
Di kegelapan malam aku duduk seorang diri di teras depan rumahku sambil melihat bintang yang menyinari malam yang gelap gulita. Entah angin mana yang membuatku ingat dengan perkataan ini “Aku menyukaimu, aku menyayangimu, aku mencintaimu. Aku berharap kamu tidak menerima khitbah lelaki manapun kecuali aku, dan aku berjanji tidak akan mengkhitbah siapapun kecuali kamu. Aku berjanji akan menepati ucapanku tadi” Ujar Yusuf 3 tahun lalu, Seusai wisuda.
Ia teman SMA ku. Memang dia satu-satunya laki laki yang bisa membuatku jatuh cinta, dia sering menjadi imam ketika sholat dzuhur di sekolahku. Aku juga menyukainya karena dia orang yang sangat tegas, dia juga pernah menjadi Ketua Umum Osis. Namun aku dan dia tidak pernah bertatap muka ketika kita saling bertemu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan lamunanku. “Nak, sudah jam 9 malam, masuklah jangan di luar, di luar dingin” Kata ibuku dari dalam rumah. Aku pun berjalan menuju kamarku, tapi belum sampai kamar aku dipanggil oleh ibuku. “Kemarilah” ujar ibuku. “Ada apa, buk” sahutku sambil duduk di sampingnya. “Ibu lihat kamu tadi melamun, ada masalah apa nak” ujarnya. “Aku hanya berfikir apakah kata kata Yusuf dulu akan ditepatinya, sudah 3 tahun ia tak kunjung datang untuk mengkhitbahku bu” kataku. “Bersabarlah, nak. Ibu tau Yusuf itu anak yang baik jadi ia pasti menepati janjinya” Kata ibuku yang menenangkan keraguanku. “Tidurlah, agar fikiranmu tenang” ujarnya lagi. “Baiklah, bu” ujarku.
Sesampai di kamar aku langsung tidur karena memang aku sudah ngantuk sebelumnya. Jam 3 alarmku mulai berdering membangunkanku untuk sholat tahajud. Aku pergi ke kamar mandi cuci muka lalu mengambil air wudhu. Kemudian aku mengaca dan memgagumi kemolekan wajahku yang seperti bersinar karna air wudhu. Aku tahajud 2 rokaat, dan aku akhiri dengan berdo’a agar Alloh meridhoi dan merestui aku dan yusuf. Dan Yusuf segera menghalalkanku. Selesai itu aku melanjutkan tidurku.
__ADS_1
Yusuf memang punya keahlian di bidang komputer sehingga tak heran lagi jika bekerja di perusahaan besar tanpa ijazah kuliah.
“Maaf jika selama ini aku tidak pernah mengabarimu, wahai calon istriku, aku kemari hendak menepati janjiku yang 3 tahun lalu. Apakah kamu mau?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuah cincin. “Subhanaalloh, terima kasih kamu sudah menepati janjimu. Iya aku mau, tapi aku masih kuliah dan masih kurang 1 semester lagi” Ujarku “Iya tidak apa-apa, setidaknya aku sudah mengikatmu” ujarnya sambil memasukkan cincinya ke jariku. Terima kasih Ya Alloh engkau telah mendengarkan apa yang aku doakan kepadamu. Subhanallah
__ADS_1