
Pagi pukul setengah 5, Fika sudah bangun dari tidur nya, dia memulai dengan memasak dan melakukan semua nya dengan cepat.
Pukul 6 pagi dia sudah memakai baju kerja nya dan akan segera berangkat kerja. Dia juga sudah membawa bekal nya dan menuliskan surat yang di letakkan di atas meja dapur.
Fika menyetop dan menaiki angkutan, karena masih terlalu pagi, jalanan masih tampak sepi, ada rasa takut di diri Fika, dia hanya berdoa di dalam hati supaya semua nya baik baik saja.
Pukul setengah 7 pagi Fika sudah sampai di kantor, terlihat masih sepi. Hanya ada beberapa security yang memang mendapatkan shift malam.
"Pagi pak security." sapa Fika ramah fan tersenyum
"Pagi mbak, kok sudah sampai mbak kan masih pagi banget."
"Iya pak, takut telat nanti si boss masrah kan bahaya."
"Hehehe..emang nya mbak ini kerja di lantai berapa, perasaan baru liat."
"Iya pak saya masih baru, saya di lantai 7 pak membersihkan ruangan pak boss."
"Oohhh...begitu toh mbak, ya sudah semangat bekerja ya mbak."
"Iya pak, saya Fika."
"Panggil pak jajang saja mbak."
"Oke pak jajang, saya permisi ya."
Fika lalu menaiki lift dan menuju lantai 7, dia langsung masuk ke dalam ruang pantry dan mengambil peralatan bertempur nya.
Hal pertama yang dia lakukan adalah, membersihkan ruangan Ceo nya yang berwajah datar.
Fika menyapu dan menepuk sofa agar debu debu sofa keluar semua, lalu mengelap setiap sudut dan membersihkan kaca, terakhir dia mengepel dan memberikan pengharum ruangan aromatherapy.
Pukul setengah 8 pagi dia sudah selesai membersihkan ruangan Tama, dia lalu masuk ke ruangan pantry untuk mbuang bekas air pel.
Kemudian mengganti nya dengan yang baru dan menuangkan detergen lantai. Dia menyapu kembali lantai 7 dan mengepel nya.
Suara langkah kaki terdengar kala dia masih mengepel lantai, dia yang membelakangi akhir nya melihat siapa yang datang.
Tama tanpa memperdulikan Fika yang berada satu lantai dengan nya hanya berjalan dengan wajah dingin nya memasuki ruangan nya. Dan saat Tama membuka pintu dia mengwryitkan kening nya, selama dia menjabat sebagai Ceo tidak pernah ruangan nya di beri wewangian aromatherapy, hanya semprot ruangan otomatis lah yang menempel di dinding yang memberikan aroma di ruangn itu.
"Kenapa aroma ruangan ini berbeda, sangat menenangkan, rasa ingin tidur saja."
Sesaat masih memikirkan nya, Vico yang masuk ke dalam ruangan Tama juga merasakan hal yang sama.
"Bro..apa kau mengganti aroma ruangan mu."
"Kau...bikin kaget saja."Ketus Tama yang terkaget dengan ulah Vico.
"Hehehe..Vico gitu loh, kau belum menjawab pertanyaan ku."
"Aku tidak pernah mengganti aroma ruangan ini, begitu aku masuk aku sudah mencium nya duluan."
"Lalu siapa yang mengganti, apa Fika yang mengganti nya."
Tama hanya mengendikkan bahu nya tanda tidak tau.
"Bagaimana apa kau sudah menayakan kepada papa Evan dengan kejadian beberapa tahun yang lalu."
"Sudah."
"Apa titik terang nya sudah ketemu?"
"Sudah."
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang."
"Tidak tau."
"Apa kau tidak ingin membantu Fika, dia harus tau kebenaran nya."
"Untuk apa memberitahukan nya, tidak ada untung nya bagi ku."
"Ayo lah bro..kalau kau tidak ingin memberitahukan nya kepada Fika, biar aku yang memberitahukan nya, itung itung memulai pendekatan dengan nya bro."
