
“Cinta adalah anugerah Tuhan, dari-Nya untuk insan ke insan lainnya.”
Burung-burung tengah berkicauan di bangunan suci yang dibangun pertengahan 1987an. Matahari baru merekah di ufuk timur, memulai aktifitas harian mereka yang sibuk. Fitri adalah namaku dan aku kini tengah menunggu Angle yang sedang beribadah di gereja Maryam di dekat taman kota. Keluargaku dan keluarga Angle telah bersahabat lama. Kita tak pernah memandang agama yang kami anut. Karena kami percaya bahwa manusia itu hanya ada 2 baik dan jahat.
Setelah selesai beribadah, kami pergi jalan-jalan ke mall. Josh kekasih Angel juga ikut, sampai di mall kami berpisah. Aku pergi ke bookstore, dan mereka berkeliling. Aku mencari novel untuk koleksiku.
“Bruuk” sebuah buku terjatuh di kepalaku. “Aw” aku mengusap-usap kepalaku. Seseorang berlari kearahku.
“Maaf, aku tidak sengaja. Kau baik-baik saja?” Kata laki-laki itu cemas.
“Oh… tidak apa-apa aku baik.”
“Em… aku cristian. Kau?”
“Aku Fitri”
Dari situ kami berteman, saling mengingatkan, dan saling berbagi. Tak jarang kami saling antar mengantar ke tempat ibadah. Angle sangat senang, mama papa pun juga senang kenal dengan Cristian.
Hampir 2 tahun kita bersama, kami tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cristian sibuk dengan urusan kantornya, aku dan Angle sibuk dengan skipsri kami. Kami mencuri-curi waktu senggang hanya untuk sekedar menanyakan kabar atau berjalan-jalan di taman.
__ADS_1
Entah karena sering bersama atau karena benar-benar, aku mulai menyukai Cristian. Angle dan keluargaku mewanti-wanti, bukan melarang. Dan pada minggu ini, dia memintaku untuk mengantarnya ke gereja. Aku senang seperti bunga yang tengah merekah. Sayang dia tipikal orang yang tidak pandai mengingkapkan perasaannya.
“Menikahlah denganku, Fit…” Aku kaget, dia berkata begitu, memang sikapnya padaku sangat hangat, tak jarang dia memberikanku perhatian seperti layaknya kekasih.
“A… apa? tidak bisa Ian. Kau tau kalau agamaku tak memperbolehkannya”. Walau aku bahagia mendengarnya tapi keyakinanku menolak.
“Pindahlah keyakinanmu…” Katanya ragu.
“Ian…?” Aku tak percaya apa yang diucapkan.
“Bukankah kita sama? kamu yang bilang itu. Selama kita tak saling menyakiti, kamu bilang kita sama. Fit… ingatkan saat kau bilang itu padaku saat aku mengikuti keyakinanmu”.
“Saat itu… kamu hanya bermain-main, Ian. Aku tak mau kamu berubah karena aku, aku mau kamu berubah karena hatimu.”
5 tahun kemudian
Aku bekerja di sebuah kantor penerbit, Angle terjun di dunia modeling dan tinggal di negeri paman sam, dan kabar terakhir yang kudengar Cristian berada di Dubai.
Hari minggu papa mengajak anggota keluarga untuk makan di luar. Menikmati waktu bersama. Setelah merasa lapar karena lelah berjalan-jalan. Papa memutuskan untuk kita makan di sebuah restoran padang.
__ADS_1
“Ma… aku mau ke toko buku di seberang ya”. Kataku setelah menunaikan ibadah sholat dhuhur di mushola.
“Iya… sayang, hati-hati”.
Sebuah kitab injil jatuh dari kursi roda seseorang, ketika aku keluar dari toko yang bersebelahan dengan gereja.
“Maaf…” Kataku sambil menghampiri sepasang suami istri itu. Dan betapa terkejutnya aku ketika itu, om Burhan dan tante silvy yang tengah duduk di kursi roda, mereka adalah orangtua Cristian.
“Irsyaad!” Panggil tante Silvy pada seseorang yang berjalan mendekat. Semua menoleh, pria itu Cristian. Dia terlihat berbeda, dia lebih dewasa, lebih matang, dan dia membawa sajadah. Mungkinkah…
“Pa, ma. Oh… om tante apa kabar?” Dia menyalami mereka semua.
“Baik-baik. Kamu sendiri bagaimana? lama kamu tidak main ke rumah”. Jawab Papa
“Baik om. Hai… F… Fit”
“H.. hai Ian” Aku gugup. Melihatnya sekarang, seolah beban di pundak, sesak di dadaku telah hilang.
“Om… bolehkah saya berbicara…” Kata Ian atau Irsyaad namanya sekarang. Hening…
__ADS_1
“Om, tante… saya meminta restu untuk meminang Fitri menjadi istri saya.” Suaranya yang mantap tanpa keraguan memecah makan malam.
Hari-hari yang kulewati dengan merindukannya, kini akan berlalu indah bersamanya. Kita tau cinta yang tulus akan membawa kita untuk bersama-Nya pada akhirnya.