
Mike duduk disamping seorang wanita cantik, begitupula dengan Renald.
“Lo berdua kapan balik, huh?” Tanya Zio sambil mengambil kursi dan langsung duduk, sepertinya dia lupa jika dirinya datang berdua.
“Hm, kita kebetulan di pesawat yang sama, Zi. Cewek itu baby sister lo ya?” Mike menatap dalam Yana yang tidak mengenakan masker untuk menutup wajahnya.
Zio membalikkan badannya dan melihat ke arah Yana yang berdiri tepat di samping stroller bayi-bayinya.
“Hm” Hanya deheman saja yang bisa Zio ucapkan.
“Ya ampun, lucu-lucu banget sih kalian” Ungkap Siska, istri Mike.
“Eh, kalian so cute and so handsome. Aku pengen banget punya baby-baby seperti kalian” Rosa juga menghampiri stroller Faza dan Zafa.
“Sorry banget, Bro. Kita nggak datang ke pernikahan lo pas itu, and dimana istri lo?”
“Fatma, dia pergi membawa jauh cintaku” Raut wajah Zio mendadak sedih.
Semua orang di meja itu menjadi diam.
“Mbak, nggak capek berdiri?” Rosa melihat ke arah Yana yang masih berdiri, padahal masih ada sisa satu kursi yang kosong.
“Oh, tidak apa-apa, Mbak” Yana berusaha untuk tetap tersenyum meski dia merasa sangat tidak percaya diri melihat betapa cantik dan modis istri dari teman-teman Zio.
“Duduk aja Mbak, kamu pasti capek banget” Siska mengajak Yana duduk di sebelah Zio.
“Nama si bayi kembar siapa, Kak Zi?” Siska menatap bahagia si bayi kembar yang diam dan terlihat sangat lucu dimatanya.
“Ini, Faza si kakak dan Zafa si adik” Raut wajah Zio masih terlihat sedih.
Pernikahannya hanya bertahan sepuluh bulan saja. Setelah satu bulan pernikahan Zio dan Fatma, sang istri langsung dinyatakan hamil anak kembar. Sungguh, hari itu adalah hari yang penuh dengan kebahagiaan sekaligus awal dimana Zio harus kehilangan istrinya untuk selama-lamanya.
“Gue yakin, Fatma bahagia dan bangga sama lo, Zi” Mike menepuk pelan pundak teman baiknya itu.
“Bener kata Mike, gue yakin Fatma sangat bahagia menikah dengan lo dan melahirkan si bayi kembar yang tampan dan lucu” tambah Renald.
__ADS_1
Ketiga sahabat itu saling berpelukan.
“Fatma? Istri Mas Zio kah?” Tanya Yana dalam hati.
“Nama Mbak siapa?” Siska kembali duduk di kursinya.
“Yana, Mbak”
“Aku, Siska”
“Jangan lupakan aku, kenalin Rosa”
Para wanita saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri mereka masing-masing.
“Eh, kita bertiga seumuran ya ternyata. Wah, harus diubah nih panggilannya. Non formal oke?” Ujar Rosa dengan raut wajah terkejut.
Yana tersenyum kaku. Sungguh dia merasa sangat tidak percaya diri, apakah teman-teman Zio akan mengenali dirinya sebagai adik kelas mereka saat masa putih abu-abu dulu? Yana sempat bersyukur sebab Zio tidak mengingat dirinya.
"Penampilan kamu hm terkesan sederhana but elegan, iya kan, Ros?" Siska melihat dengan teliti penampilan Yana, mulai dari atas sampai bawah.
"Maksud kamu?" Tanya Rosa.
"Yah, seperti rancangan designer gitu. Jadi, only one model baju yang dipakai Yana"
Yana tidak menyangka, bajunya memang rancangan dia sendiri, dan dua wanita di hadapannya itu tahu tentang itu. Padahal, dia sudah memilih jenis baju yang menurutnya terlihat biasa-biasa saja dan terkesan apa adanya.
"Ehem, kamu bisa aja" Yana berusaha tersenyum seperti malu karena dipuji, padahal dalam hati dia berusaha untuk tidak terlihat gugup karena jati dirinya sebagai designer tidak mereka ketahui.
"Dia memang designer" Ujar tiba-tiba Zio tidak ada api dan asap. Entah sejak kapan, para laki-laki itu menghadap ke arah dirinya.
Bagaimana mungkin Zio mengatakan hal yang tidak penting seperti itu?
"Heh, kok lo tau dia designer? Wah keren banget nggak sih, seorang baby sister punya kerja sampingan sebagai designer?" Mike tertawa, tentunya tetap melihat ke arah Yana.
"Hm, wait. Gue merasa nggak asing dengan wajah lo"
__ADS_1
"Tidak mungkin, please, jangan" Yana berdoa dalam hati, semoga teman-teman Zio tidak mengenali dirinya sebagai adik kelas.
"Wah bisa jadi tuh, Mas. Kamu pasti bukan baby sister kan? Hm, jangan-jangan kamu calon mama baru buat si kembar?"
"A-aku ke kamar mandi dulu"
Yana berpikir, lebih baik pergi untuk sementara. Dari pada, teman-teman Zio akan mengenali dirinya. Tanpa mendengar jawaban dari siapapun, Yana langsung pergi begitu saja.
"Zi?" Panggil Mike.
"Hm?" Zio menikmati segelas jus mangga kesukaannya.
"Lo suka cewek itu ya?" Mike masih menatap Zio yang ternyata melihat ke arah Yana pergi.
"Maksud lo? Gue suka sama cewek kayak gitu?"
"Yah, menurut gue gitu sih. Cara lihat lo ke ... eh siapa tadi namanya?"
"Yana, Mas" Siska bantu menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Sok tau banget sih lo" Zio hanya menatap datar teman-temannya, dan tidak memikirkan lagi ucapan Mike tentang perasaannya. Karena dia hanya mencintai satu wanita saja, Fatma.
❣🌼❣
Hai, jangan lupa ya Like Comment Favorite novel ini. Hm, boleh banget dong kalian mampir di karyaku yang lain
😍 MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA
😃 AYAH UNTUK ARLAN
Terimakasih
L0ve Macan
🌼❣🌼
__ADS_1