
Jimmy kini tengah memantau kinerja agen mata-mata yang telah ia bayar dengan bayaran yang sangat fantastis kepada agen terpercaya yang berada di Prancis tersebut.
"Benar tuan, nona Lalisa kini tengah membeli sebuah apartemen di pusat kota Paris. Yang merekomendasikan tempat tersebut adalah tuan George yang merupakan pengusaha muda yang paling di segani disini." Tutur agen rahasia tersembut melalui sambungan telepon nya.
"Baiklah tugas kamu berikutnya adalah membeli apartemen yang berada di samping Lalisa. Ingat ya untuk membeli yang benar tepat disebelah apartemen milik Lalisa. Untuk masalah harga tidak menjadi masalah untukku." Ucap Jimmy di dalam telepon tersebut dengan serius.
"Baiklah tuan akan saya atur secepatnya." Ucap agen rahasia tersebut.
"Aku tidak mau tau pokoknya lusa aku sudah bisa menempati apartemen tersebut. Gantilah dengan perabotan yang baru dan lengkap." Ucap Jimmy.
"Baik tuan segera saya lakukan sekarang." Ucap Agen tersebut lantas mematikan teleponnya.
"Sebentar lagi kita akan bertemu darling." Gumam Jimmy seorang diri.
*
*
__ADS_1
*
Korea Selatan
"Tuan Abellard, apakah masih sanggup melakukan tahap operasi berikut nya?" Tanya dokter Kimora kepada Yudha yang telah mengganti namanya dengan nama Abellard Aime yang merupakan seorang pria berkebangsaan Prancis tersebut.
"Saya selalu siap dan menjalani rasa sakit ini pasca operasi ini dengan penuh semangat dokter." Ucap Abellard yang sebenarnya sangat tidak kuat menahan sakitnya tulang wajah dan lainnya yang dirombak besar-besaran sesekali tulang di wajahnya tersebut terasa seperti di gergaji menggunakan alat canggih dokter tersebut. Namun demi mendapatkan kehidupan yang baru maka ia sangat menerima resiko rasa sakit yang ia terima.
Abellard pun wajahnya telah dirombak melakukan tahap operasi sebanyak 17kali, namun menurut dokter itu pun belum jadi sempurna dan masih memerlukan beberapa operasi untuk menyempurnakan bentuk wajahnya tersebut.
Setelah dokter Kimora selesai memeriksanya lantas kemudian Abellard pun menghubungi George yang merupakan tangan kanan nya tersebut.
"Tenang saja, Lalisa untuk saat ini aman ada di bawah pengawasan ku dan istriku. Mulai besok Lalisa telah menempati apartemen yang sengaja aku persiapkan untuknya sesuai dengan instruksi mu. Dan mulai besok Lalisa telah resmi bekerja menjadi designer di tempat tante ku. Tenang saja, Lalisa disini di jamin aman." Ucap George di dalam sambungan teleponnya tersebut.
"Baiklah, aku percayakan Lalisa kepadamu. Untung saja ternyata istrimu itu berteman baik dengan Lalisa ku dan untung saja Lalisa kaburnya pun ke Prancis dengan meminta bantuan istrimu. Sungguh dunia terasa sangat sempit." Ucap Abellard dengan nafas lega.
"Iya kawan. Aku pun tidak menyangka jika istriku itu sangat mengenal Lalisa. Kamu butuh apa lagi kali ini?" Tanya George.
__ADS_1
"Saat ini belum butuh apa pun lagi. Aku hanya ingin menanyakan keadaan Lalisa." Ucap Abellard.
"Baiklah jika kamu rindu. Nanti aku kirimkan foto Lalisa kepada mu." Ucap George.
"Baiklah aku tunggu ya." Ucap Abellard dan segera mematikan sambungan teleponnya.
Sedangkan George pun diam-diam mengambil foto Lalisa secara diam-diam sewaktu mengobrol berdua dengan istrinya tersebut.
Dengan secepat kilat George pun mengirimkan foto tersebut ke nomer Abellard.
Dengan langkah santai, George pun mendekati istrinya tersebut memberikan kode untuk segera melayaninya di atas ranjang.
Setelah memberi kode kepada istrinya tersebut maka George pun segera menuju kamar nya bersama istrinya tersebut menunggu sang istri yang selalu bisa membuat nya mabuk kepayang di atas ranjang.
Pricil yang paham dengan tatapan mata dan wajah George kepadanya pun segera undur diri kepada Lalisa.
"Lisa, kode alam telah berbunyi. Suamiku seperti biasa memberikan kode menginginkan ku untuk segera melayani nya di atas ranjang. George itu stamina nya sangatlah hebat. Dia tahan lama dan selalu membuatku menjerit-jerit ke enakan setiap malam. Sudah dulu ya, melihat tatapan suamiku tadi saja sudah membuat anuku berkedut meminta untuk segera di sentuhnya." Bisik Pricil dengan sangat vulgar nya.
__ADS_1
"Cepatlah menikah agar bisa menikmati indahnya surga dunia seperti ku." Bisiknya Pricil kembali sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Dasar sahabat laknat. Bisa-bisa nya berbicara se gamblang itu di depanku." Gumam Lalisa dengan kesal dan segera menuju ke kamarnya.