
*disarankan untuk bagian 1-4 membaca sambil memutar lagu dari AKMU(How I can love the breakheart)
Senja, sesaat namun mengesankan. Entah bagaimana senja selalu menjadi saat-saat yang selalu ku tunggu, warnanya, pesonanya dan suasana saat bersamanya. Aku selalu kagum pada senja, matahari berjalan malas ke arah barat. Perlahan membenamkan diri, sekalinya berlari, tinggallah gelap dan sunyi.
__ADS_1
Senja kali ini tak datang sendirian, ia datang bersama hujan. Hujan, yang kadang bisa menjadi berkah, kadang juga bisa menjadi bencana. Hujan yang kadang bisa menenangkan, kadang bisa juga menyedihkan. Hujan selalu berbeda setiap saatnya. Hujan kali ini tidak terlalu deras, namun tetesan airnya cukup untuk membasahi seisi kota. Langit terlihat hampa, tanpa bulan dan bintang sebagai penghiasnya. Lampu-lampu mulai menyala, lampu jalan, lampu taman, juga lampu gedung-gedung dan pertokoan. Jalanan di depan sana masih ramai. Orang-orang lalu lalang, kehidupan kota masih terus aktif. Jalanan dipenuhi orang-orang yang baru saja pulang bekerja, membuka payung mereka seenaknya, membuat pengguna jalan yang lain geram. Halte bus ramai dipenuhi orang, mereka berdesak desakan mencari tempat berteduh. Tentu tahu bagaimana ketika bus datang, mereka saling mendahului masuk ke dalam bus, tak peduli tua muda, saling tabrak menabrak. Pemandangan yang tak mengenakan. Pada jam-jam pulang bekerja seperti ini memang harus lebih berhati-hati terutama ketika hujan turun. Itu sangat merepotkan.
Sudah dua jam aku termenung di cafe ini. Bukan karena menunggu hujan, hanya ingin saja. Seharian ini seperti biasa, aku pergi di kala matahari mulai meredup. Berjalan jalan di pinggiran kota. Sengaja memang, pergi keluar di saat makan malam sedang disiapkan, terutama ketika ayah dan ibu mampir ke rumah. Menghindari obrolan berat yang dilontarkan ayah dan ibu. Bisa dibilang hampir setiap saat aku melakukan hal ini. Aku lelah jika harus di tanyai banyak hal oleh mereka. Percuma saja aku ceritakan, mereka tak akan mengerti. Dan Kino, aku tak yakin dia akan membuka mulut saat bersama dengan ayah dan ibu. Bibi pasti kewalahan menghadapinya. Meja makan akan terasa canggung, aku tahu itu
__ADS_1
Masa kecilku bisa dibilang bahagia, kedua orang tuaku masih membimbing dan mengawasiku tumbuh. Pada umur empat tahun, hadirlah adikku. Masa-masa ini masih berjalan normal. Sampai, aku berumur sembilan tahun dan adikku lima tahun. Orang tua kami mulai sibuk dengan urusan mereka. Kami mulai tumbuh tanpa pengawasan dan perhatian dari orang tua kami. Aku tidak masalah pada saat itu, namun sayangnya adikku tidak bisa menerimanya. Orang tua kami tak peduli sama sekali, mereka semakin hari semakin menjadi. Berangkat pagi sekali, pulang malam sekali, tak sempat makan malam bersama kami, kembali ke kamar mereka, kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Hal tersebut terus terjadi sampai kira-kira satu setengah tahun.
Setelah satu setengah tahun itu keadaan mulai kembali normal, adikku mulai kembali ceria, canda tawa kembali terdengar di rumah kami. Aku hanya sedikit heran, setiba tiba inikah ? Mereka sungguh berhenti atau hanya sekedar istirahat ? Entahlah, tapi untungnya si Kino mulai membaik. Saat itu aku sungguh senang, keluargaku kembali seperti semula, aku mulai menikmatinya. Tanpa berpikir bahwa, akan datang hari dimana aku akan terpuruk lagi. Hari dimana cahaya akan semakin redup.
__ADS_1