
Malam hari nya Alkha beneran datang bersama pakde nya untuk membicarakan lamaran Alkha dan pernikahan nya bulan depan.
Ara tersenyum bahagia ketika melihat mobil Alkha berhenti di depan rumah nya.Setelah mereka turun mereka di sambut oleh ayah Ara.Sementara Ara dan ibu nya mempersiapkan makanan dan minuman.
"kamu sungguh sungguh ingin menikahi Ara?"tanya ayah Ara senang
"iya yah karena Alkha sangat mencintai Ara dan Alkha gak mau sia siain kesempatan dapat restu dari ayah"ucap Alkha
Ayah Ara tersenyum bahagia dan mereka mulai membahas tentang pernikahan yang akan di laksanakan bulan depan.
"akad dulu saja nanti resepsinya setelah mereka lulus dan cuma kita dulu saja yang tahu karena mereka juga masih pada sekolah takut nya mereka di keluarin dari sekolah apalagi enam bulan lagi mereka udah pada lulus"ucap Ayah Ara
"iya saya setuju dengan usulan bapak ,saya sebagai wakil dari nak Alkha menyetujui syarat apa yang akan bapak berikan kepada Alkha"ucap pakde Alkha
"saya tidak punya syarat khusus saya cuma minta nak Alkha bersungguh sungguh dalam menjalani rumah tangga yang akan ia bangun bersama putri saya"ucap ayah Ara
"Alkha janji yah Alkha gak akan kecewain ayah"ucap Alkha mantap
"saya yang akan bertanggung jawab atas lamaran Alkha"sahut pakde Alkha
Mereka semua tersenyum bahagia terlebih Alkha dan Ara yang gak pernah menyangka mereka akan menikah muda.
Begitu Alkha dan pakde nya pulang.Ara membantu ibu nya mencuci piring dan gelas setelah kemudian masuk ke kamar.
"gue gak nyangka sebentar lagi gue mau nikah"gumam Ara merebahkan tubuh nya di kasur.
Pagi hari di sekolah
"hai Kha"sapa Shella
Tapi Alkha terus berjalan melewati nya meskipun tersenyum canggung
__ADS_1
"Kha kok lo menghindari gue sih"ucap Shella lagi
Alkha menghentikan langkah nya "gue cuma gak mau Ara salah paham lagi antara gue dan lo "ucap Alkha berlalu meninggalkan Shella
Ara yang di toilet mendengar seperti ada orang yang bertengkar
"gue gak peduli itu bukan hasil gue"ucap seorang lelaki
"tapi Rif ini punya lo jadi lo harus bertanggung jawab"ucap seorang wanita sambil menangis
Lelaki itu pergi meninggalkan wanita itu begitu Ara keluar dari toilet .
"Dyah"ucap Ara terkejut
Dyah menoleh dengan wajah yang penuh air mata
"lo kenapa ?lo bertengkar sama Arif?"tanya Ara mendekati Dyah
Ara membawa Dyah ke kelas dan mendudukan nya di bangku nya.
"lo kenapa cerita dong ama gue siapa tahu gue bisa bantu"ucap Ara mengelus punggung Dyah
Ellen yang baru masuk kelas juga ikutan penasaran.
"kenapa dia?"tanya Ellen sambil duduk di bangku nya
Ara yang emang gak tahu cuma menggedikkan bahu nya.
Dyah mengangkat kepala nya kebetulan di kelas cuma ada mereka bertiga.
"gue hamil Ra ,Len"ucap Dyah pelan
__ADS_1
"HAA"Ara dan Ellen kaget
"terus itu anak siapa?"tanya Ellen
"Arif"ucap Dyah
"dia mau tanggung jawab?"tanya Ara
Dyah menggeleng membuat Ara dan Ellen marah
"lo harus minta pertanggung jawaban dia"suruh Ara
"udah berapa bulan?"tanya Ellen
"dua bulan ,udah tapi dia gak mau"ucap Dyah kembali menangis
"tapi please jangan sampai yang lain tahu gue takut di keluarin dari sekolah"ucap Dyah
"tapi lo juga harus segera minta Arif tanggung jawab ,karena semakin lama perut lo pasti semakin besar"saran Ara
Dyah terdiam masih terisak isak.
Ara dan Ellen saling berpandangan merasa kasihan pada Dyah.Tapi mereka juga gak bisa apa apa karena itu semua juga salah Dyah sendiri mau mau nya begituan padahal mereka masih belum muhrim.
"lo jangan kayak gitu lho Ra"ucap Ellen
"gak lah gue ama Alkha tahu batasan batasan nya kok ,boro boro mau begituan ciuman aja gak karena kita gak mau ngasih kesempatan hawa nafsu menguasai kita sebelum kita sah di mata hukum dan agama"ucap Ara
Ellen mengangguk anggukan kepala nya "anak yang baik "ucap nya tersenyum
"apa ini alasan ayah menikahkan gue dengan cepat ,ayah takut gue ama Alkha kebablasan karena merasa sudah mendapat restu"batin Ara
__ADS_1