio membuka lebar matanya, dia tidak terima disebut sableng, mana mungkin laki-laki paling tampan dan baik, mendapat panggilan sableng.
"Huft, Ma, Pa, Om, Tante, maaf saya tidak bisa menerima perjodohan ini"
"APA? ZIO" Mama Yasmin bangun dari posisi duduknya.
"Mama, tenang" Papa Akbar berusaha menenangkan macan betina kesayangannya, hehehe.
"Anak kamu, Pa. Ish, pokoknya Mama cuma mau Yana menjadi menantu Mama. Titik"
"Aku nggak mau, Ma. Dia bukan tipe aku"
"Heh, apa kamu mau bilang kalau tipe kamu adalah wanita pengkhianat itu, iya? Jawab, Zio!"
"Ma, jangan bilang gitu. Meski begitu, dia tetap ibu dari anak-anak ku"
"Dia bukan ibu, karena seorang ibu tidak akan meninggalkan anak-anak nya hanya karena karir? Model?"
Bunda Aisyah dan Ayah Ahmad sudah tahu jika Zio adalah duda yang memiliki anak.
"Bun? Bagaimana ini?" Ayah Ahmad khawatir pertengkaran ibu dan anak di rumahnya dapat mengganggu tetangga. Karena jarak rumahnya dengan rumah yang lain, lumayan dekat.
__ADS_1
"Ehem, Bunda bingung. Ayah tahu sendiri kan gimana karater Yasmin dulu, Bunda tidak menyangka semua itu belum hilang" Bunda Aisyah malah tersenyum sambil meningat masa-masa persahabatan nya dengan Mama Yasmin.
"Tapi, ..."
Prang
Semua orang terkejut mendengar suara yang berhasil membuat suasana di ruangan itu menjadi sunyi.
"Ma-maaf, wajan penggorengan jatuh"
Kak Zara meminta maaf kepada tamu adiknya. Sebenarnya, dia sengaja menjatuhkan wajan agar peperangan Mama Yasmin dan Zio, berhenti.
"Kakak, lainkali hati-hati ya"
"Iya, Bunda. Maaf semuanya"
Kak Zara langsung pergi menuju dapur, untuk melanjutkan aksi untuk mendengarkan perbincangan mengenai perjodohan untuk adikknya. "Huft, untung saja bukan gue yang dijodohin sama tuh cowok. Mas Ahlan, aku akan selalu cinta kepadamu"
Mama Yasmin masih berusaha menenangkan emosi jiwa yang sempat keluar karena ulah putranya.
Tok tok tok
"Permisi. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Mereka terkejut karena dua wanita muda yang sedang berdiri dekat pintu rumah sambil memegang stroller bayi.
❣🌼❣
Hai, jangan lupa ya Like Comment Favorite novel ini. Hm, boleh banget dong kalian mampir di karyaku yang lain
😍 MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA
😃 AYAH UNTUK ARLAN
Terimakasih
L0ve Macan
🌼❣🌼
__ADS_1