
Aku berjalan dengan langkah cepat, sesekali berhenti membenarkan tas belanjaan, kemudian lanjut berjalan. Jalanan kian ke rumah kian lenggang. Sesekali kendaraan melewatiku, lenggang sejenak, lalu kendaraan kembali lewat. Angin berhembus pelan, menjatuhkan dedaunan, menerbangkannya tak tentu arah. Pohon pohon terayun anggun, mengikuti arah angin meniupnya. Rimbun daunnya melindungi pejalan kaki dari teriknya matahari. Kakiku terus berjalan, persimpangan dekat rumah sepi sedari tadi. Kurasa orang tuaku sudah berangkat ke luar kota lagi. Itu lebih baik bagiku. Itu akan menjaga perasaan Kino.
Akhir pekan yang melelahkan, tubuh lelah, pikiran lelah, perasaan pun telah lelah. Entah bagaimana mengungkapkannya, saat tampilan terlihat ramah namun hati penuh dengan amarah. Perasaan yang campur aduk, kepala yang hanya bisa menunduk, menganggap semua hanya nasib buruk. Tak bisa banyak menuntut, hanya diam dan menurut, berharap semua segera surut. Namun sayang semua hal semakin larut. Sunyi menyelimuti ruang keluarga, suara jam terdengar jelas, detak jantung turut terdengar. Sudah setengah jam aku telentang di atas sofa, hanya diam dan memejamkan mata. Kino sedang mengerjakan tugasnya, bibi pergi keluar, dan aku? hanya berbaring di sofa tidak ada pekerjaan atau kegiatan yang bisa kulakukan. Kalau di pikirkan lagi, kenapa anak itu memperhatikan dari jauh, tidak mungkin dia memperhatikan wanita muda yang jatuh tadi. Ini membuatku sedikit khawatir, khawatir jika dia melakukan hal buruk. Ayolah, hidupku sudah buruk, jangan menambah hal buruk lagi. Ck sungguh menyebalkan.
Malam menggulingkan siang, lampu di setiap rumah mulai menyala, jendela terbuka mulai ditutup, tirai-tirai dirapatkan. Klak.. terdengar suara pintu terbuka,
"Bibi pulang..," suara bibi memecah suasana hening di rumah.
"Selamat datang," kataku.
"Kalian sudah makan?" tanya bibi
"Belum, sedang kusiapkan, hampir selesai," kataku.
Piring-piring mulai ditata, makanan disajikan, kami bertiga makan bersama seperti biasa. Suasana di meja makan tenang, hanya terdengar suara piring yang terantuk sendok dan garpu. Aku jadi penasaran, apa yang terjadi saat makan malam kemarin? Makan malam berakhir, Kino berjalan menaiki tangga kembali ke kamarnya.
"Emm.. Bi, Apa yang terjadi saat makan malam kemarin?" tanyaku pelan.
"Ahh itu..,"
__ADS_1
Aku kembali ke kamar, menutup pintu kemudian berjalan ke arah jendela, duduk termenung, merangkul kedua lututku. Jadi begitu, bibi sudah menceritakan semua yang terjadi di meja makan kemarin malam. Yahh.. wajar saja Kino mengatakan hal yang menyakitkan, aku pun akan melakukan hal yang sama. Ayah memaksa Kino bercerita tentang kegiatannya sehari-hari di sekolah, lagi pula ayah tak akan mengerti jika Kino menceritakannya. Percuma berdalih agar terlihat dekat dengan Kino. Itu tak akan membantu.
***
"Bagaimana sekolahmu? Apa semua baik-baik saja?" tanya ibu,
Aku hanya terdiam, kapan kak Yona kembali? Aku sudah muak dengan basa basi ini. Setiap saat mereka selalu menanyakan hal yang sama, kenapa kalian mengkhawatirkan kami? Setelah kalian meninggalkan kami, kalian terus berjalan walau kami berteriak sekeras apapun, kalian bahkan tak menengok kebelakang sedikitpun. Kenapa? Kenapa sekarang kalian melihat ke arah kami disaat kami mulai lelah berteriak? Kenapa kalian memandang kami disaat kami mulai berpaling? Kenapa kalian mengkhawatirkan kami disaat kami mulai kuat berdiri? Berhentilah bertingkah menyebalkan!
