Cerita Pendek Cinta Islami

Cerita Pendek Cinta Islami
Inikah Hadiah Karena Keikhlasan Ku?


__ADS_3

Malam ini Bulan terasa lebih Indah. Ia mulai memancarkan sinarnya hingga awan pun tak berani untuk menutupi kilaunya yang megah. Suara binatang malam pun ikut menari menambah lengkapnya suasana malam yang sunyi di pertengahan kota Malang yang luas.


Semua berawal sejak aku duduk di bangku SMAN 1 Malang. Pada saat itu usiaku beranjak 17 tahun. Seperti anak-anak sebayaku pada umumnya. Aku mempunya seorang kekasih. Ia adalah sosok lelaki yang aku kagumi karena kepribadiannya yang sampai sekarang membuatku mencintainya. Ia bukan hanya pacar. Tapi sekaligus kakak untukku. Usia kami terpaut jauh yakni 4 tahun lebih tua dariku. Saat ini ia sedang mengejar studynya di Universitas Malang.


Setelah aku menjalani kelulusanku di sekolah. Dengan berbagai pertimbangan aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Tentu ini adalah ujian yang sangat berat untukku. Bukan hanya akan berpisah dengan keluargaku. Aku pun harus siap berpisah dari kekasihku Mas Andi.


“Mas, aku sudah memutuskan akan melanjutkan kuliahku di Jakarta. Maaf kan aku kalau aku harus putuskan hubunganku denganmu. karena aku tak ingin kau menungguku terlalu lama hingga akhirnya kau berharap yang tidak-tidak padaku.”


“Hmm.. Baiklah kalau itu memang keputusanmu. Semoga kau bisa menggapai cita-citamu dan kembali ke malang dengan sukses. Tapi… Sarah aku sangat mencintaimu. Dan sebenarnya aku…”


“Sebenarnya apa mas?”


“Hmm.. Tidak! Tidak apa-apa”


Tentu itu adalah pukulan berat untukku aku tak sanggup kalau harus berpisah darinya orang yang sangat aku cintai. Tapi aku pun tetap harus melanjutkan studyku.


Hari berganti Bulan lambat laun mulai berganti tahun. Tak terasa sudah 4 tahun aku di jakarta. Sebentar lagi aku lulus dan menyelesaikan S1. Selama 4 tahun juga perasaanku masih sama seperti dulu aku masih mengharapkan dia hadir kembali bersamaku. Namun aahh… Itu pasti hanya mimpi.. (Gumamku dalam lamunan). Entah sampai kapan aku terus begini. Dan sampai kapan aku terus menutup pintu hatiku untuk laki-laki lain. Padahal sudah banyak lelaki yang ingin melamarku bahkan kedua orangtuaku berusaha menjodohkanku dengan pria pilihan mereka. Tapi aku tak pernah mau bersanding dengan lelaki yang bukan aku cintai. Entah kapan aku akan menikah. Aku ingin sekali melengkapi ibadahku dengan menjalankan sunnah rasulullah yaitu menikah dan membahagiakan kedua orangtuaku. Tapi sekali lagi aku masih belum ingin hingga aku pun mulai melanjutkan S2 ku di Jakarta dengan beasiswa yang aku dapat dari kampusku dulu.


Saat di sepertiga malam aku terbangun dari lelapku dan mulai mengerjakan sholat tahajudku


“Ya allah.. Entah apa yang terjadi pada hatiku hingga aku tidak bisa berpaling dari lelaki manapun. Yaa muqolibal qulub.. Balikanlah hatiku kembali untuk bisa menemui cintaku. Cinta yang membawaku pada keimanan. Dan menyadarkanku dalam kekhilafan. Ya Robbana aku mohon.. Aku ingin menikah dan mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia. Robbana atina fiddun ya hasanah wafil’akhiroti hasana waqina adzabannar.. Amin”


Pagi yang Indah dan saat ini aku mulai bersiap-siap menjalankan aktifitasku. Namun saat hendak pergi ke kampus tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu kos-kosanku.


“Tok.. tok.. tokk!! Assalamu’alaikum mba..”


Rupanya dia adalah adikku Farhan. Pasti dia ingin menjengukku. Akhirnya aku putuskan untuk datang ke kampus lebih telat. “Wa’alaikumsalam lho kok kamu sendirian ibu mana?”


