
Sore pun menjelang cukup lama Iki dan kedua sahabatnya beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Intan pun membangunkan mereka bertiga,
"Iki, Ardan, Reno, bangun udah sore, sebentar lagi magrib," Intan sambil mengetuk pintu masing-masing kamar
"Iya Mbak," Jawab Iki dan Ardan bersamaan
"Kalian sudah bangun rupanya" timpal Iki
"Iya mbak, saya sudah bangun dari tadi pas Ashar," jelas Iki
"Saya juga" tambah Ardan
"Berarti Reno doang yang belum bangun?" Tanya Intan
"Dia memang paling kebo mbak," jawab Ardan
"Ya udah sekarang kalian bangunkan Reno, nanti abis Maghrib saya tunggu di bawah ya" tutur Intan
"Iya mbak" jawab Iki dan Ardan, Intan pun hanya tersenyum sambil berlalu pergi ke lantai satu
"Cantiknya" Gumam Iki
"Apa Ki? " tanya Ardan, yang sedikit mendengar Gumaman Iki
"Ng-nggak, gak ada apa-apa" jawab Iki gugup
"Jangan macam-macam kamu ya Ki, dia udah punya anak" jelas Ardan
"Iya tau, lagian kan cuma mengagumi ciptaan Tuhan masa gak boleh" jawab Iki
"Bukan gak boleh, tapi mata loe salah sasaran Rifki Saputra" Ardan sedikit kesal pada sahabatnya tersebut
"udah ah, mending bangunin Reno aja, daripada kamu marah-marah, aku mau lanjut beresin baju lagi," tutur Iki sambil masuk kembali ke kamarnya
"Dasar bocah gemblung, main tinggal aja" Ardan kesal
Mau tidak mau Ardan pun membangunkan Reno, setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tidak ada jawaban Ardan pun masuk ke kamar Reno,
"Astaghfirullah nih bocah tidur apa pingsan," kesal Ardan karena sahabatnya tersebut dari tadi tidak bangun-bangun
"Woy bangun, udah sore" Ardan sambil menggerak-gerakan tubuh Reno beberapa kali
"Mendingan bangunin beruang daripada bangunin nih bocah, tidur udah kaya orang mati, harus di apain ya nih bocah agar bangun" Ardan sambil mengetuk ngetik kepalanya mencari ide,
Saking kesalnya Ardan pada Reno karena tidak bangun-bangun, akhirnya dia pun memiliki ide untuk membangunkannya, Ardan pun menyembur Reno dengan air mineral yang sengaja dia bawa
"Banjir, banjir, banjir" Reno panik merasakan basah di mukanya
"Banjir matamu, makanya buruan bangun udah sore, susah amat bangunin loe Ren" Ardan yang merasa kesal pada sahabatnya tersebut
"Yah baru juga mimpi indah ketemu artis cantik malah dibangunin" keluh Reno,
"Artis gundulmu," Ardan semakin kesal dengan jawaban Reno,
"Tidur lagi, ku guyur satu ember" Ardan tambah kesal karena Reno yang kembali merebahkan tubuhnya
"Iya, iya komandan, aku bangun nih" jawab Reno malas
__ADS_1
Malam pun menjelang, setelah selesai menjalankan sholat Maghrib mereka bergegas keluar,
"Kalian mau kemana?" tanya Bu Fatimah
"Mau nyari makan Bu" jawab Iki
"Kalian makan disini aja, Ibu udah nyiapin buat kalian" ajak Bu Fatimah
"Tapi Bu-" belum selesai Iki menjawab dipotong duluan sama Bu Fatimah
"Udah gapapa, Intan udah cerita semua sama Ibu, kalian juga ngekost disini, jadi makan kalian udah tanggung jawab kami, jadi kalian jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri" jelas Bu Fatimah
"Ibu serius? " tanya Reno
"Iya Ibu serius" jawab Bu Fatimah
"Alhamdulillah kalau begitu, Makasih ya Bu" timpal Iki
"Sama-sama, ya sudah sekarang ayo kita makan dulu, udah disiapin sama Intan" tambah Bu Fatimah
"Iya Bu" jawab ketiganya serempak
"Ayo silahkan, jangan sungkan ya, makan yang banyak" Bu Fatimah
"Iya Bu, terima kasih" jawab Iki
Selama makan mereka tidak ada yang bersuara, selesai makan Iki, Ardan dan Reno lebih memilih berkumpul di teras rumah
"Dan, kita mau nyari kerja dimana mana nih? kamu udah ada rencana belum? " tanya Iki
