
Setelah selesai dengan makan siang nya, Fika yang memang tidak bisa diam, akhir nya mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Dia membersihkan kaca serta kursi kursi yang ada di lantai 7.
Tari sang seketaris Tama merasa tidak suka dengan kehadiran Fika yang cantik,memiliki kulit putih, karena Tari takut kalau nanti nya Tama menyukai Fika.
Sebisa mungkin Tari menjaga jarak dengan Fika, dia selalu menghindar jika Fika ingin bertanya sesuatu tentang perusahaan maupun pekerjaan Tari.
🌻🌻🌻
Sekitar pukul 5 sore, semua pekerjaan Fika sudah selesai, dia merapikan barang nya dan barang pekerjaan nya. Dia pun menghampiri Tari yang sedang sibuk dengan komputer nya.
"Permisi mbak Tari, ini kan sudah jam 5 sore saya izin pulang mbak." Ujar Fika dengan sopan
"Kalau mau pulang ya pulang, enggak ada urusan aku."Ketus Tari
Vico yang kebetulan lewat ingin ke ruangan Tama mendengar ketusan Tari ke Fika.
"Ada apa ini?" Tanya Vico pura pura tidak tau.
"Ehh..pak Vico ini cleaning service nya mau izin pulang." Jawab Tari dengan ramah dan membuat suara manja nya.
"Benarkah begitu Fika?"
"Iya tuan."
"Ya sudah pulang lah, hati hati di jalan."
"Terima kasih tuan, mari mbak."
Setelah kepergian Fika, Vivo pun akhor nya meneruskan ke ruangan Tama tanpa melirik ataupun melihat Tari yang selalu memandang nya.
"Bro..sudah jam 5 pulang yuk." Ajak Vico karena memang sudah jam nya karyawan untuk pulang.
"Oke."
Mereka berdua pun menaiki lift dan sampai ke dasar lantai. Vico yang memang terbiasa ikut bersama dengan Tama karena kediaman Tama berdekatan dengan Apartemen Vico.
Di sepanjang jalan, Vico melihat Fika yang masih berdiri menunggu angkot yang lewat. Vivo pun memberitahukan kepada Tama.
"Bro..itu perempuan lagi ngapain celinguk celinguk gitu."
"Ya mana aku tau, emang aku bapak nya." ujar Tama.
"Apa dia lagi nunggu angkot ya?"
Tama tidak menanggapi ocehan Vico, dia merasa sangat lelah hari ini, dia menutup mata nya dan merebahkan kepala nya.
"Eh..bener dia nunggu angkot, cewek jaman sekarang masih ada ya seperti Fika, udah cantik, putih, enggak neko neko lagi."
Tama yang mendengar ucapan Vico hanya terdiam.
" Kayak nya dia cocok untuk aku, aku harus dekatin dia, dia kalau dipermak dikit pasti makin cantik." Ujar Vico kembali
Tama membuka mata nya dan melirik ke arah Vico. Sementara Vico hanya senyum senyum saja.
Tama dan Vico sampai di kediaman Tama.
Setelah Tama masuk Vico pun langsung menyuruh supir untuk mengantar kan nya ke apartemen nya.
__ADS_1
Tama langsung naik ke kamar nya untuk membersihkan diri, kemudian turun dan mendapati papa Evan sedang di ruang TV menonton acara global.
Tama duduk di sebelah kana papa Evan, dan ikut menyaksikan acara global.
"Pa, ada yang ingin Tama tanyakan kepada papa?" Ujar Tama to the poin, memang Tama tidak ingin berbelit belit.
"Tentang apa Tam?"Tanpa mengalihkan pandangan dari TV.
"Aku ingin kita berbicara di ruang kerja papa saja."
"Seperti nya serius, apa ada masalah di kantor."
"Tidak pa, hanya sedikit mengganggu pikiran ku saja."
"Baiklah, ayo."
Bapak dan anak itu pun beranjak dari depan tv dan berjalan, papa Evan lalu merangkul pundak Tama.
"Apa yang ingin kau tanyakan."
"Apa papa mengenal Samsul?"
Papa Evan mengernyitkan kening nya, begitu banyak orang yang bernama Samsul, siapa yang di maksud anak nya ini.
"Nama Samsul begitu banyak Tam, samsul mana yang kau maksud, papa enggak mengerti."
"Samsul yang pernah bekerja di kantor kita pa, sebagai orang kepercayaan papa saat itu."
"Dari mana kau mengenal nya."
"Aku tidak mengenal nya pa, hanya saja anak nya bekerja di kantor kita sebagai cleaning service."
"Vico sudah menyelidiki nya pa."
