Cantik Demi Keluarga

Cantik Demi Keluarga
Usaha


__ADS_3

"Aduh, ****"


Tiba-tiba saja, Zio memberikan begitu saja bayinya dalam pelukan Yana dan langsung berlari secepat mungkin menuju kamar mandi. Yana terkejut dan tersenyum kecil melihat tingkah Zio yang lucu.


Yana memutuskan untuk terus berusaha menurunkan berat badannya. Akan tetapi, segala rutinitas yang dia harus jalani telah membuat tubuhnya semakin tidak baik. Dia sakit akibat kegiatan program diet yang dia lakukan tidak dilakukan dengan baik. Untung saja, keluarganya tetap berada di depannya dan terus memberinya semangat.


“Cup .. cup … cup, jangan nangis lagi ya. Haus ya?” Yana menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang. Dia mengambil botol susu di tas yang diletakkan di atas kursi.


Dengan telaten, Yana menggendong dan bersenandung bacaan sholawat agar bayi dalam gendongannya menjadi tenang. Setelah bayi dalam gendongannya tertidur, giliran bayi di dalam stroller yang dia gendong.


“Hm, kalian berdua mirip sekali ya. Gemes deh" Yana mencubit pelan bayi dalam gendongannya yang asyik minum susu dalam dot.


Wanita itu sedikit melirik ke arah stroller, mungkin dia bisa menemukan petunjuk nama kedua bayi itu.


"Tante bingung mau panggil nama kalian apa ya?"


"Sorry"


Zio berdiri tepat di hadapan wanita yang sedang menggendong putranya. Dia masih berusaha mengatur nafasnya.


"Iya, tidak apa-apa"


"Mereka sudah tidur ya?" Tanya Zio sambil melihat ke arah bayi dalam gendongan Yana dan di dalam stroller.


"Hm"


"Siapa nama kamu?"


Kening Yana mendadak terdapat lipatan. Dia tidak menyangka, laki-laki di hadapannya itu banyak bicara. Seingatnya dulu, Zio adalah salah satu siswa paling cuek dan pendiam. Tingkat kepercayaan diri Zio sepertinya sudah berubah.


"Hello" Tangan Zio berada di depan mata Yana yang masih menatap dalam cinta pertamanya itu.


"Oh iya, hm a-aku Zura"


"Zura? Nama yang bagus. Terima kasih, Zura"

__ADS_1


Sepertinya Yana harus menggunakan kacamata. Dia menggosok matanya berulang kali. Apakah Zio yang sedang tersenyum itu nyata atau hanya mimpi di pagi menjelang siang.


"Kamu itu Kakak cari, ayo dah panas nih. Mari"


Tanpa menunggu jawaban Yana, kakaknya langsung menarik pergelangan tangannya dan meninggalkan Zio berdiri sendirian sambil menggendong bayinya yang entah sejak kapan sudah berpindah tangan.


"Cinta pertama, hm?" Tanya Zara saat melihat adiknya selalu melihat kebelakang, tepatnya ke arah Zio.


"Apaan sih, Kak"


Pipi Yana merah merona gara-gara sang kakak tahu siapa Zio dalam hidupnya.


***


Setiap pagi Yana lari pagi sendirian, namun jika Kak Zara tidak sibuk maka mereka berdua akan bersama-sama melakukan kegiatan yang menyehatkan tubuh, seharusnya. Karena keinginan Yana yang kuat, dia sering lari pagi dan jarang makan. Sehingga, tubuhnya tidak bisa menerima kegiatan yang baru dan sering dilakukan oleh Yana secara berlebihan.


"Sarapan dulu, Yana" Bunda Aisyah meletakkan sebuah wadah kaca yang berisi nasi goreng.


"Aku makan buah a-apel ini aja, Bun"


Yana tetap mengambil buah apel di dalam kulkas dan langsung memakannya.


"Hm, Bunda lihat nih. Wajahmu semakin pucat begitu. Huft, sekali ini saja Bunda memaksa Yana makan. Ayo makan. Sekarang" Suara tegas Bunda Aisyah berhasil membuat Yana duduk dan mengambil nasi goreng yang terlihat sangat enak.


Dua suap nasi goreng membuat Yana tersenyum bahagia.


"Akhirnya, makan juga. Yana boleh olahraga, tapi makan tetap harus menjadi prioritas" Ujar Ayah Ahmad saat melihat putrinya makan dengan lahap. Hampir seminggu terakhir ini, dia tidak melihat putri keduanya makan dengan benar.


"Aduh"


Terdengar suara Yana dan dentingan sendok yang jatuh.


"Yana, Ya Allah" Bunda Aisyah terkejut melihat putrinya yang sedang menahan sakit.


"Ayah ambil kunci mobil dulu"

__ADS_1


Suasana rumah menjadi ramai sebab tiba-tiba saja Yana pingsan. Untung saja, stamina Ayah Ahmad masih kuat sehingga bisa menggendong putrinya menuju mobil agar segera bisa di bawa ke rumah sakit.


***


"Kondisi pasien sudah mulai baik. Tekanan darahnya rendah, dan asupan gizinya kurang. Sebaiknya konsumsi makanan empat sehat lima sempurna ya. Diet boleh, tapi harus tetap menjaga asupan makanan dalam tubuh. Jangan terlalu memaksakan diri untuk olahraga yang berlebihan. Kita olahraga supaya sehat, bukan sakit" Dokter itu tersenyum tipis sambil menatap pasiennya yang masih terlihat lemah.


Ayah Ahmad dan Bunda Aisyah bisa bernafas lega setelah mendengar diagnosis dari dokter.


"Terimakasih, Dok"


"Sama-sama. Setelah cairan infusnya sudah habis, pasien boleh pulang, istirahat dan makan yang banyak. Lekas sembuh ya"


Setelah dokter tampan itu keluar dari bilik ranjang dimana Yana masih terbaring lemah, Bunda Aisyah menatap tajam putrinya.


"Tuh kan, baru tadi Bunda bilang eh dah sakit beneran"


"Ma-maaf, Ayah, Bunda" Lirih Yana dengan suaranya yang terdengar sangat pelan. Kebetulan, ruang UGd tersebut tidak terlalu banyak pasien.


"Sudah, lain kali kalau orang tua ngomong itu dengerin. Ngerti?" Ujar Ayah Ahmad yang duduk di samping ranjang Yana.


Yana hanya menganggukan kepalanya saja dan berusaha tersenyum.


❣🌼❣


Hai, jangan lupa ya Like Comment Favorite novel ini. Hm, boleh banget dong kalian mampir di karyaku yang lain


😍 MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA


😃 AYAH UNTUK ARLAN


Terimakasih


L0ve Macan


🌼❣🌼

__ADS_1


__ADS_2