
Fika hanya duduk di sofa yang berada di ruang rapat, sesekali dia bergerak karena rasa kebas di bokong nya akibat terlalu lama duduk.
Tama yang juga duduk di depan sofa Fika melihat Fika yang sudah merasa tidak nyaman.
"Kau kenapa?"
"Eh...tidak apa apa tuan, apakah saya sudah boleh kembali tuan."
"Tunggu sampai gel ini menyerap ke kulit mu."
"Tapi tuan itu akan lama, pekerjaan saya masih banyak tuan."
"Diam jangan membantah."
Fika kembali menundukkan kepala nya, dia bingung terkadang boss nya itu berkata lembut dan terkadang berkata dingin.
Setelah menunggu hampir 20 menit, gel yang di oles ke tangan Fika sudah mulai mengering, dan itu artinya Fika sudah mulai untuk kembali bekerja.
"Tuan ini sudah kering, saya kembali bwkwej ya tuan."
"Hem."
"Terima kasih tuan."Fika membungkukkan sedikit badan nya dan keluar dari ruangan rapat meniggalkan Tama seorang diri
__ADS_1
Selang 10 memit Tama juga keluar dari ruangan itu, membuat Tari terkejut kenapa tuan nya dan Fika hanya berselang 10 memit bisa keluar, dan hanya mereka saja yang di dalam.
Berbagai pertanyaan muncul di otak Tari. Tari memgepalkan kedua tangan nya.
Aku harus bertindak cepat, bisa bisa perempuan itu mengambil Tama dari ku.
Tama yang melewati meja Tari hanya berjalan saja tanpa ada sapaan dan senyuman, dan itu semakin membuat Tari murka.
Tari pun menyelesaikan hasil rapat tadi dengan cepat supaya dia bisa mencari cara agar perempuan itu bisa keluar dari pekerjaan nya.
🌻🌻🌻
Di kediaman Tama
"Ma jangan yang aneh aneh, mama tau kan gimana sifat nya Tama, dia enggak akan pernah mau sama anak kolega mama itu, lagian Tama pasti bisa nyari jodoh nya sendiri."
"Mama enggak mau ya pa dapat menantu yang asal usul nya enggak jelas."
"Itu semua tergantung yang di atas ma, kita hanya mengikuti takdir."
"Pokok nya mama tidak akan setuju dengan pilihan Tama, kecuali bibit, bebet dan bobot nya jelas, titik."
"Mama lihat bernadeth pilihan mu semenjak dia menikah dengan Mike dan karir model nya melunjak tinggi, dia hampir tidak ingat dengan suami sendiri, dia hanya memikirkan model nya saja, dan lihat Mike anak mu yang terlalu mama manjakan seperti kerbau di cucuk hidung nya, tidak pernah tegas dengan istri nya, Mike berhak menyuruh istri nya untuk berhenti menjadi model, sampai kapan mereka akan seperti itu, mau sampai kapan mereka akan memberi kita cucu kalau dalam 1 bulan saja mereka hanya berjumpa 2 kali."
__ADS_1
Evan mengeluarkan semua uneg uneg nya yang selama ini di pendam nya. Menantu pilihan istri nya hanya karena kaya.
"Pokok nya pilihan Tama harus seperti yang mama inginkan, kalau masalah Mike yang terlalu memanjakan Bernadet istri nya karena memang istri nya sudah di manjakan dari kecil oleh keluarga nya dan mama juga menyukai nya."
Evan hanya bisa menghela nafas nya, sangat susah mengubah pola fikir istri nya ini. Yang di fikir kan hanya harta dan harta saja.
Mama Tiara yang sudah menyampaikan keinginan nya pun beranjak dari sofa tempat mereka bersantai di ruang keluarga. Dia menghubungi teman sosialita nya yang mempunyai anak gadis seorang dokter lulusan luar negeri agar bertemu dengan nya.
Tiara pun berkemas dan berdandan, tidak lupa dengan perhiasan perhiasan mahal yang bertengger di tangan dan leher nya, dia juga menjinjing tas nya seharga 1 buah mobil.
"Mama mau kemana?"
"Mama mau ketemu sama teman mama, dia punya anak gadis dokter, mama mau lihat siapa tau cocok jadi istri Tama."
"Terserah mama saja."
Tiara pergi dengan santai nya, suara hills yang di pakai nya berbunyi di rumah itu. Dia di supiri oleh supir andalan nya yaitu pak Tono.
"Silahkan nyonya besar."Tono membuka pintu belakang dan kemudian duduk di bangku kemudi.
"Antarkan saya ke restoran MM."
"Baik nyonya besar."
__ADS_1
Supir membawa nyonya besar nya ini dengan kecepatan sedang saja. Selama perjalanan tidak ada percakapan apa pun karena memang Tiara menjaga jarak dengan para pekerja nya dengan alasan tidak selevel.