"Apa dasar kalian menyelidiki anak nya Samsul."Papa Evan memandang tajam Tama, karena dia tidak pernah melihat Tama melakukan sejauh ini kecuali dengan sesama rekan bisnis nya.
"Aku hanya terkejut pa dia melakukan sesuatu yang tidak pernah terfikir kan ku bersama Vico."
"Apa yang dilakulan nya, apa dia merugikan perusahaan."
"Tidak sejauh itu pa, dia berlutut di depan ku karena aku ingin memecat nya."
"Apa anak nya perempuan."
Tama hanya menganggukkan kepala nya.
"Hufffttt...Sebenar nya papa juga tidak yakin dia melakukan itu."
"Maksud nya pa."
Flashback
Seperti biasa Samsul mengerjakan kantor nya dengan baik. Meskipun bekerja di kantoran tidak membuat Samsul menjadi sombong dan tamak.
Papa Evan yang saat itu berada di luar negeri untuk menghadiri pertemuan antar sesama pejabat, menyerahkan urusan kantor kepada Samsul yang saat itu notabene nya adalah orang kepercayaan papa Evan
Banyak orang yang membenci Samsul, karena Samsul hanya sebagai karyawan biasa kenapa dia di percayai oleh Ceo di kantor.
__ADS_1
Di saat jam istirahat, Samsul yang ikut rapat di luar kantor meninggalkan berkas penting di tempat biasa karena memang di situ lah biasa Samsul menyimpan nya.
Setelah beberap hari, papa Evan yang sudah pulang meminta semua karyawan penting untuk rapat, karena dia menerima pesan misterius yang mengatakan bahwa Samsul bermain curang.
Kau salah besar memilih orang. Kepercayaan yang kau berikan pada nya dijadikan sebagai ladang keuangan nya. Lihat saja kau akan bangkrut.
Samsul yang saat itu tidak memiliki firasat apa pun mengikuti rapat dengan biasa. Di saat papa Evan meminta berkas penting itu kepada nya dia pun menyerahkan dengan senang hati tanpa curiga bahwa berkas itu di manipulasi sedangkan berkas yang asli ada di tangan papa Evan. Entah siapa yang meletakkan nya di atas meja papa Evan.
Papa Evan memeriksa dan menemukan kejanggalan yang membuat perusahaan mengalami kerugian besar.
Dengan emosi papa Evan langsung menunjuk dan memvonis Samsul sudah melakukan tindakan korupsi tanpa menyelidikj dan mencari bukti.
Samsul yang merasa terpojokkan membela diri semampunya, tetapi para karyawan yang tidak suka dengan nya semakin mengolok olok nya.
Akhir nya Samsul pun di pecat dan diserahkan ke kantor polisi, dan meninggalkan karena depresi dengan tekanan dan gunjingan lingkungan.
flasback end
"Jadi papa sampai saat ini tidak mengetahui apa penyebab pak Samsul melakukan nya."
"Tidak, karena saat itu papa merasa kecewa padanya."
"Apa papa sudah menyelidiki nya."
"Tidak, karena papa harus mempertanggung jawabkan di hadapan pemegang saham lain nya dan harus membuat kepercayaan kembali kepada para pemegang saham."
"Apa papa yakin pak Samsul melakukan nya."
"Papa juga ragu kalau dia melakukan nya, tetapi bukti mengarah kepada nya."
"Apa cctv tidak ada di ruangan kerja pak samsul."
"Papa tidak kepikiran ke situ, karena saat itu beban papa sangat besar."
"Apa setelah pak Samsul di pecat, apa ada orang yang seakan akan mendekati atau menjilat kepada papa."
"Sebenar nya ada yang papa curigai,tapi itu lah kesalahan papa, papa tidak sempat menyelidiki nya."
"Huffftttt...apa aku bisa mengetahui siapa orang nya pa."
"Jika papa memberitahukan pada mu, apa kau berjanji tidak akan mengubah sikap mu pada nya dan keluarga nya."
"Aku berjanji pa."
"Dia adalah ayah dari Vico, sahabat mu sendiri."
deg!
"Apa papa yakin."
"Iya sangat yakin, karena hanya dialah yang saat itu sangat antusias menyuruh papa memecat Samsul."
"Apa Vico juga akan seperti papa nya."
"Papa yakin Vivo tidak seperti itu, apalagi mereka tidak tinggal bersama."
"Apa aku harus menceritakan ini kepada Vico pa."
__ADS_1
"Carilah waktu yang tepat, jangan sampai persahabatan kalian menjadi renggang, apa tidak menginginkan permusuhan di antara kalian."
"Aku mengerti pa."