
Fika masih setia dengan menunggu, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, tetapi belum ada juga tanda tanda untuk arahan istirahat.
"Sudah jam 1, perut lapar sekali, apa sudah bisa istirahat belum ya, bu martha mana lagi."
Di saat dia asik dengan lamunan nya, seorang kepala chef memperhatikan nya.
"Hei..kenapa melamun di situ."
"Eh...bukan melamun chef, tapi masih menunggu bu Martha, ada yang ingin saya tanyakan."
"Tanya apa."
"Saya sudah bisa istirahat belum, perut saya lapar chef, hehehehe."
"Bu Martha ada di ruangan itu, tanyakan saja ke sana." Sambil menunjuk ruangan paling sudut.
"Oh..terima kasih ya chef."
Fika langsung bergegas menuju ruangan bu Martha.
Tok..Tok...Tok..
"Masuk."
"Ada apa Fik?"
"Maaf mengganggu bu Martha saya cuma mau nanya, saya sudah bisa istirahat belum ya bu?"
"Astaga..ini sudah jam 1 siang, maaf ya ibu lupa memberitahukan mu kalau jam istirahat pukul 12 siang sampai jam 1/2 1 siang, ya sudah silahkan istirahat, habis itu lanjut pekerjaan mu ya."
"Iya bu Martha terima kasih, saya permisi bu."
Fika menutup pintu dengan pelan dan berjalan kembali ke tempat semula. Dia mengambil bekal yang di bawa nya dari rumah.
Kepala chef yang bernama Justin melihat Fika yang lagi makan dengan lauk seadanya. Dia pun mendekati Fika.
__ADS_1
"Kamu bawa bekal dari rumah."
"Hah...iya chef."
"Lain kali tidak udah bawa, kamu bisa makan di sini."
"Saya tidak berani chef, bu Martha belum ada bilang begitu chef."
"Nanti saya beritahu bu Martha."
"Maaf chef sebelum nya apa uang makan bisa di masukkan ke dalam gaji saya saja?" Ujar Fika dengan pelan.
"Memang nya kenapa, kamu tidak ingin makan di sini."
"Bu..bukan begitu chef saya kan membawa bekal dari rumah, uang nya untuk keperluan ibu saya saja chef."
"Maksud mu bagaimana, saya tidak mengerti."
"Saya punya ibu yang pincang di rumah chef, jika boleh uang makan di masukkan ke dalam daftar gaji saya, saya ingin membeli tongkat buat ibu saya, kasihan ibu cuma bisa pakai kayu untuk membantu nya berjalan."Tanpa sadar Fika menetes kan air mata nya."
"Ayah sudah meninggal chef."
"Jadi kamu tulang punggung keluarga mu?"
"Iya chef."
"Kasihan sekali anak ini, masih muda tapi menanggung beban yang begitu berat."batin Justin
"Baiklah nanti saya akan memberitahukan kepada bu Martha, sesuai keinginan mu."
"Terima kasih chef."Fika menundukkan badan nya tanda mengucapkan terima kasih.
Yang tidak di ketahui Fika adalah, Justin sendiri lah pemilik dari Hotel tersebut, dia juga seorang koki terkenal.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Pukul 8 malam, Fika sudah membersihkan semua piring kotor, dia juga sudah mengepel lantai yang basah.
Dia mengambil tas nya dan izin pamit untuk pulang. Karena akan berganti shift dengan teman lain nya.
"Bu Martha saya izin pulang bu."
"Oh..silahkan besok jangan telat ya."
"Iya bu, mari bu."
Fika berjalan pulang, jarak tempuh untuk berjalan kaki harus di lalui Fika selama kurang lebih 25 menit. Fika yang teringat bahwa di rumah tidak ada bahan masakan, dia singgah di warung yang masih buka untuk membeli telur dan mie instan.
"Ibu..Fika pulang bu."
"Kakak..ibu di kamar."
"Fael sama ibu sudah makan?"
"Sudah kak, tadi tetangga kita ngasi makanan."
"Oh begitu, ya sudah fael temani ibu dulu ya, kakak mau mandi."
"Iya kak."
Selesai membersihkan diri, Fika menemui ibu nya di dalam kamar.
"Kamu sudah pulang nak."
"Sudah bu."Sambil duduk di samping ibu nya.
"Pasti kamu lelah kan, sini ibu pijat tangan dan kaki mu."
"Enggak kok bu, biar Fika aja yang pijat ibu, ibu rebahan saja oke."
Fika mulai memijat kaki ibu nya yang pincang, meskipun tidak pintar, Fika berharap sedikit demi sedikit kaki ibu nya bisa kembali ke posisi semula meskipun mustahil rasa nya tapi Fika tetap optimis.
__ADS_1