"Apa kau menyukai nya?"Tanya Tama
"Seperti nya begitu."
__ADS_1
"Terserah kau saja, sana pergi kerjakan tugas mu, jangan ganggu aku."
"Ishh...kau tidak asik bro." Sungut Vico.
"Hus...sana."Tama melambaikan tangan nya mengusir Vico.
"Iya aku pergi, dasar es batu."
"Aku mendengar nya."
"Bodo amat."Vico lalu pergi keluar dengan wajah yang sangat menyebalkan.
Tama mengerjakan berkas penting nya dengan pikiran yang masih berkelana. Dia masih memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Vico tentang semua ulah papa nya dahulu, dia tidak ingin membuat Vico berang dengan orang tua nya.
Di sisi lain, Tama juga memikirkan ketidakadilan yang diperoleh keluarga Fika, hati nurani Tama ingin sekali mengutarakan semua kebenaran yang tersimpan selama ini.
"Vic..ke ruangan gue sekarang."
"Ada apa bro?"
"Lu yakin mau dekatin tuh cewek."
"Kenapa, lu suka ma dia bro?"
"Ngeles aja lu, gue nanya ******."
"Hahaha..kayak nya sich iya bro."
"Sebelum lu dekatin tuch cewek gue mau ngasi tau sesuatu sama lo tapi gue harap lu nanti nya gak minder, karena gue sama sekali enggak nyalahin lu."
"Apa maksud nya bro, gue gak ngerti."
"Apa lu tau siapa yang buat papa nya Fika dipecat sampai papa nya di penjara dan akhir nya meninggal karena depresi."
Vico menggelengkan kepala nya, firasat nya mulai tidak enak.
"Huffftttt....gue gak enak ngomong nya sama lu."
"Enggak apa apa gue bisa jaga rahasia."
Deg!!
Serasa di hantam batu besar, Vico menerima berita yang membuat nya sangat mersa malu dengan tingkah papa nya. Dia tidak menyangka papa nya tega melakukan semua nya hanya untuk mendapatkan posisi yang menjamin kehidupan nya.
"Lu...lu serius yang ngelakuin papa gue?"
Tama menganggukkan kepala nya, dia melihat kecewa yang besar di mata Vico.
"Gue gak nyangka Tam, papa tega ngelakuin itu semua, hanya karena mendapat jabatn tinggi dia rela ngelakuin itu sampai membuat orang lain kena imbas nya."
"Udah enggak usah di pikirin, yang lu fikirin sekarang adalah gimana cara nya supaya lu ngewakilin papa lu bisa minta maaf sama Fika."
"Berat banget bro, gue..gue enggak sanggup rasa nya minta maaf sama dia."
"Ya sudah lu mau nya gimana."
"Vico hanya terdiam, dia sangat sangat syok dengan kelakuan papa nya. Sementara Tama keluar dari ruangan nya dan menyuruh Tari untuk memanggil Fika.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"Ujar Fika ramah dan jangan lupakan senyum manis nya itu.
"Duduklah."Tama menunjuk sofa yang berada di ruangan itu.
"Saya berdiri saja tuan, tidak apa apa kok."
"Kalau saya bilang duduk ya duduk." Ujar Tama tegas.
Fika langsung duduk karena suara Tama yang dingin, seakan akan ingin menerkam Fika.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu, jawab lah dengan jujur."
"Baiklah tuan."
Sementara Vico sudah merasa jantungan, dia takut akan respon Fika nanti nya. Vico hanya memejamkan kedua mata nya dan berharap Fika mau memaafkan nya.
"Apa kau yang mengganti wewangian ruangan ini."
"Eh...i..iya tu..tuan, maaf saya lancang tuan, kalau tuan tidak menyukai nya saya akan ganti dengan yang biasa tuan."Fika ingin berdiri tetapi suara Tama membuat nya tetap diam di tempat.
__ADS_1
"Aku tidak menyuruh mu untuk mengganti nya, aku hanya bertanya saja, kenapa kau menjawab panjang sekali."
"Maaf kan saya tuan."Fika menunduk karena takut dengan ekspresi Tama.
