
Sudah hampir setengah tahun keluarga kami menjalani aktivitas seperti keluarga lainnya. Semua masih baik-baik saja, kehangatan masih terasa, raut wajah masih cerah, canda tawa masih terdengar di lorong rumah. Ditambah lagi hari itu adalah hari ulang tahun Kino yang ke tujuh tahun, kebahagiaan dan kegembiraan mengisi hawa di dalam rumah. Rumah kami terasa hangat, nyanyian ulang tahun dinyanyikan bersama-sama, dengan cahaya lilin kue ulang tahun sebagai penerangan utamanya. Kino terlihat sangat bahagia, sorot matanya terlihat sangat berbeda. Sungguh disayangkan, itu adalah sorot mata bahagia terakhirnya. Setelah lampu kembali dinyalakan, ayah dan ibu saling bertatapan. Aku tahu maksud tatapan itu, dan aku tahu apa yang akan terjadi. Astaga!. Kata itu terus berputar dalam pikiranku.
Malam itu, ayah dan ibu memulai pembicaraan itu.
" Yona, Kino. Ayah dan ibu ingin mengatakan sesuatu,"
"Katakan saja!"
Kino menjawab perkataan ayah dengan wajah yang masih ceria. Bagaimana bisa. Bagaimana bisa mereka membicarakan ini. Tolong liat wajah Kino! Ayah, ibu, jangan katakan hal yang menyakitkan untuk Kino di hari yang istimewa untuknya! Kumohon! Pikiranku kacau, bagaimana aku harus mengatasi Kino nanti.
"Ayah dan ibu akan pindah ke luar kota mulai besok, kalian akan tinggal bersama bibi Rhea. Bibi Rhea akan pindah ke sini mulai besok!"
__ADS_1
"Apa!?"
Astaga! Sungguh. Mereka sungguh-sungguh mengatakannya. Tak habis pikir. Ayah, ibu tolong lihatlah Kino! Lihatlah sorot matanya! Sorot mata Kino berubah, benar-benar berubah. Bukan lagi sorot mata kebahagiaan yang dia perlihatkan. Air matanya tumpah, sudah tak bisa dibendung lagi. Dia hanya terdiam, menutup mulutnya rapat-rapat, berjalan mundur, perlahan meninggalkan ruangan, berlari menuju kamarnya. Hahhh... Apa-apaan ini ? Aku tidak bisa menahan lagi.
"Apa ini? Apakah ini hadiah untuk Kino? Apa ini kejutan yang kalian maksud?" tanyaku dengan suara gemetar.
"Yon-,"
"Bagaimana bisa? Apa kalian tidak memikirkan perasaan Kino? Apa yang kalian pikirkan!? Lihatlah Kino! Lihatlah sorot matanya tadi! Tidakkah kalian lihat, dia sudah sangat bahagia tadi! Bagaimana bisa kalian mengatakan hal yang menyakitkan di hari ulang tahunnya!" teriakku pada mereka.
"Yona.. tolong mengertilah..!" kata ibu pelan.
"Kalian ingin aku mengerti? Baik tentu saja aku akan mengerti, lakukanlah! Pergi dan lakukan yang kalian inginkan! Kembalilah jika kalian ingat kami! Pintu rumah akan selalu terbuka," kataku sambil melangkah pergi.
__ADS_1
Kino, bagaimana dengan dia? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak berani menatapnya, aku tak berani mengetuk kamarnya. Air mataku tak bisa tertahan, hanya menangis dalam diam, melihat Kino terisak dari luar kamarnya. Mereka bahkan tak mencoba menenangkan Kino ataupun menemuinya. Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali, berusaha berhenti menangis dan memahami keadaan ini. Tapi aku hanyalah seorang anak berumur sebelas tahun yang tak bisa mengatur emosinya sendiri.
Keesokan harinya, ayah dan ibu memasukkan barang barangnya ke dalam mobil lalu berpamitan dengan bibi Rhea. Kino masih berdiam diri dikamarnya, situasi lebih sulit dari dugaanku. Aku hanya memandangi mereka dari dalam rumah, tanpa berpamitan, tanpa melambaikan tangan, tanpa sepatah kata terucap dari mulutku. Ayah dan ibu masuk ke dalam mobil, dari dalam mobil ibu berkata,
"Tolong jaga anak-anak ya Rhea."
"Tentu, kak."
Mobil mulai berjalan, meninggalkan halaman rumah. Perlahan mulai tak terlihat, kemudian menghilang di persimpangan. Hhh.. Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Kau sudah makan?" tanya bibi Rhea
"Daripada aku, lebih baik khawatirkan Kino saja. Dia belum makan dari tadi malam." Kataku datar.
__ADS_1
Aku beranjak dari tempat duduk, meninggalkan bibi di ruang tamu sendirian, berjalan menuju kamar Kino. Aku masih belum berani menatapnya, lebih tepatnya aku tak akan sanggup menahan tangis jika menatapnya. Lekaslah membaik Kino.