Cerita Di Kala Senja Dan Hujan

Cerita Di Kala Senja Dan Hujan
Bagian 12


__ADS_3


"Ku dengar mereka bertengkar, beneran.?" tanya Ellie,


"Ha? Siapa.?" tanyaku,


"Ck, si senior!" jelas Ellie,


"Entahlah, bukan urusanku" ketusku,


Beberapa haru setelahnya, malam harinya aku pergi ke minimarket sendirian. Siapa menduga aku akan bertemu dengan mereka berdua di jalan.


[Ck, sial sekali aku ini! Kenapa juga harus bertemu mereka? Ahh.. Aku tidak punya kesempatan untuk putar balik!!! Haiishh mereka terlanjur melihatku, sial!] pikirku kesal,


"Haii Yonaa!!" sapa Iana penuh semangat,


[ck, menyebalkan] pikirku,


"Hai! Hari ini kencan.?" tanyaku basa basi,


"Ya begitulah," jawab Iana riang,


"Mau kemana.?" tanya kak Ritcher,


"Ke mini market, aku perlu minuman kaleng," jawabku,


"Kau masih meminumnya.? Bukankah sudah kularang.? Kenapa masih kau teruskan.? Itu tidak baik jika berlebihan!" katanya kesal,


"Hm.." sahutku sambil melangkah meninggalkan mereka,


"Hei! Kau mengerti tidak?" tanya kak Ritcher agak meninggi,


[Ck, berisik!] pikirku sambil mengentikan langkahku,


"Entahlah, haruskah kudengarkan.?" kataku dingin,


Aku melangkah meninggalkan mereka, dan Kak Ritcher masih memanggilku berkali-kali.


Beberapa hari setelahnya, Kak Ritcher kembali memperhatikanku, menegurku ini dan itu, malarangku berbagai macam hal. Dan beberapa hari setelahnya pula masalah pun tiba. Iana terang-terangan menunjukan sikap tidak sukanya padaku. Aku tidak peduli akan hal ini. Hingga akhirnya dia menggunakan cara yang amat sangat ku benci.


Hari itu, kamis. Sepulang sekolah, aku mendapatkan sesuatu yang menyakitkan di fisik juga batin.


"Haih.. aku pulang sendiri lagi" keluhku,


Aku berjalan meninggalkan gerbang sekolah, melalui jalan-jalan sekitar seperti biasa. Semuanya normal-normal saja. Hanya saja hari itu langit terlihat mendung. Dan sialnya aku meninggalkan payungku di meja dekat televisi. Aku tak mempedulikan sekitar, segera bergegas pulang sebelum hujan mulai turun.


Tik.. tik..


Rintik hujan mulai turun, langkahku semakin cepat, sesekali berlari lalu berhenti di depan pertokoan.


Tap tap tap,


Suara langkahku terdengar jelas, aku terus berlari hingga..


Bruukk..


Seseorang dengan sengaja mengganggu langkahku. Aku jatuh tersungkur, seluruh bagian depan seragamku basah,


"Ukkhh, sial" umpatku,


"Pfftt.. lihat ini, siapa gadis menyedihkan ini.?" kata seseorang terkekeh,


Aku menengok ke atas, dan entahlah, aku tidak terkejut melihat anak itu. Aku berdiri, mengambil tasku, lalu berjalan ke arah gadis itu.


"Apa maksudmu.?" tanyaku,

__ADS_1


"Hemm.. Entahlaa~h.. Hanya saja aku tidak menyukaimu. Maaf ya~" kata Iana,


"Menyingkirlah" kataku singkat,


Plak


Iana menampar pipi kananku cukup keras. Aku sedikit terkejut dengan tamparannya ini.


Bruukk..


Iana melancarkan tendangannya tepat di perutku. Tubuhku terdorong ke belakang, masuk kedalam gang sepi di sela-sela pertokoan. Aku tidak ingat apa yang Iana dan teman-temannya lakukan setelah itu. Yang pasti aku pulang dengan tubuh penuh luka, seragam yang basah dan kotor. Berjalan pelan menyusuri jalan, dengan langkah terpincang-pincang. Sore semakin larut, namun hujan tak kunjung surut. Lampu jalanan dan pertokoan mulai menyala.


[Sial, jam berapa aku akan sampai rumah.? Ukhh dasar bedeb*h kecil.] pikirku,


Brak..


Aku mendengar sesuatu terjatuh didepanku. Entah apalah itu, aku enggan mengangkat kepalaku, melanjutkan langkahku, hendak melewati orang itu.


[Kenapa dia.? Malas mengambil.?] pikirku


Langkahku terhenti begitu aku tepat di sebelah kanan orang itu. Tangannya menghadang tubuhku, memegang lengan kiriku dengan gemetar.


"Apa.. ini..??" seseorang itu berbicara dengan nada lirih bercampur terkejut.



Mataku terbelalak, segera menoleh ke arah seseorang itu, dan siapa sangka.


"Kino.!?"


