Ceo Dingin Dan Cleaning Service

Ceo Dingin Dan Cleaning Service
Episode 14 Ulah Tari


__ADS_3

Selepas kembali ke pantry Fika langsung membereskan dan merapikan semua yang terlihat kotor.


Karena sudah jam istirahat, Fika hanya duduk saja di dalam pantry, karena dia sudah makan sebelum jam istirahat.


Vico yang kebetulan lewat hendak ke ruangan Tama melihat pintu pantry terbuka, ingin rasa nya dia menemui Fika kembali, tetapi masih ada rasa takut jika Fika tidak menerima permintaan maaf nya.


"Bro...gimana Fika udah ada ngomong gak maafin gue."


"Belum."


"Hufffttt...gue merasa bersalah banget ke dia bro, ntah gimana cara nya supaya dia bisa maafin gue."


"Biarin aja dulu, pelan pelan nanti dia maafin lu."


"Oke alh gue ikutin cara lu dah makan belum bro."


"Duluan aja, gue belum lapar."


"Oke lah, bye." Vico pun keluar dari ruangan Tama menuju ke bawah untuk mencari makan.


Pukul 5 sore Fika pun mulai menyusun semua barang barang nya, dia juga memasukkan sup dan nasi hainan yang di berikan Tama kepada nya.


Setelah itu Fika menutup pintu pantry dan berjalan ke arah lift, kebetulan juga Tama keluar dari ruangan dan menuju lift.


Ting


Secara bersamaan mereka masuk ke dalam lift, Fika yang menyadari itu pun menahan lift agar tidak tertutup, dia hendak keluar karena rasa nya tidak etis berada 1 lift dengan boss nya.


"Kamu kenapa keluar, tetap di sini."


"Tuan dulu saja, saya turun tangga saja tuan." sambil keluar dari Lift.


Tama membiarkan Fika turun tangga, dan dia meneruskan untuk turun dengan lift.


Tama sudah berada di mobil nya, dia sengaja belum menghidupkan mobil nya karena dia ingin melihat Fika.


"Hah..hah..hah..capek sekali, mana panas lagi, bisa bisa aku makin kurus kalau tiap hari naik turun tangga begini."


Fika sampai di lobby lalu berjalan keluar dari perusahaan dan menuju jalan besar untuk menunggu angkot yang lewat.


Tama menghidupkan mobil nya dan mengendarai nya sangat pelan, dia masih melihat Fika menunggu angkot.


Fika naik ke dalam angkot yang sudah terasa penuh, dia harus duduk di bangku tempel yang menghadap keluar.


Takut sudah pasti, tapi menunggu angkot yang lewat membutuhkan waktu yang lama apalagi ini jam pulang karyawan.


Kau wanita yang begitu istimewa, jarang aku menemukan wanita seperti mu, kau hanya milik ku Fika.


Tama mengikuti angkot yang membawa Fika, dia sengaja mengikuti nya karena takut apabila Fika jatuh dia bisa langsung menolong nya.


Setelah hampir 30 menit, terlihat Fika turun dari angkot dan masuk ke jalan sempit yang hanya bisa di lalui oleh pengendara sepeda motor.


Tama memberhentikan mobil nya dan keluar, dia melihat Fika berjalan di jalan yang becek sambil mengangkat celana nya agat tidak terkena becek.


Dari jauh Tama memantau Fika. Fika berhenti di rumah yang terbilang sangat sederhana.


Setelah memastikan Fika masuk, Tama pun masuk ke mobil dan berlalu.


"Ibu...aku pulang."Ucap Fika antusias


"Iya nak, langsung mandi ya nak biar segar."Lasma ibu nya Fika datang dengan memakai tongkat nya.


"Sebentar bu, aku mau narok ini dulu di tempat nasi supaya panas."


"Memang nya itu apa nak."


"Ini sup iga merah dan nasi hainan bu dari tempat kerjaan Fika."


"Oo...ya sudah kalau begitu."


