Cerita Di Kala Senja Dan Hujan

Cerita Di Kala Senja Dan Hujan
Bagian 4


__ADS_3


          Malam ini, Kino tertidur dalam pelukanku, kantong matanya terlihat membengkak, nafasnya terasa berat. Kubaringkan tubuhnya di tempat tidur, melangkah keluar dari kamarnya, menutup pintu perlahan.


"Kau baik-baik saja?" suara bibi memecah kesunyian,


"Yaa.. tentu, maaf bibi harus melihat hal ini," kataku,


"Tak apa, bagaimana dengan Kino? Apa dia sudah membaik?" tanya bibi khawatir,


"Tidak baik, ini guncangan untuk kesekian kalinya." kataku lirih,


Aku berjalan meninggalkan bibi yang berdiri di anak tangga, membuka pintu kamar, masuk, mengunci kamar rapat-rapat. Sengaja tak kunyalakan lampu kamarku. Tubuhku terhempas ke lantai kamar, meringkuk, memeluk kedua lututku, memejamkan mata. Aku lelah. Menghela nafas, perlahan berdiri, melangkah menuju jendela. Perlahan tanganku menyentuh jendela, dingin terasa di setiap jariku, menutup mata, kembali menghela nafas. Kapan semua ini akan berlalu. Sanggupkah aku melewati semua ini, aku ingin menyerah, aku ingin berhenti. Tapi Kino, dia yang akan menanggung, dia yang akan menderita, dia tak akan kuat. Malam ini, pasti menjadi malam yang paling menyakitkan untuknya.

__ADS_1


Aku melangkah keluar kamar, berjalan ke kamar Kino, membuka pintu. Kino masih tertidur, dia lelah. Aku kembali berjalan, menyibakkan tirai, membuka jendela, merapikan buku bukunya, mengambil baju-baju yang berserakan. Tak seperti biasanya, kamarnya terlihat berantakan. Selesai membereskan kamarnya, aku berjalan keluar dari kamar, melangkah turun, memasukkan pakaian kotornya di keranjang baju. Berjalan menuju dapur, mengambil susu dan roti untuk Kino. Langkahku terhenti, ayah berdiri di depanku dengan mata sayup, diam tanpa sepatah kata terucap? Aku melewati ayah menuju tangga,


"Apa Kino sudah membaik?"


Langkahku terhenti tepat saat hendak naik, hanya terdiam, menatap anak tangga didepanku. Aku sama sekali tak ingin membalikan tubuh, kembali berjalan menaiki tangga, meninggalkan ayah di dapur. Mengetuk pintu kamar Kino, masuk, menaruh makanan di atas meja, berjalan menghampiri Kino.


"Bagaimana keadaanmu?"


Tanganku terulur, mengelus kepalanya, mengacak-acak rambutnya, lalu tersenyum. Syukurlah, Kino sudah bisa tersenyum, yaa walau hanya senyuman tipis, saking tipisnya hanya terlihat sekilas.


"Kau sudah besar" kataku sambil tersenyum


"Aku masih dua belas tahun, kak" katanya sambil mendongak,

__ADS_1


"Yaa.. anggap saja kau sudah besar" kataku kembali mengacak-acak rambutnya.


Aku beranjak keluar dari kamar Kino, kembali ke kamar, mengganti pakaian, mengambil ponsel dan dompet. Melangkah menuju pintu keluar rumah, memakai sepatu, membuka pintu, berjalan keluar.


              Sepanjang jalan ramai sekali orang lalu lalang, tentu saja ini akhir pekan, memang apa yang kau harapkan saat keluar di akhir pekan? Jalanan tak akan sepi, justru sebaliknya. Aku harus keluar, berbelanja di supermarket, membeli keperluan rumah yang mulai habis. Mempercepat langkah, berjalan di sela-sela banyak orang, memperhatikan jalan, sesekali terhenti oleh orang-orang yang memutus jalan seenaknya. Masuk ke supermarket mengambil keranjang, mencari barang-barang terdekat hingga terjauh, membayar di kasir, bergegas pulang. Aku tidak bisa meninggalkan Kino di rumah sendirian. Brukk.. seseorang menabrak ku dan menjatuhkan tas belanjaan ku.


"Maaf," katanya singkat,


Anak laki-laki itu mengumpulkan barang barangku, memasukkannya kembali kedalam tas belanja. Dan, siapa menduga, dia anak laki-laki yang kutemui di dalam bus tadi malam. Wahh.. siapa mengira kami bertemu lebih cepat dari yang kupikirkan, aku menebak kami akan bertemu lagi di sekolah, dan kurasa dia anak yang lumayan populer. Hanya tidak memperhatikan saja.


"Terimakasih," kataku


Aku kembali berjalan, meninggalkan anak laki-laki itu di belakang sana. Kembali terburu-buru, berjalan lebih cepat, menyebrang jalan. Sampai di seberang, seseorang mengaduh di belakangku, aku refleks membalikkan badan. Rupanya seorang wanita muda menjatuhkan buku-bukunya. Siapa sangka, anak laki-laki itu ternyata memperhatikanku dari jauh. Semoga bukan hal buruk.

__ADS_1


__ADS_2