"Kino, jawab pertanyaan ibumu!" pinta ayah,
Sekali lagi aku terdiam, melanjutkan makan tanpa sedikitpun mengeluarkan kata.
"Apa?" ucapku memotong ayah berbicara,
Ibu terlihat khawatir, berusaha menghentikan ayah. Menggenggam tangan ayah kuat-kuat, namun dengan pandangan yang tertuju padaku. Heh! Ibu bahkan tak pernah menggenggam tanganku seperti itu.
"Jika aku ceritakan, apa kalian akan mengerti? Percuma saja aku ceritakan, apa pun yang terjadi padaku apa kalian akan peduli? Ayolah, kalian bahkan meninggalkan kami, untuk apa peduli pada kami?" kataku pada mereka,
Bibi hanya terdiam, menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang di tempatnya. Kurasa bibi tak akan sanggup, bibi berdiri dari tempat duduknya, mengambil piring makanan yang kosong, membawanya menuju dapur.
"Kurang ajar!" bentak ayah padaku,
__ADS_1
Ibu terlihat semakin khawatir, tangannya semakin keras berusaha menghentikan amukan ayah. Langkah bibi terhenti, bibi hanya terdiam di tempat.
"Apa aku salah? Bukankah ucapan ku benar? Lalu kenapa anda marah? Anda marah pada hal yang benar? Itu menggelikan, apakah anda sungguh orang dewasa?" kataku sekali lagi kepada ayah,
Aku sudah mengatakan hal yang keterlaluan, lalu kenapa? Semua yang kukatakan tadi benar bukan? Aku tak akan pernah merasa bersalah, aku tak akan meminta maaf.
"Jaga ucapanmu itu! Dasar anak kurang ajar!" suara ayah mulai meninggi,
Klak, terdengar suara pintu terbuka, kurasa kakak sudah pulang. Syukurlah. Pandanganku tertuju ke arah pintu keluar, tanpa kusadari, tangan ayah sudah terangkat. Kakak berlari secepat mungkin ke arahku dengan wajah panik, aku masih belum saadr apa yang terjadi. PLAK.!!
" APA YANG KAU LAKUKAN?!!" kakak berteriak dan mendorong ayah,
Apa? Apa yang barusan terjadi? Kenapa ini? Apa barusan ayah menamparku? Rasa perih di pipi ini, apa ayah yang melakukannya? Haa... Haha.. Jadi begitu. Bahkan sekarang air mataku enggan menetes. Kurasa mataku bosan, meneteskan air mata untuk orang yang sama. Mataku lelah harus menangisi hal yang sama. Memang sudah saatnya aku berhenti menangisi orang tuaku. Kakak.. dia, menangis untukku? Apa dia membelaku? Apa? Apa yang kakak katakan pada mereka? Aku tidak dengar apa yang kakak katakan, aku yakin kakak pasti membelaku. Tangan siapa ini? Apa ini tangan kakak? Tangan kak Yona terasa dingin, gemetar? Apa kakak takut? Kakak menggandeng tanganku, berjalan ke arah kamarku. Kakak hanya terdiam.
"Apa pipimu memar? Tunggu sebentar akan ku ambilkan obat dan-"
"Kak," aku memotong kalimat kakak,
"Terimakasih! Terimakasih karena tak meninggalkanku, terimakasi karena masih terus tinggal bersamaku, terimakasih sudah melawan ayah untukku. Terimakasih!" ucapku terisak.
Terimakasih sudah melindungiku, terimakasih sudah menangis untukku. Akan kupastikan, untuk selanjutnya, kakak tidak akan menangis lagi, aku akan melindungi kakak.
__ADS_1