"Mengapa kau keluar dari restoran Justin."
"Hah..Fika mengerjapkan kedua mata nya, dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi Tama, rasa nya ingin sekali mendekap nya.
Dia begitu menggemaskan, lihat lah bibir nya kecil sekali.
"Hanya kesalah pahaman saja tuan."
"Kesalah pahaman yang bagaimana."
Fika lalu menceritakan semua yang terjadi, tanpa sadar dia meneteskan air mata nya. Tama yang melihat air mata Fika menetes, merasa iba dengan nasib gadis di depan nya ini, sungguh pengorbanan yang besar yang harus dia lalui
"Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa dulu orang tua mu bekerja di perusahaan."
"Da..dari mana tuan tau?" Tanya Fika.
"Apakah Samsul nama dari ayah mu."
**Tes..
Tes..
Tes**..
Air mata Fika menetes deras di kedua pipi nya, dia teringat dengan ayah nya yang sudah tiada, ingin rasa nya Fika menangis dan berteriak kalau dia sangat merindukan ayah nya itu.
Fika menundukkan kepala nya, dia menghapus dengan kasar air mata nya, tetapi tetap saja tidak berhenti.
Tama memberikan tissue kepada Fika dan menerima nya.
"Te..terima ka...sih tuan."Ujar Fika sesenggukan.
"Apa kau sudah merasa tenang?"
"Sudah tuan."
"Ayah saya dulu bekerja di perusahaan, entahlah saya juga tidak tau perusahaan apa, beberapa tahun bekerja ayah selalu mendapat bonus dari bos nya karena ayah sangat royal bekerja, tetapi entah kenapa hari itu, ayah di pecat dan di masukkan kepenjara, ayah bilang kalau dia tidak melakukan itu, sejak saat itu keluarga kami di bully korupsi oleh tetangga, ayah mengalami depresi dan akhir nya meninggal dunia di dalam penjara."
Fika mengelap air mata nya, mata nya sudah bengkak dan wajah nya juga sembab.
"Sejak saat itu, ibu berjualan kue untuk menopang kehidupan kami, tetapi naas ibu di tabrak oleh pengendara sepeda hingga kaki ibu patah, hiks...hiksss, saya sudah mencoba membawa ibu berobat, tetapi biaya nya sangat mahal, akhir nya saya meminjam uang kepada rentenir dengan bunga yang sangat besar, untuk mengobati ibu, tetapi semua sia sia saja, kaki ibu tidak bisa di obati, dan ibu harus memakai tongkat untuk berjalan, sementara pemasukan tidak ada, utang sudah menumpuk, akhirnya rumah peninggalan ayah terpaksa kami jual untuk menutupi semua nya, sisa dari penjualan rumah kami pakai untuk pindah dan menetap di sini."
"Apa kau pernah mencari tahu siapa yang menuduh ayah mu?"
"Ingin sekali dulu aku mencari tau, tetapi terkendala dengan biaya."
"Jika kau mengetahui semua nya, apa yang akan kau lakukan."
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa dia melakukan itu kepada ayah ku, hiksss....hiksss."
Vico hanya menundukkan kepala nya, rasa nya dia tidak sanggup untuk melihat Fika.
"Jika kau sudah mendapat jawaban dari orang yang membuat ayah mu seperti itu, apa yang kau lakukan,apa kau akan memafkan nha?"
**Deg
Deg**
Jantung Vico serasa berlari 100 km, dia menggigit bibir bawah nya, wajah nya sudah pucat.
"Saya memaafkan nya, saya ikhlas mungkin sudah takdir Tuhan seperti itu."Fika kembali menunduk
"Vic apa lu gak mau bicara."
Vico langsung melihat Fika, dia berjalan menuju sofa dan duduk di depan Fika.
"Fik, aku minta maaf sebesar besar nya karena secara tidak langsung sudah membuat hidup mu menderita."
"Maksud nya bagaimana ya tuan, saya tidak mengerti."
"Yang membuat papa kamu di pecat adalah ulah dari papa ku."ucap Vico pelan.
Deg!!
__ADS_1