
Fika diam dan membisu mendengar pengakuan dari atasan nya Vico. Air mata yang sudah berhenti kini kembali menetes deras di pipi nya.
Fika hanya menunduk, dan membiarkan air mata nya membasahi pipi nya, perasaan yang syok membuat nya terbodoh.
"Fik..tolong maafin papa aku, aku mohon."
Vico sampai bersujud di hadapan Fika, sementara Fika tidak bergeming sedikit pun, malahan tubuh nya bergetar hebat.
Bayangan kesakitan ayah nya di dalam penjara, seakan akan berputar putar di kepala nya, air mata ayah nya dan air mata ibu nya terlintas semua di benak nya.
"Fik..aku harus bagaimana, tolong katakan padaku, supaya aku bisa meminta maaf pada mu."
"Ke..kenapa ora..ng kaya seperti ka..lian menindas kami yang tidak punya."ucap fika terbata bata, pandangan nya hanya menjuru satu arah dan terlihat kosong.
"Bu..bukan be..gitu Fika, itu semua tidak benar, aku juga baru tau tadi kalau papa ku yang membuat ulah itu."
"Apa tuan tau, bagaimana aku harus menanggung semua beban derita semenjak kehilangan ayah ku, rasa nya sangat berat, aku harus membanting tulang supaya kami bisa makan, aku melakukan semua pekerjaan yang penting halal meskipun hanya cukup untuk 1 kali makan saja, air mata ibu ku yang harus ku lihat saat rumah itu terjual, APA KALIAN TAU RASANYA SEPERTI APA!"teriak Fika tanpa sadar nya menumpahkan semua keluh kesah nya di hadapan boss nya itu, dan setelah itu terjatuh pingsan.
Tama yang melihat pergerakan Fika langsung menangkap tubuh Fika, dia membawa nya ke kamar pribadi nya. Vico yang syok pun membiarkan Fika di bawa Tama tetapi ada hal yang mengganjal di kepala nya.
"Panggil dokter cepat."Ujar Tama panik
Tama membaringkan Fika di tempat tidur yang biasa dia tiduri ketika terlalu lelah. Tama memandangi wajah Fika, wajah yang mulus dan putih seperti tidak terawat karena hanya memikirkan pekerjaan untuk kebutuhan sehari hari, meskipun begitu kecantikan nya tidak lah luntur.
"Bagaimana dokter." Tanya Tama
"Dia hanya syok saja tuan, seperti nya banyak beban yang di hadapi nya, itu membuat dia lemah, tolong perhatikan asupan gizi nya tuan, karena seperti nya tubuh nya terlalu kurus."
"Baiklah, terima kasih."
Tama duduk di samping kepala Fika, tanpa sadar nya dia mengelus pipi Fika, sisa sisa air mata masih menempel di pipi nya.
Tama mengelap air mata itu, dan seakan terhipnotis dia mencium kedua mata Fika dengan lembut, Vico yang tiba tiba datang terkejut melihat perlakuan Tama nya yang tidak pernah seperti itu.
Tidur lah, lepaskan semua beban mu, aku akan menjaga mu disini sampai kau terbangun.batin Tama
"Ehem.."
Tama menolehkan kepala nya, raut terkejut di simpan nya dalam dalam dan wajah dingin itu lah yang di tampilkan nya.
"Katakan pada nya jika sudah sadar nanti, aku meminta maaf beribu ribu maaf aku lontarkan pada nya." sendu Vico
"Hem."
"Seperti kau menyukai nya, apa kau sadar kau membawa nya ke kamar pribadi mu." Ujar Vico
"Diamlah, dan fikirkan cara nya agar Fika memaafkan mu."
"Tolong bantu aku bro."
"Tidak akan."Ketus Tama dan mengelus rambut Fika.
"Hei..kau seperti menjadikan nya kekasih mu, lihat lah tangan mu itu di rambut nya."
"Sekali lagi kau berbicara, akan ku habisi kau."
"Dasar makhluk es."
Vico pun berlalu dan keluar dari ruangan Tama, dia meninggalkan mereka berdua karena yakin Tama tidak akan berbuat senonoh.
__ADS_1
Sekitar 1 jam Fika tertidur, Tama tetap setia mendampingi nya, sedikipun dia tidak beranjak dari posisi semula.
"Euhhh..."Fika membuka kedua mata bengkak nya, dia memandangi tempat itu, terasa asing bagi nya.
"Apa sudah enakan."
Fika langsung menoleh ke kanan dan terkejut dengan kehadiran Tama di sisi nya.
Tanpa kata Fika langsung duduk dan berdiri, dia membersihkan tempat tidur itu, menepuk nepuk dengan tangan kanan nya, agar debu debu keluar bekas di tiduri nya.
"Maafkan saya tuan, tolong maafkan saya."
Tama berdiri dan dia mendekati Fika, dan tanpa aba aba dia langsung memeluk Fika dengan erat.
