
"Apa? " Teriak seorang Remaja, di depan kedua orang tua nya, dia bernama Rifki Saputra, atau biasa disapa Iki,
"Aku gak mau dijodohkan Ma! " Tegas Iki pada sang Ibu yang biasa dia panggil Ema
"Tapi nak, ini demi balas budi Ema sama orang tua perempuan calon jodoh kamu" Jawab Ema Iki, yang bernama Ma Esih
"Iya betul nak, dia cantik loh" Tegas Pak Arman ayah Iki
"Pokoknya aku gak mau dijodohkan" Tegas Iki
"Tapi -" Belum selesai Ema berbicara langsung dipotong oleh Iki
"Kalau Ema tetap maksa, lebih baik Iki kabur aja dari rumah" Potong Iki sambil berlalu pergi
"Sudah lah Ma, biarkan saja dulu, dia masih muda masih belum bisa berfikir jernih" Pak Arman menenangkan Ma Esih
"Tapi Pak, Ema gak enak sama teman Ema yang dikota, " Timpal Ma Esih
"Nanti kita bicarakan lagi ya, sekarang lebih baik Ema masak, bapak udah lapar, abis dari sawah belum makan" Perintah Pak Arman dan di angguki oleh Ma Esih
Keluarga Iki sendiri hidup di kampung yang cukup jauh dari perkotaan, warga disana hidup dengan cara bertani, walaupun tidak sedikit yang lebih memilih untuk merantau ke kota, warga disana hidup rukun, orang tua Iki sendiri sangat dihormati disana, bukan karena harta dan jabatan, tapi karena sikap dan sifat mereka yang baik terhadap tetangga, walaupun hidup sederhana tapi mereka selalu berbagi kepada warga lain yang membutuhkan, Iki sendiri mempunyai kakak perempuan bernama Anisa, dan kuliah di kota lain,
Setelah berdebat dengan orang tua nya, Iki pergi ke pinggir sungai tempat biasa dia berkumpul dengan kawannya,
"Ki, ari maneh kunaon ngalamun wae? (Ki, kamu kenapa melamun saja? )" Ardan sahabat Iki
"Kasambet jurig tangkal cau meren Dan, (kesambet setan pohon pisang kaya nya Dan) " Jawab Reno sahabat Iki yang satunya
"Teuing, titadi ngan ngalamun wae, mikirin naon maneh? (Gak tau nih, dari tadi melamun saja, mikirin apa kamu?) " Ardan,
"Aku di jodohin sama Ema ku Dan, Ren" Jawab Iki
"Ya kan bagus, biar kamu gak nonton film jorok terus Ki, hahaha,,," Timpal Reno sambil tertawa
"Enak saja, kamu tuh yang otaknya jorok terus, "
"Emang siapa yang mau dijodohkan sama kamu? Si Eti, si Minah atau si Julaeha? " Tanya Ardan
"Bukan dodol, temannya Ema yang ada di kota" Jawab Iki
"Cantik gak Ki, kalau cantik buat ku aja gapapa" Reno
"Mana kutau, kata Ema umurnya udah 27 tahun" Jawab Iki
__ADS_1
"Jangan-jangan jelek Ki, cewek kan paling mentok umur 25 udah nikah," Timpal Ardan
"Tapi kan kita lulus SMA aja belum, masa Ema udah mau jodohin kamu aja Ki? " Tanya Reno
"Gak tau lah, pusing aku mikirin nya" Jawab Iki frustasi
"Terus mau kamu gimana sekarang Ki? " Kali ini Ardan yang bertanya
"Gak tau aku juga Dan" Jawab iki
"Bantuin mikirin dong gimana caranya agar aku gak jadi di jodohin" Lanjut Iki
Beberapa lama mereka berfikir,
"Hmmmm,,, aku punya ide" Ardan sambil mengetuk-ngetuk kepalanya
"Apa? " Tanya Iki dan Reno bersamaan
"Gimana kalau setelah hari kelulusan kita kabur aja ke kota, kerja disana setelah beberapa lama baru kita balik lagi, pasti kamu gak jadi dijodohin karena kamu gak ada, dan Ema kamu gak akan jodohin kamu lagi! " Ardan memberi saran
"Di kota mau kerja apa kalau cuma lulusan SMA? " Tanya Ik
"Ya kita cari lah yang cocok buat kita! " Jawab Ardan,
"Jadi menurut kamu gimana Ren?" Tanya Iki pada Reno
"Jadi setelah hari kelulusan dan mendapatkan Ijazah kita langsung berangkat, " Ardan