Fika lalu bergegas membersihkan tubuh nya dan memakai baju sederhana nya.


Tepat pukul 7 malam, Fika mengajak ibu dan adik nya untuk makan malam


"Wah...ini kan sup iga kan kak?"tanya Fael antusias


"Iya, ini sup kesukaan mu kan."


"Iya kak."


"Makan lah yang banyak, ayo ibu juga makan yang banyak ya."


"Iya nak."


Mereka makan dengan tenang, Fael yang menikmati sup iga itu sesekali menyeruput isi iga nya dengan kuat dan membuat ibu dan kakak nya tertawa melihat nya.


Aku akan melakukan apapun untuk melihat senyum di wajah ibu dan adik ku, sekalipun harus mengorbankan cita cita dan masa depan ku.


Sehabis makan malam dan membersihkan semua piring kotor, Fika pun membaringkan diri nya di tempat tidur, ibu dan adik nya sudah duluan berdayu bersama mimpi mereka.


🌻🌻🌻


"Bu Martha apakah anda sibuk?"


"Tidak chef silahkan duduk,ada apa ya chef?"


"Huffftttt...Saya sudah mengetahui bahwa anda yang sengaja memfitnah Fika, apa motif bu Martha melakukan itu?"


"Deg..Saya tidak melakukan apa apa chef, pasti ada yang memutarbalikkan fakta chef?"Martha mencoba untuk berbohong


"Saya sudah melihat cctv dan kamu terekam jelas di situ."

__ADS_1


"Saya sengaja melakukan itu, karena saya tidak suka dengn sifat Fika yang pura pura polos tapi seperti ular."


"Apa maksud mu."


"Aku tidak suka dia mengambil milik ku."


"Milik mu yang mana yang di ambil nya?"


"Saya tidak suka dia mendekati chef, karena...karena saya mencintai mu chef."Ujar Martha pelan.


"Fika tidak pernah mendekati ku, justri sebaliknya aku lah yabg mendekati nya aku menyukai nya, apa kau paham bu Martha?"


"Saya tidak terima chef, saya menyukai chef telah lama, kenapa dia yang baru di sini bisa mengambil hati chef."


"Itu bukan kamu yang menentukan nya Martha, kau sudah melebihi batas mu, aku tidak bisa mentolerir kelakuan mu ini."


"Apa maksud chef.?"tanya Martha dengan rasa takut nya


"Aku memecat mu."


Duar!!!


"Maafkan saya chef, tolong jangan pecat saya, saya salah, saya melakukan itu karena saya cemburu chef dekat dengan nya, hikss...hiksss.."


"Maaf Martha tapi ini adalah keputusan ku."


"Saya akan lakukan apa pun chef asal jangan pecat saya."


"Baiklah..aku tidak akan memecat mu melainkan akan memindahkan mu ke bagian lobby menjadi customer service,."


"Tapi chef."


"Kalau kau tidak setuju, silahkan angkat kaki mu dari sini."


"Baiklah chef aku terima kepindahan ku."


Chef Justin lalu pergi dari ruangan Martha, dia ingin menghubungi Fika agar kembali bekerja di hotel nya. Sementara Martha setelah kepergian Chef Justin , dia mengepalkan kedua tangan nya, emosi nya memuncak, harga diri nya jatuh serendah rendah nya di depan orang yang di cintai nya.


🌻🌻🌻


Seperti biasa Fika sudah sampai di kerjaan nya, dia pun memulai dari ruangan Tama agar saat Tama nanti datang ruangan itu sudah bersih dan wangi.


Tari yang sudah sampai di lantai 7 langsung duduk di kursi nya, dia datang lebih awal karena akan di adakan rapat bulanan seperti biasa.


Setiap laporan dari semua divisi akan di tampilkan di layar dengan seorang moderator setiap divisi.


Tari dengan cepat memprint semua pekerjaan nya, karena waktu yang terus berputar hanya tersisa 10 menit untuk mengadakan rapat di ruang rapat.