[Akkhhh.. Bagaimana inii.. Ukhhh aku belum memikirkan alasannyaaa.. kenapa kami harus berpapasan seperti inii.. Apa yang harus ku katakan..??!!] pikiranku kacau,


Kino hanya diam, menatapku dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Ahh.. sayang sekali kau adikku, kenapa kau bisa setampan ini.?" ucapku terkekeh,


"Yahh.. maaf" ucapku pelan,


Kino melepas jaketnya, menaruhnya di pundakku. Menggenggam tanganku, menarikku, memaksa mengikuti langkahnya. Tubuhnya masih sama tingginya denganku, kami jadi terlihat seperti kembaran. Sepanjang jalan kami hanya diam, tangannya menggenggam dengan kuat.


"Akhh" rintihku,


"Ahh maaf," Kino langsung berbalik menghadapku,


Yahh.. pada akhirnya Kino memutuskan untuk menggendongku. Aku terlalu lama untuk berjalan, kurasa dia tidak sabaran. Ini lumayan, punggung Kino terasa hangat, wangi tubuhnya sudah berbeda dengan yang dulu.


"Hehe kau sudah besar ya," gumanku


[Kau bisa termasuk kriteria pacar ideal lho, sungguh!] pikirku,


Sesampainya dirumah, Kino tetap diam, kurasa dia benar-benar marah. Atau entahlah itu. Begitupun setelah mengobati luka di wajahku, dia langsung keluar, meminta bibi membantuku mengobati luka di bagian lain.


"Hei!" kataku sambil meraih tangannya,


"Kau masih marah.?" lanjutku,


"Bukankah aku sudah minta maaf.? Aku janji ini takkan terjadi lagi!" suaraku mulai meninggi,


"Bicarakan itu nanti," nadanya masih terdengar dingin,


[Ukkhh apa ini..?!! Aku mual! Kenapa tubuhku dingin? Ahh kurasa hanya masuk angin biasa, biarkan saja dulu.] pikirku,


Setelah semuanya selesai, Kino kembali ke kamarku. Aku mulai menceritakan semuanya kepadanya, sesekali tangannya meremat, dan terdengar suara gertakan gigi.


"Aku baik-baik saja" kataku meyakinkan,

__ADS_1


"Apanya yang baik.?! Lihatlah keadaanmu sendiri kak! Jadilah orang egois sesekali! Haiihh!!" katanya marah,


Keesokan harinya aku memaksa untuk tetap sekolah. Pada akhirnya Kino menyerah dan meng-iyakan keinginanku. Di sekolah Kino mengantarku sampai ke kelas, dan kebetulan juga kami bertemu dengan Kak Ritcher dan Iana. Kino yang tidak bisa menahan emosi mendorong Ritcher dan berteriak ke Iana. Dia memaki mereka berdua didepan banyak siswa. Sejak saat itu mereka tak pernah mengusikku lagi. Di satu sisi aku lega dan di sisi lain aku juga takut jika hal ini kembali terjadi.


Tok tok tok..


Seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Kak Yona! Cepat turun! Makan malam sudah siap!" kata Kino yang berdiri di luar kamar.


"Ck, mengganggu saja!" bisikku kesal,


"Hemm.." jawabku sambil membuka pintu kamar,


"Kenapa.?" tanya Kino,


"Kenapa apanya.?" aku balik bertanya,


"Kakak ini kenapa.?" jelas Kino,


"Kenapa bagaimana maksudmu.?" balasku mulai kesal,


"Terjadi sesuatu disekolah.?" tanya Kino,


"Tidak, emm.. yaa.. kurasa," kataku


"Bicara yang jelas!" kata Kino sedikit galak,


"Hanya hari sial sajaa.." sahutku santai sambil berjalan turun,


"Hoi!" panggil Kino,


Aku tidak mempedulikannya, berjalan ke arah dapur, lalu mencuci tangan. Kino mengikutiku dengan tatapan kesal.


Tak..Takk..


Kino menaruh gelas dan piring dengan keras.


Drrt.. Brakk..


Kino menarik kursi lalu duduk di sebelahku.


"Ya! Apa-apaan sikapmu ini.?" kataku mulai kesal,


"Kenapa.? Tidak suka.?" balasnya,


"Ululuuluuu.. Uch uch uch.. Kau marah.? Kau ngambek.? Kau kesal.?" kataku menggoda Kino,


Kino hanya diam menatapku kesal, lalu melanjutkan makannya.


"Ahahaha lucu sekali adikku ini" gumanku,


[Hehe, kau masih sama ya,] pikirku,


Makan malam telah usai, kami membereskan piring dan peralatan yang kotor. Lalu kembali ke kamar kami. Di tengah tangga aku meraih tangan Kino,


"Berhentilah marah!" kataku mulai kesal,


Kino berhenti, membalikan tubuhnya. Menatapku cukup lama.


"Bukankah sudah kubilang? Ceritakan saja jika kau ada masalah! Jangan selalu kau pendam sendiri! Aku juga sudah besar, aku pasti bisa mengerti yang kau katakan! Kau bahkan sudah berjanji padaku!" katanya marah,


"Ouu.. ouu.. Wooww.. Sungguh, kau bersikap seolah pacarku saja. Apa kau juga begini dengan pacarmu.?" godaku,


"Berheti bercanda!" kata Kino sambil meninggalkanku yang masih di anak tangga.

__ADS_1


"Ahahahaha" tawaku mengejek,


__ADS_2