"Iya Dan gimana? " tambah Reno
"kalian lagi ngobrolin apa? " Tiba-tiba Intan berada di belakang mereka
"Kami lagi ngobrolin buat nyari kerja buat besok Mbak" jawab Iki
"Terus rencana kalian apa?" lanjut Intan
"Rencananya besok kita mau keliling daerah sini dulu, kali aja ada yang deket sini" jawab Ardan
"Ijazah kalian apa? " Intan kembali bertanya
"SMA Mbak" jawab Iki,
"Kalau Ijazah SMA disini susah kalo nyari kerja, apalagi belum memiliki pengalaman, paling bagus kerja PT atau kasir Minimarket" jelas Intan
"kalau kami sih kerja apa saja gak masalah Mbak" Jawab Ardan
"Ngomong-ngomong kalian jauh-jauh dari kampung ke Kota sengaja nyari kerja?" Intan kembali bertanya, Ketiganya hanya saling pandang
"ya kalian gak mau cerita juga gapapa" lanjut Intan
"Sebenarnya,,,,,," Iki pun menjelaskan alasan mereka kabur dari kampung dan datang ke kota, dia menjelaskan dari awal dia mau dijodohkan,
"Begitulah Mbak alasan kami kesini" Lanjut Iki
"Mbak tau kedua orang tua kamu mau yang terbaik buat kamu Ki, tapi Mbak juga gak bisa nyalahin kamu, kamu masih muda, masih ingin bebas, masih mau menikmati masa muda, benar kan?" tutur Intan
__ADS_1
"Iya Mbak, makanya kami lebih memilih untuk kabur," jawab Iki
"Tapi saran Mbak, kalian jangan lama-lama begini, kalian juga harus segera mengabari keluarga kalian secepatnya, agar mereka tidak khawatir" Intan memberi saran
"Iya Mbak," jawab ketiganya
"Ya udah sekarang kalian istirahat, siapin tenaga buat besok" Intan sambil tersenyum dan berlalu pergi
"Ya udah kita istirahat dulu, besok baru kita pikirin lagi," seru Ardan
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing,
Waktu berlalu, pagi pun menjelang, kini ketiga sahabat itu bersiap-siap berangkat mencari pekerjaan,
"Kalian udah rapih, mau kemana?" tanya Bu Fatimah
"Mau berangkat nyari kerja Bu" jawab Iki
"Ya udah sini sarapan dulu, Ibu udah bikin nasi goreng" ajak Bu Fatimah
"Makasih Bu, maaf jadi ngerepotin" Jawab Ardan
"Nggak kok, ini udah kewajiban Ibu buat anak-anak yang ngekost disini," Bu Fatimah menjelaskan
"Ngomong-ngomong Mbak Intan sama Nayla kemana Bu, kok belum keliatan? " tanya Iki
"Intan lagi ke pasar belanja buat bikin kue, Nayla belum bangun" Jawab Bu Fatimah
"Mbak Intan suka bikin Kue Bu?" Reno yang bertanya
"Iya, buat nambah penghasilan, dia buka usaha kecil-kecilan" Bu Fatimah kembali menjawab
"Wah hebat juga Bu, udah punya usaha sendiri," Iki
"Iya Alhamdulillah" Jawab Bu Fatimah
"Kalau suami Mbak Intan dimana Bu, kok saya gak lihat kemarin!" Reno kembali bertanya, pertanyaan dari Reno membuat wajah Bu Fatimah terlihat sendu
"Maaf ya Bu, kalau pertanyaan temen saya ini buat Ibu sedih, kami gak ada maksud apa-apa," Ardan yang tau bahwa pertanyaan Reno sudah menginggung Bu Fatimah
"Iya gapapa, wajar kalian bertanya seperti itu, tapi ibu gak bisa jawab, hanya Intan yang berhak menjawabnya" jelas Bu Fatimah
"Ya udah, kami berangkat dulu, makasih untuk sarapannya" Iki berpamitan, tanpa sadar mereka menyalami tangan Bu Fatimah, mungkin karena terbiasa di kampung seperti itu
"Hati-hati, semoga kali dapat pekerjaan yang yang baik" Bu Fatimah,
"Amiin" Iki, Ardan dan Reno berasamaan,
"Ya udah kami pamit dulu, Asalamualaikum" pamit Iki,
"Waalaikumsalam" jawab Bu Fatimah
'Mereka anak-anak baik, semoga Allah melindungi mereka' batin Bu Fatimah
Bersambung,,,,,,,,
Apakah Iki dan kawan-kawan akan mendapatkan pekerjaan, ikuti terus ceritanya
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak typo dan kesalahan dalam menulis atau membuat kata-kata,
Terima kasih