Setelah semua nya selesai, Tari langsung memasuki ruangan rapat, dia duduk di samping kiri Tama sedangkan di sebelah kanan Tama ada Vico sang asistant nya.


Rapat berjalan alot, karena kebanyakan tidak sesuai dengan keinginan Tama. Perwakilam dari setiap divisi hanya bisa menunduk mendengar kemarahan Tama


Brak!!


"Baik pak."Ujar serempak yang mengikuti rapat.


Tama lalu melanjutkan rapat nya, kemudian Vico memberi kode kepada Tari agar menyediakan cemilan kue dan kopi.


Tari lalu keluar ruangan dan sengaja memanggil Fika untuk mengerjakan apa yang di perintah Vico.


"Belikan cemilan kue dan buatkan kopi ke ruangan rapat sekarang, jangan pakai lama, cepat."


"Ada berapa orang ya bu?"tanya Fika


"Sekitar 20 orang."Ketus Tari


"Baik bu."


Fika pun dengan cepat membeli cemilan kue kue basah yang berada restoran depan perusahaan, setelah itu dia menyusun nya dengan rapi di atas piring.


Fika pun berjalan dengn membawa nampan yang berisi kue kue.


Tok...Tok..


Tari langsung membuka pintu karena tahu bahwa Fika lah yang masuk.


"Ini bu kue nya."


"Buat ke meja sana, cepat." Ujar Tari pelan.


Fika langsung meletakkan piring piring kecil di depan para karyawan, sambil tersenyum.


Kemudian dia keluar kembali untuk mengambil kopi yang akan di suguhkan nya.


Karena kedua tangan Fika memegang nampan, dia mendorong pintu ruang rapat dengan punggung nya. Kemudian dia masuk dan masih memegang nampan itu.


Dia bingung bagaimana cara nya memberikan kopi kopi itu kepada karyawan sementara kedua tangan nya masih memegang nampan.


Dia melihat sekeliling nya, terlihat lah satu kursi yang berada di pojok, Fika meletakkan nampan itu di atas kursi kosong.


Dia membagikan satu persatu kopi itu. Ketika sudh berada di dekat Tari, Tari dengan sengaja memajukan kaki kanan dan Fika yang lewat tersandung dengan kaki Tari, dan tumpahlah kopi panas itu mengenai celana Tama dan tangan Fika.


Prang...


Tama langsung berdiri dan mengibas ngibaskan celana nya, dia mengeluarkan sapu tangan nya dan mengelap celana nya yang basah.


Wajah Tama memerah karena memendam amarah. Semua karyawan hanya bisa menelan ludah nya karena sebentar lagi es batu akan meledak.


"Rapat selesai."Ujar Tama dingin


Semua para karyawan langsung keluar dengan menunduk dan membawa kopi nya.

__ADS_1


Vico, Lisa dan Fika lah yang tertinggal di ruangan rapat.


"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja."Ujar Fika dengan menunduk, air mata nya sudah menggenang di pelupuk mata.


Vico melihat wajah Fika yang sudah memucat, dia merasa kasihan dengan Fika, entah apa yang akan di lakukan Tama pada Fika.


"Tari keluarlah."Ujar Vico.


"Baiklah tuan."Tari keluar dengan tersenyum, dia berharap Fika akan di pecat dan dia tidak akan memiliki saingan lagi.


"Tuan saya mohon maafkan saya, tuan bisa memotong gaji saya, tapi tolong jangan pecat saya."Fika memohon kepada Tama, tampaklah tangan Fika yang sudah memerah dan sedikit menggelembung, tetapi Fika tidak peduli sama sekali.


Tama menatap Fika dengan tajam, sebenar nya dia sangat marah tetapi ketika melihat tangan Fika, amarah nya langsung reda.


"Huffttt..."Tama membuang nafas nya kasar.


"Apa kau yakin gaji mu akan dipotong dan bisa mengganti celana ini."


hening...