“Ibu sedang ada urusan mba jadi aku yang menggantikan ibu untuk menjengukmu”


“Baiklah berikan ini pada ibu dan mba minta maaf mba belum bisa pulang karena banyak tugas dari kampus”


“Mau sampai kapan mba sibuk di sini dan tidak pulang ke malang? Setidaknya jenguk dan temuilah ibu walaupun hanya beberapa hari saja ibu sangat merindukanmu mba. Dan aku pun ke sini hendak menyampaikan amanah dari ibu. Ibu menanyakan apakah ada lelaki yang sudah siap meminangmu mba?”


“Hmm.. belum ada”

__ADS_1


“Mau sampai kapan kau sibuk dengan dirimu sendiri mba? Usiamu sudah 24 tahun sekarang dan sudah siap untuk menikah. Ibu dan bapak di Malang sudah bertambah tua. Mereka hanya mengharapkan cucu darimu anak perempuannya satu-satunya. Mungkin bagimu pendidikan adalah nomor satu tapi di desa umur sepertimu sudah dikatakan perempuan tua. Mau sampai kapan kau egois dengan dirimu sendiri? Hatimu butuh sosok pendamping dan kau harus mulai membuka hatimu untuk laki-laki. Sudah banyak pria yang ingin melamarmu tapi semuanya kau tolak hanya karena pendidikanmu yang belum usai. Menurutmu apakah dengan menikah itu yang bisa menghambat pendidikanmu?!”


Aku tak menyangka Farhan akan mengatakan itu padaku. Hatiku seperti tertampar karena perkataannya itu. Dan aku hanya bisa menangis dan tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa terdiam dan memikirkan perkataan Farhan. Sementara Farhan langsung pergi dengan membawa hadiahku tanpa pamit. Memang benar apa yang dikatakan Farhan aku sungguh egois telah mengunci hatiku untuk lelaki lain.


Kumandang adzan dzuhur sudah terdengar. Aku pun langsung bersiap mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat. Perkataan adikku itu terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. Aku berpikir bagaimana nanti hidupku bila aku terus seperti ini. Tentu kedua orangtuaku di desa pasti akan merasa malu karena mempunyai anak tertuanya menjadi perempuan tua. Aku tak mau itu semua terjadi. Dan aku harus segera menikah tahun ini.


Mulai saat itu aku berusaha buka pintu hatiku untuk lelaki yang ingin mendekatiku. Pada saat pelajaran. Rektor di kampusku datang dengan dosen baru yang ingin ia perkenalkan.


Saat itu hatiku mulai dag dig dug dan semua badanku gemetar. Begitu kagetnya aku saat melihat dosen baru itu ternyata dia adalah Mas Andi mantan kekasihku dulu. Aku tak menyangka ternyata dia ada di sini dan menjadi dosen baruku. Ternyata dunia itu sempit. Dan allah hadirkan dia kembali dalam hidupku.


Setelah pelajaran usai. Saat hendak ingin ke luar kelas dia memanggilku.


“Sarah bisa gak kamu duduk sebentar di sini? Aku ingin bicara padamu.. ”


“Hmm.. Ada apa pak?”


“Jangan panggil saya bapak karena pelajaran sudah usai sekarang aku bukan dosenmu.”


“Ada apa mas?”


“Alhamdulillah baik-baik saja mas”


Dan sejak saat itu kami terus berbincang-bincang hingga akhirnya mas Andi ingin melamarku setelah mengetahui statusku yang belum menikah. Aku sangat bahagia sekali. Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen hingga kegirangan. Saat sampai di kos-kosan aku pun langsung ingin menelepon Farhan tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada keluargaku kalau aku akan segera dilamar.


Saat ingin menelepon tiba-tiba teleponku sudah berdering dan itu pesan dari Farhan.


“Assalamualaikum mba ibu sedang sakit. Sudah 3 hari demamnya tidak turun dan sekarang ibu ada di rumah sakit. Bisa gak kau pulang ke Malang karena ibu sangat merindukanmu..”


Astagfirullah ada apa ini? Kenapa saat aku ingin menyampaikan kabar bahagia tapi aku malah memdapatkan kabar menyedihkan. Aku harap ibu baik-baik saja.. (Gumamku dalam hati)


Keesokan paginya aku langsung pergi ke Malang. Saat sampai di rumah sakit. Aku langsung memeluk ibu sambil menangis. “Ibu maafkan Sarah kalau aku baru bisa datang dan menjenguk ibu sekarang.”