"Kita di kota tinggal dimana? " Tanya Reno
"Kita patungan nyari Kostan, setuju gak? " Jawab Ardan
"Oke kita seteujut" Jawab Iki dan Reno
Waktu berlalu, kini hari kelulusan pun tiba, Iki, Ardan dan Reno berada di kelas untuk mengambil Ijazah, ini adalah hari yang ditunggu-tunggu ketiganya, selain senang karena lulus, mereka juga akan melanjutkan rencana mereka untuk pergi ke kota,
"Ki, jadi kapan acara perjodohan kamu? " Tanya Ardan
"Besok siang Dan" Jawab Iki
"Berarti nanti malam kita siap-siap, kita berangkat sebelum Subuh" Ardan menjelaskan
"Oke, aku juga udah siap" Sahut Reno
__ADS_1
Dan acara kelulusan pun selesai, Ijazah sudah dibagikan, para siswa pun mulai beranjak pulang, malam pun siang pun berganti malam, terlihat Iki mengendap-ngendap, dia memastikan kedua orang tua nya tidur, setelah memastikan kedua orang tua nya, dia pun keluar jendela kamarnya, dia pun berlari sekuat tenaga menjauhi area rumahnya, sampai tempat tujuan terlihat Ardan dan Reno sudah menunggu,
"Lama sekali kamu Ki, aku sampai pegel nunggu" Keluh Reno
"Ya maaf, tadi Ema sama Bapak gak tidur-tidur" Jawab Iki
"Sudah, sekarang kita berangkat sebelum ada yang liat kita" Ardan memberi intruksi.
Mereka pun berjalan meninggalkan tempat tersebut, dan menaiki angkutan umum untuk menuju terminal, sesampainya di terminal, mereka mencari Bis yang sesuai arah tujuan mereka, setelah menemukan bis yang dimaksud mereka pun menaiki bis tersebut, hanya dalam hitungan menit bis pun berangkat
Pagi menjelang, di sebuah rumah sudah dihebohkan dengan kejadian yang tidak terduga,
"Pak, bapak Iki gak ada di kamar pak" Teriak Ma Esih ketika masuk kamar Iki untuk membangunkannya,
"Ada apa Ma subuh-subuh begini teriak-teriak" Jawab sang suami
"Iki gak ada di kamar Pak" Ma Esih terisak
" Masa sih Ma, semalam kan masih ada," Pak Arman
"Bapak liat aja sendiri pak kalau gak percaya" Titah Ma Esih
Pak Arman pun masuk kamar Iki, dan benar saja, dia tidak mendapatu anaknya di kamar, Ia pun mencari di seluruh sudut kama, dilihat lemari nya pun kosong, ketika Pak Arman akan keluar kamar, dia melihat Secarik kertas
"Apa ini,? Ma, Ema, coba lihat sini! " Panggil Pak Arman pada istrinya
"Ada apa pak? " Jawab Ma Esih
" Coba lihat ini, ini pesan dari Iki seperti nya Ma" Pak Arman sambil menyerah kan kertas tersebut, kemudian mulai dibaca oleh Ma Esih
"Assalamu'alaikum Ma, Pak, sebelumnya Iki minta maaf, karena Iki pergi tidak pamit sama Ema dan Bapak, alasan Iki pergi karena Iki tidak mau dijodohkan, Iki masih ingin hidup bebas, ingin kuliah seperti Teh Anisa, Ema sama Bapak gak usah nyari Iki, dan tak usah sedih, Iki pasti kembali, Sekali lagi Iki minta maaf, salam sayang Iki untuk Ema sama Bapak, wasalamualaikum," Isi surat tersebut
"Pak Iki kabur Pak," Isak Ma Esih
"Udah Ma, tenang dulu, biar nanti bapak minta bantuan warga lain buat bantu nyari," Jawab pak Arman
"Bagaimana nanti menjelaskan sama temen Ema pak, Ema malu, " Ma Esih.
"Biar nanti bapak yang jelaskan, sekarang Ema tenang dulu," Pak Arma menenangkan sang Istri
Pak Arman pun membawa istrinya kembali ke kamar, kemudian dia keluar untuk mencari Iki, dan meminta tolong kepada warga lain
Bersambung,,,,,,,,
__ADS_1
Hai semuanya, ini ada karya kedua ku, semoga kalian suka,
Maaf jika masih banyak kesalahan Terima kasih,,,,