"Gaji mu sebulan penuh akan ku potong, apa kau bersedia?" Tanya Tama.


Fiak menundukkan kepala nya, jika dia tidak gajian bulan ini maka uang tabungan nya yang di simpan di ibu nya terpaksa harus di keluarkan untuk biaya hidup ke depan, dan alasan apa yang akan di katakan nya kepada ibu nya.


Vico pun hanya terdiam karena tidak tau harus berbuat apa.


"Baiklah, karena kau tidak menjawab ku anggap jawaban mu adalah iya kau bersedia di pecat."


Deg!!


Fika langsung mengangkat kepala nya dan melihat Tama, seketika air mata Fika menetes deras di kedua pipi nya, kesalahan nya kali ini sungguh fatal.


"Ba..baiklah tu..an, sa..ya per..misi.."Ucap Fika sesenggukan.


Fika pun hendak keluar dari ruangan rapat tapi suara Tama memberhentikan langkah nya.


"Apa kau fikir gaji sebulan mu cukup untuk mengganti nya?"


Vico pun mulai paham dengan boss sekaligus sahabat nya ini, dia tersenyum karena boss ny ini sudah terpikat oleh daya tarik Fika tetapi rasa gengsi nya yang tinggi mengalahkan semua nya.


"Ja..di sa..ya harus baga..imana tu..an."


"Tetap bekerja di sini, tetapi gaji mu akan tetap di potong sampai dengan harga celana ini."


"Terserah tuan saja."Ujar Fika pelan.


Vico pun langsung berbisik ke Tama.


"Kau sangat pintar menarik ulur nya, aku mundur mengejar Fika, luluhkan lah hati nya bro, hehehe." bisik Vico


"Keluar Vic."Ujar Tama pelan


Vico langsung keluar, karena dipastikan akan ada yang di bicarakan Tama dengan Fika.


"Saya permisi tuan."


"Kesini."


Fika membalikkan tubuh nya dan melihat Tama.


"Kesini Fika, apa aku harus menggendong mu dulu."


"Tidak tuan."


Setelah Fika mendekat, Tama langsung mengambil tangan Fika dan melihat yang kemerahan.


"Tunggu di sini jangan kemana mana."Tama lalu keluar ruangan dan mengambil P3K yang di ruangan nya dan membawa nya keruang rapat.


Tama duduk di depn Fika dan membuka gel untuk mengobati tangan Fika.


"Eh...tidak usah tuan, tangan saya tidak apa apa." Fika menarik tangan nya.


"Diamlah jangan bergerak."


Tama mengoles gel dingin ke tangan Fika dan sedikit meringis.


"Sssstttt.."Fika menggigit bibir bawah nya karena merasa sedikit nyeri.


Tanpa berbicara Tama lalu meniup tangan Fika agar mengurangi rasa nyeri nya. Fika terkesiap melihat yang di lakukan Tama kepada nya.


"Sudah tuan terima kasih banyak."


"Diamlah."


"Saya harus bekerja tuan."


"Gel ini belum kering, bagaimana kau bisa bekerja, kau ingin tangan mu infeksi, begitu?"


Fika terdiam, karena Tama sudah mengeluarkan ucapan nya yang dingin membuat Fika ketakutan dan hanya bisa menunduk.


"Pekerjaan mu akan di lakukan oleh yang lain."


"Jangan tuan, itu kan pekerjaan saya." Tolak Fika.


Tama memandang tajam, Fika mengerucutkan bibir nya dan itu sukses membuat Tama tersenyum


Sungguh menggemaskan jika kau seperti itu.


"Jangan pernah membuat bibir mu seperti itu di depan laki laki lain."


"Maksud nya tuan."

__ADS_1


"Aku tidak suka kau membuat bibir mu seperti tadi di depan laki laki lain, kau mengerti."


Fika hanya menganggukkan kepala nya, dia merasa aneh dengan tuan nya ini tetapi dia juga tidak bisa menolak nya.


__ADS_2