Fika terdiam dengan perlakuan boss nya itu, dia tidak percaya boss memeluk nya.
"Tolong lepaskan saya tuan, nanti ada yang melihat jadi salah paham.
Tama melepaskan pelukan nya dan dia tersenyum. Ini pertama kali Tama tersenyum kepada wanita, hal yang mustahil dia lakukan.
Tampan sekali jika dia tersenyum.batin Fika
"Istirahat lah dulu, badan mu masih lemah."
"Tidak terima kasih tuan, saya harus bekerja, saya permisi tuan."
Fika melewati Tama dengan menunduk, tetapi Tama langsung menangkap tangan Fika dan membawa nya duduk di tempat tidur.
"Apa aku harus memaksamu agar kau mau beristirahat?"
"Terima kasih tuan, tapi pekerjaan saya belum selesai."
Fika menunduk kembali, Tama langsung memeluk Fika kembali.
"Istirahat lah, kau masih syok."Ujar Tama lembut, dan seakan terhipnotis Fika menganggukkan kepala nya.
Fika kembali berbaring dan membelakangi Tama. Tama tersenyum dan melangkah kan kaki nya keluar dari kamar.
Tut..Tut...
"Lisa pesankan aku makan siang, sup iga merah dan nasi hainan."
"Baik tuan."jawab Lisa dengan suara manja nya.
Setelah menunggu hampir setengah jam Lisa membawakan pesanan boss nya itu. Dia mengetuk pintu lalu meletakkan di atas meja.
"Ada yang bisa bantu lagi tuan?"Ujar Lisa dengan suara sexy nya dan gestur tubuh nya yang di buat sesexy mungkin.
"Tidak ada kembali lah bekerja."Ujar Tama datar.
"Baiklah tuan."Lisa keluar dengan perasaan kesal, di lirik sedikit pun tidak oleh Tama
Tama membangunkan Fika yang hanya berpura pura memejamkan mata nya ketika mendengar suara derap langkah.
"Bangun lah, aku sudah memesankan makanan, supaya tubuh mu segar kembali."
"Iya tuan."
Fika langsung bangun dan hendak menepuk nepuk kembali, tetapi Tama melarang nya.
__ADS_1
"Tidak usah, biar OB saja yang melakukan nya."
"Tidak apa apa tuan , saya bisa kok."
"Jangan membantah."
"Baiklah tuan."
Fika keluar kamar dengan mengikuti Tama dari belakang. Aroma sup iga yang tercium Fika membuat nya menelan ludah nya.
"Makan lah, selagi hangat."
"Tapi tuan, saya membawa bekal kok tuan, saya makan bekal saya saja tuan, mubazir tuan."
"Mana bekal mu?"
"Ada di pantry tuan, sebentar saya ambil tuan."
Fika langsung mengambil bekal nya dan membawa nya kembali ke dalam ruangan Tama.
Lisa yang melihat Fika masuk dan membawa bekal langsung mengepalkan kedua tangan nya
Tampang mu saja yang polos ternyata kau adalah rubah licik, lihat saja nanti.
"Ini tuan bekal saya, saya makan ini saja tuan."
Tama langsung merebut bekal Fika, dan membuka nya, betapa terkejut nya dia karena isi nya hanya lah nasi putih, telur mata sapi dan sedikit sambal.
Pantas saja dokter itu mengatakan dia kurang gizi, dia hanya memakan ini saja.
"Tuan..saya makan di pantry saja tuan,saya permisi tuan." hendak mengambil bekal yang di oegang oleh Tama, tetapi Tama langsung menyembunyikan nya di belakang punggung nya.
"Makan lah sup itu, aku tidak menerima penolakan."
"Tapi tuan."
"Aku tidak menerima penolakan."
Fika tetap tidak menyentuh makanan yang di berikan Tama, bagaimana bisa dia makan dengan enak sementara ibu dan adik nya hanya makan dengan telor ceplok dan sambal.
"Kenapa...kau tidak suka?" Tanya Tama
"Bu..bukan begitu tuan, apa boleh saya bungkus saja tuan, buat ibu dan adik saya tuan."Ujar Fika pelan.
Kau rela tidak makan asalkan ibu dan adik mu makan, kau betul betul wanita yang kuidamkan.
"Makan lah nanti aku akan memesan nya lagi."
"Tidak perlu tuan, ini saja cukup kok tuan."
"Kalau begitu makan lah."
Fika pun malu yang sangat besar dan segan makan dengan bekal nya dan hanya mengambil kuah dari sup iga itu sampai nasi nya habis.
"Kenapa hanya kuah nya saja yang kau ambil, kau tidak suka daging?"
"Suka tuan, tapi saya ingin membawa nya pulang, adik saya sangat menyukai sup seperti ini."
"Terima kasih banyak ya tuan, saya permisi." Fika langsung keluar dan membawa bekal dan sisa sup iga serta nasi hainan yang tidak di sentuh oleh Fika
__ADS_1