
Yana tidak menyangka hari ini adalah hari yang cukup membuat jantungnya berdetak kencang. Setelah berhasil mengalihkan pembicaraan Mama Yasmin seputar pernikahan, dia telah membuat keputusan.
"Assalamualaikum" Salam Yana sambil meletakkan sepatu di rak dekat pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam"
"Kok tumben pulang awal?" Tanya Bunda Aisyah.
"Iya, Bun. Kerjaan di kantor bisa dikerjaiin di rumah, ya udah aku pulang aja"
Yana duduk di samping ayahnya yang terlihat sedang sibuk membaca lembaran kertas dan memberikan coretan merah, biru dan hitam. Sebelumnya, perempuan cantik itu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Besok di sekolah ujian akhir ya, Ayah?"
"Iya"
Mulut Yana hanya bergumam saja. Dia tahu persis jika ayahnya tidak bisa diganggu jika sedang sibuk dan konsentrasi seperti saat ini.
"Kak Zara belum pulang, Bun?"
"Belum, tadi telpon ibu kalau di toko ramai"
"Ouh, gitu ya"
"Iya"
"Bun?" Panggil Yana sambil berpindah tempat duduk tepat di sebelah ibunya.
"Hm?"
Bunda Aisyah juga sibuk menjahit baju yang terlihat berlubang di bagian ketiak, baju Ayah Ahmad pastinya.
"Yana ma-mau ... can-cantik"
Ucapan Yana membuat dua paruh baya itu langsung menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
"Putri Ayah sudah cantik kok" Ayah Ahmad melanjutkan kembali kegiatannya.
__ADS_1
"Yana cantik kok" Puji Bunda Aisyah sambil mengusap pipi Yana yang bulat.
"Assalamualaikum"
Suara salam diikuti langkah kaki yang masuk ke dalam rumah, membuat semua orang yang sedang duduk bersama di ruang keluarga langsung melihat ke arah pintu.
"Waalaikumsalam"
"Yey, Kakak pulang, yes" Yana tersenyum bahagia dan langsung menghampiri kakaknya.
"Apa?" Kak Zara menjitak kening adiknya yang ingin mencium dirinya.
"Aw, sakit, Kak. Kasar banget sih" Yana meringis kesakitan di dahinya yang terlihat memerah. Dia dan kakaknya berbeda, begitulah pikiran orang-orang yang mengenalinya dan Kak Zara.
Berbeda?
Jawabannya adalah iya.
"Kak, aku mau cantik kayak Kakak"
Kak Zara mencubit kedua pipi Yana hingga merah dan adikknya itu sontak memukul lengan agar Kak Zara melepas cubitannya.
"Sadis"
Yana kembali duduk di samping bundanya, dan jangan lupakan raut wajahnya yang menatap kesal ke arah kakaknya.
Kak Zara menyalami kedua orang tuanya dan langsung pergi ke kamar depan.
"Yana mau cantik, inside and outside" Ungkap Yana untuk melanjutkan ucapannya agar keluarganya mau mendukung keinginannnya.
"Maksud kamu apa Yana? Kan kamu tahu Bunda itu cuma tahu yes no yes no, ngomong bahasa indo wae"
"Hehehe, gini. Yana mau terlihat cantik dari hati dan ... penampilan" Yana menundukkan kepalanya.
"Belibet banget sih ngomong" Kak Zara keluar dari kamar setelah mengganti pakainnya dengan celana panjang dan kaos berlengan pendek.
"Kakak mah enak dah cantik wajah dan ... setengah hati"
__ADS_1
"Wah, ngaco lo ngomong ya" Kak Zara bersiap akan memberikan pukulan lagi kepada adiknya.
"Kakak, jaga bicaranya" Tegur Ayah Ahmad sambil membenahi kacamatanya.
"Maaf, Ayah"
Benar, Kak Zara sangat cantik. Sayangnya, perempuan itu agak keras sama seperi Ayah Ahmad. Berbeda dengan Yana yang memiliki sikap lembut, seperi Bunda Aisyah.
"Yana, mau nurunin berat badan, Kak" Sebelum kakaknya benar-benar memberikan hadiah kesakitan, dia segera mengatakan keinginannya. Dia berharap, Kak Zara akan membantu nya.
"Ngapain sih, syukurin aja, Yan"
"Kakak ... hiks ... hiks"
Tiba-tiba saja, Yana sudah menangis di depan keluarganya. Dia ingin sekali berubah, sungguh dirinya menerima dengan ikhlas bagaimana keadaanya. Tapi, dia meyakinkan hatinya jika dia ingin berubah demi keluarga.
Tentu dia masih ingat jelas tentang bagaimana orang-orang menatap dirinya dan ejekan yang selalu dia dengar. Dan cara mereka mengejek dia dan kakaknya yang sangat cantik, beda jauh dengannya. Dia sangat bersyukur, Kak Zara mau membela dirinya meski harus bertengkar.
"Huft, oke. Besok, kita lari-lari pagi ya, jangan molor. Awas" Kak Zara memperagakan gerakan memotong di lehernya dan jangan lupakan tatapan tajamnya.
"Wah, terimakasih Kakakku yang paling cantik se ... keluarga Ahmad. Hahaha"
Yana memeluk erat Kak Zara sambil menghapus air mata di pipinya. "Pinangan Mama Yasmin mending nggak usah bilang deh"
❣❣❣❣❣
Hai, selamat membaca karya terbaru ku ini ya
Jangan lupa juga mampir di karyaku yang lain
Oh ya, Like Comment Favorit dari kalian membuat ku lebih semangat 😃
Thank you all so much 😚
L0ve Macan
😊😊😊☺☺
__ADS_1