Cantik Demi Keluarga

Cantik Demi Keluarga
Masa Sekarang


__ADS_3

Brak


Yana terkejut. Lamunannya sekitar 9 tahun yang lalu saat dia masih remaja di masa sekolah menengah atas, terhenti begitu saja. Dia tau pasti siapa dalang. Karena biasanya orang lain yang menemui dia selalu langsung mengejek dirinya. Apalagi kalau bukan perihal penampilan nya. Dan hanya satu orang selain anggota keluarganya sendiri yang telah menerima dirinya menjadi teman dan mereka berdua pertama kali berteman baik saat Yana sekolat perguruan tinggi di jurusan desainer.


"Kebiasaan banget deh" Ujar Dina, teman baik Yana.


"Apa?"


"Ngelamun terus kerjaan lo"


"Siapa yang melamun?"


"Ya kamu lah, masak pengunjung di belakang lo" Jawab Dina sambil menikmati jus melon yang tadi dia ambil di dekat meja kasir.


"Kamu kok lama banget sih, hampir saja aku karatan di sini" Yana juga menikmati jus strawberry dan sepotong cheesecake.


"Kayak lo ga tau aja, nih ya. Minggu ini gue dapet pelanggan yang super super nyebelin banget"


"Kenapa emangnya?"


"Huft, lo tau sendiri kan, Yan. Gue ngerangcang gaun pengantin nya dengan teliti dan sesuai catatan dari wanita itu"


"Sabar, Din"


"Heh, gue udah sabar pakek baget lho. Coba bayangkan, tuh orang minta ganti model baju, hampir merubah semua rancangan dan beda jauh sama rancangan awal. Untung saja belum jadi tuh baju"


"Sabar"


"Boleh sih sabar, Yan. Tapi, sorry gue ga punya stok kesabaran sebanyak lo"


Yana hanya tersenyum melihat teman baiknya yang marah kepadanya karena pelanggan yang baru seminggu ini dia tangan baju pengantinnya. Hampir sebulan ini dia belum menerima customer baru. Mereka berdua kuliah dan kerja di tempat yang sama, begitupun bidang keahlian yang mereka pelajari.


"Strawberry cake"


Pelayan cafe mengantar pesanan Dina.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak"


"Sama-sama. Selamat menikmati"


"Oke, sekarang jangan bahas tentang gue. Gimana kerjaan lo, Yan?"


Mulut Dina penuh dengan potongan besar cake yang langsung dia lahap.


"Dina, habiskan dulu kuenya"


Glek


Suara tenggorokan Dina saat dia berhasil menelan kue di dalam mulutnya.


"Yey, dah habis. Sekarang jawab pertanyaan gue"


"Kamu lucu, Din"


"Ehem, terimakasih atas pujiannya"


"Hahaha, ya ga gimana-gimana sih. Pelanggan gue yang terakhir sekitar sebulan yang lalu, mereka puas dengan rancangan ku"


"Alhamdulillah"


"Din?"


"Hm?" Dina masih asyik menikmati cheesecake kedua yang baru saja datang.


"Aku ... jelek banget ya?"


Yana menundukkan kepalanya saat dia berani bertanya mengenai penampilannya. Dia dan sahabat nya itu berbeda jauh. Dina sangat cantik dengan rambut sebahu bewarna hitam. Warna kulitnya yang putih dan wajahnya yang bersih.


"Maksud lo apa?" Dahi Dina berkerut. Tumben banget Yana bertanya tentang penampilannya.


"Jangan pura-pura ga ngerti deh"

__ADS_1


"Huft Yana, lo itu cantik. Percaya deh sama gue. Jangan dengerin ucapan orang lain, makan hati terus jadinya. Cukup jadi diri lo sendiri seperti sekarang, yang baik hatinya dan cantik luar biasa"


"Cantik luar biasa?"


"Iya, lo lupa ya sama ucapan lo sendiri?"


"Yang mana?"


"Cantik itu yang penting hatinya. Karena itulah keistimewaan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan harga atau barang apapun. Be your self, Yana. By the way, lo tahu ga?"


Yana menggeleng kepalanya.


"Selama gue sekolah dan kenal dunia luar, gue nggak pernah punya teman yang benar-benar teman. Dan gue bersyukur bisa ketemu lo, Yan. Lo itu anugerah dari Tuhan buat hidup gue"


Dina tersenyum manis ke arah sahabatnya yang terlihat mulai menangis.


"Cengeng banget sih"


"Aku ga cengeng kok. Dina, makasih ya" Yana menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.


"Sama-sama, Yana. You'll be my best friend now and ever"


Dua wanita itu saling berpegangan tangan dan tersenyum.


"Ehem"


❣❣❣❣❣


Hai, selamat membaca karya terbaru ku ini ya


Jangan lupa juga mampir di karyaku yang lain


Oh ya, Like Comment Favorit dari kalian membuat ku lebih semangat 😃


Thank you all so much 😚

__ADS_1


L0ve Macan


😊😊😊☺☺


__ADS_2