Cerita Di Kala Senja Dan Hujan

Cerita Di Kala Senja Dan Hujan
Bagian 3


__ADS_3


Hari semakin larut, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 20.38 yap saatnya kembali. Hujan di luar sudah mereda sedari tadi, walau begitu jalanan masih terlihat basah. Jalanan mulai mengosongkan diri, hanya beberapa kendaraan pribadi yang masih melewati jalanan ini. Aku berjalan pelan ke arah halte bus, angin berhembus melewati sela-sela jari, terasa dingin namun menenangkan. Malam ini tak banyak orang keluar rumah, mungkin karena hawa malam ini terasa dingin. Hanya beberapa orang berlalu lalang, melewati atau kulewati. Beberapa kali terlihat sepasang kekasih berjalan mesra, bergandengan tangan, merapatkan tubuh agar terasa hangat. Heh, mesra sekali. Beberapa orang berjalan terburu-buru, berjalan secepat mungkin. Yaa barang kali lelah, ingin segera beristirahat, atau berkumpul dengan keluarga. Andai ayah dan ibu juga seperti itu.


Jalanan di samping sedang lenggang, tak ada kendaraan yang lalu lalang. Halte bus di depan pun kosong, lampunya menyala redup, jalanan yang sepi membuat suasana tenang semakin terasa. Aku berdiri di dekat papan rute, menatap jalanan di depan, sesekali mendengus, bukan kenapa, hanya ingin saja. Besok akhir pekan, dan orang tuaku akan tetap disini sampai siang hari. Apa yang akan kulakukan besok? Hhh.. Tak ada rencana kegiatan yang pasti. Membosankan. Citt.. Suara rem bus terdengar, aku terbangun dari lamunan, melangkah masuk kedalam bus. Bus terakhir di rute ini, untung saja tak terlewat. Di dalam hanya ada seorang anak laki-laki, kurasa seumuran denganku. Aku duduk di bangku tengah, menyandarkan kepala ke jendela, melipat tangan, kembali dalam pikiran-pikiranku. Sesekali mataku terpejam, bukan karna mengantuk, ingin saja. Berapa menit berjalan, bus kembali berhenti, anak laki-laki itu turun. Setelah diperhatikan seragam sekolahnya mirip dengan seragam sekolahku. Ya, apa peduliku.


Lampu di rumahku masih menyala, apa mereka masih belum tidur? Hhh.. Ini sudah ke sekian kali aku mendengus. Suara dari dalam rumah makin terdengar jelas, ada apa ini, tak biasanya mereka seberisik ini. Ada hal istimewakah, tapi kurasa tidak. Aku terus melangkah hingga ke depan rumah. Brakk.. Suara pukulan meja terdengar dari dalam rumah. Apa?


"Jaga ucapanmu itu! Dasar anak kurang ajar!" suara ayah terdengar sampai luar.


Apa lagi ini? Apa yang terjadi di dalam? Apa yang sudah Kino lakukan, apa yang dia katakan? Aku perlahan membuka pintu rumah, melangkah masuk, melepas sepatu dengan tenang. Aku berjalan memasuki ruangan, mencari sumber teriakan ayah. Pandanganku berhenti, aku merasa, mataku mungkin hampir keluar dari tempatnya. Ayah sudah mengangka tangannya, hendak melepaskan tamparan di wajah Kino. Tidak! Aku berlari ke arah Kino, berusaha secepat mungkin meraihnya. Tidak! Terlambat, aku gagal meraih Kino. Ayah berhasil menampar Kino. Haahhhhh...!!!! Air mataku tumpah sekali lagi, lagi dan lagi.

__ADS_1


"APA YANG KAU LAKUKAN!!??" bentakku sambil mendorong ayah.


Ayah setengah terkejut dengan bentakanku. Aku menatap lamat-lamat ibu, bagaimana bisa? Ibu hanya terdiam menunduk, menahan tangisnya.


"Bisakah kau berhenti?" kataku lirih,


"Yo-,"


Ohh Tuhan, aku sudah berdosa. Aku berteriak pada orang tuaku, aku meneriakinya untuk kesekian kalinya, tolong maafkan aku. Tangisku kali ini tak bisa lagi kutahan. Aku menangis sejadi jadinya, seisi rumah hanya terdiam, suara tangisku terdengar di lorong rumah.


"Tolong hentikan semua ini! Berhenti memberi tangis pada kami! Apa kau pikir air mata kami tidak berharga? Bisakah kau berhenti membuat Kino menangis! Kenapa?! Kenapa kau tak pernah memikirkan perasaannya?! Kenapa kau selalu melukainya?!" kataku lirih.

__ADS_1


Ayah terdiam mendengarku dan Ibu semakin menangis dalam diamnya. Lihatlah! Kalian hanya bisa diam, kenapa tak bicara, bicaralah dan coba jelaskan pada kami semua ini! Aku menatap Kino, dia hanya terdiam. Dia bahkan tak menangis lagi. Kuraih tangannya yang mengepal, membawanya pergi dari ruangan itu. Aku membawanya ke dalam kamarnya, dia megikutiku tanpa mengeluarkan kata.


"Apa pipimu memar? Tunggu sebentar akan ku ambilkan obat dan-,"


"Kak." kata Kino memotong omonganku.


Langkahku terhenti, tak membalikan badan, juga tak mengeluarkan sepatah kata. Suara isakan terdengar dari Kino, suara nafas nafas yang tak teratur. Suara anak yang berusaha menahan tangisnya. Khhh.. air mataku kembali jatuh, aku tak bisa menahan tangis saat bersama anak ini. Lirihan Kino terdengar begitu menyedihkan, membuat perih hati orang-orang yang mendengarnya.


"Terimakasih! Terimakasih karena tak meninggalkanku, terimakasi karena masih terus tinggal beramaku, terimakasih sudah melawan ayah untukku. Terimakasih!"


Suara tangisan Kino terdengar menyakitkan, rintihannya terdengar hingga ke tangga, mengema di lorong, membawanya ke telinga ayah dan ibu. Tubuhku tak kuasa menahannya, berbalik dan melangkah mendekati kino. Mendekapnya dalam pelukanku. Maaf, maaf karna tak bisa menjagamu dengan baik. Maaf karena membuatmu terus menangis. Maaf.

__ADS_1


__ADS_2