“Tidak apa-apa nak. Sekarang pun ibu sudah merasa lebih baik setelah kau datang. Ibu ingin sekali melihat kau menikah dan punya anak. Sudah lama ibu menantikan itu. Dan alhamdulillah ibu suah menerima lamaran dari anak pak Rozaq yang tinggal di desa sebelah. Kamu mau kan menikah dengannya?”


Masya allah.. Aku langsung terdiam mendengar perkataan ibu kepadaku. Badanku terasa kaku. Dan dadaku terasa sesak mendengarnya.

__ADS_1


“Tahukah ibu kalau sebenarnya aku pun punya kabar bahagia untukmu aku akan segera dilamar dan tentunya akan membuat ibu bahagia mendengarnya”. tentu saja itu perkataanku dalam hati yang tak mungkin aku sampaikan kepada ibu sekarang. Aku pun hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada allah swt.


Dengan hati yang ikhlas kumantapkan hatiku “jika dia adalah jodohku dan jika ibu dan bapak sudah merestuinya aku ikhlas dan bersedia menikah dengannya..” ujarku dengan mata yang berkaca-kaca menahan isak tangis.


Sesampainya di rumah HP ku berdering ada telepon dari mas Andi


“Assalamu’alaikum sarah maaf kalau aku mengganggumu aku ingin menyampaikan kabar ini untukmu”


Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba jantungku degdegan dan perasaanku tidak enak.


“Wa’alaikumsalam ada apa mas?”


“Sebelumnya aku minta maaf. A.. Aaku.. Telah dijodhkan dengan perempuan lain. Dan sebentar lagi acara lamarannya akan segera dimulai. Sungguh aku tak bermaksud ingin melukai hatimu. Aku pun tidak tau kalau ternyata kedua orangtuaku sudah menjodohkanku dengan perempuan itu. Maafkan aku Sar…”


Ternyata benar firasatku. Mas Andi sudah dijodohkan dengan perempuan pilihan kedua orangtuanya. Untuk kedua kalinya aku merasakan patah hati karena kehilangannya. Tapi kali ini aku benar-benar akan kehilangannya. Hatiku hancur! Sangat-sangat hancur. Tapi tak apa. Dengan begini aku tidak perlu menjelaskan pula kepadanya kalau aku pun telah dijodohkan dengan pria lain.


“Tidak apa-apa mas.. Mungkin allah punya rencana lain untuk kita. Dan mungkin kita berdua belum berjodoh. Semoga kau bahagia bersama perempuan itu mas.. Doaku selalu menyertaimu.. Assalamu’alaikum”


“Wa alaikum salam”


Aku tak kuasa menahan air mata ini. Ujian dalam cintaku yang bertubi-tubi. Hingga rasanya aku tidak sanggup memikul semua beban ini. Hari itu pun tiba, yaa.. Acara pernikahanku pun digelar dengan begitu megah. Hingga saatnya tiba acara ijab kabul aku masih belum ingin melihat calon suamiku. Aku menunggu di kamar dengan perasaan gelisah dan mata yang terus menerus mengeluarkan air mata.


“Ijab qobulnya telah selesai hanya dengan satu tarikan nafas. Kau sudah resmi menjadi istri Sar..” ujar Farah teman di desaku.


Saat mendengar kabar itu. Air mataku pun mengalir dengan deras. Hari ini aku telah melepaskan cintaku. Aku telah dimiliki orang lain. Dan begitu pula dengan Mas andi mungkin sekarang dia telah bahagia dengan istrinya. Dan aku pun harus berhenti memikirkannya dan mulai berusaha untuk mencintai suamiku apapun keadaannya.


Lalu ibu datang menjemputku dan membawaku menemui suamiku.


Dengan wajah tertunduk aku sudah siap melihat suamiku. Dan setelah aku pandangi ternyata


“Subhanallah…”


Dia adalah Mas Andiku. Pria yang sangat aku cintai. Kami pun hanya bisa saling memandang dan tersenyum. Kucium tangannya dan dia berbisik di telingaku “alhamdulillah.. Sarahku telah menjadi milikku”


Subhanallah inikah hadiah untukku karena ke ikhlasanku ya allah. Hadiah kebahagiaanku karena aku mematuhi perkataan ibuku dan mengikhlaskan cintaku untuk perjodohan ini. Yaa muqolibal qulub engkau telah membalikkan hati ini dengan ke ikhlasan dan membawa hati ini kepada Cinta dan keimanan 

__ADS_1


__ADS_2