
Namaku Nita, ya sekarang ini aku berada di kelas XII Ipa 3. Aku mempunyai seorang pacar, namanya Dion, ia seorang protestan yang sangat baik hati. Hubungan kami sudah berjalan hampir 10 bulan. Aku tahu bahwa muslim itu tidak boleh pacaran, apalagi pacaran dengan non-muslim sepertinya. Tetapi aku juga tak bisa menolak perasaanku, aku sangat mencintainya, pertama kali ku mengenalnya aku sudah mulai menyukainya.
Hari ini tepat hubungan aku dan Dion 10 bulan pacaran, ia telah memberitahuku di mana kita akan bertemu. “pasti Dion akan memberikan kado yang spesial seperti sebelumnya” ucap hatiku senang.
Di rumah makan yang biasa kami kunjungi, aku dan Dion bertemu. Tapi kali ini ada yang beda, ia datang hanya dengan senyum dan tangannya pun kosong, biasanya ia selalu memberiku kado.
“hmm, hai Nita, lama yah nunggunya?”
“nggak apa apa kok”, “kayaknya ada yang beda nih, kamu sumringah banget?”
Ia masih tersenyum, belum menjawab. “ni, Dion kenapa?” batinku.
“ayo dong tebak Nit”
“Hmm dapat nilai 100” ia menggeleng. “di tambahin uang jajan?” ia masih menggeleng.
Perlahan tangannya mengusap lembut tanganku “Nit, aku udah masuk Islam” ucapnya senang, tak lupa ia sunggingkan senyum mengembang.
“oh ya, bagus dong, kapan kapan ngaji bareng”
__ADS_1
Aku langsung memeluknya. “eh tapi, kenapa kamu masuk islam?” lanjutku.
“pas kamu pulang sendiri, yang aku mau pulang duluan itu, aku denger kamu baca al-Quran, dengan sembunyi sembunyi aku mulai ngedengerin kamu, disitu aku merasa terasa damai, seperti semua masalah aku hilang jika mendengarnya. Setiap kamu baca al-Quran, aku selalu diam-diam ngedengerin kamu, hingga aku mutusin untuk pindah ke islam” jelasnya
“wah akhirnya kamu pindah islam juga, jadi kamu kan nggak perlu pergi kalau aku baca al-Quran” ucapku sangat bahagia.
“ini adalah kado yang paling spesial yang kau berikan padaku Dion” hatiku terlalu bahagia
Hampir dua bulan aku mengajarkannya membaca huruf hijaiyah dan membaca al-Quran. Yah walaupun ia belum bisa membaca al-Quran dengan lancar, aku sangat kagum padanya. Ia selalu semangat untuk mengetahui islam lebih dalam. Saat hubungan kami Anniv satu tahun, aku mengajaknya ke sebuah pengajian. Saat kami berjalan berdua keluar masjid, kami berpapasan dengan pak ustad Rahmat.
“Assalammualaikum Nita, sama siapa?” ucap pak ustad, belum sempat aku menjawab, Dion sudah menjawabnya.
“astagfirullah halladzim, dengar nak Nita, nak Dion. Di agama islam tak ada kata pacaran, entah itu sejauh-jauhnya kalian pacaran, memanggil ummi ataupun abi, saling mengingatkan sholat kalau itu pacaran itu hukumnya haram bagi setiap muslim, saling memandang pun tak boleh, apalagi bergandengan tangan karena itu akan menjerumuskan ke arah zina” jelas pak ustad
Dion langsung memandang ke arahku, tak kuberanikan menatap matanya, genggamannya di tanganku pun langsung ia lepaskan.
“terima kasih pak ustad atas penjelasannya” ucap Dion.
“ya sudah saya pamit dulu, assalammualaikum” pak ustad berlalu meninggalkan kami. Aku masih menunduk tak berani melihat Dion.
__ADS_1
“ikut aku, Nit” aku langsung mengikutinya.
Di sebuah restauran kami berhenti membicarakan penjelasan pak ustad tadi.
“Nita, mengapa kamu tak memberitahuku bahwa islam tak membolehkan pacaran, mengapa kau harus melakukannya?” ucap Dion kecewa padaku.
“Dion, aku sangat mencintaimu, aku terlalu mencintaimu Dion ” ucapku diderai tangis.
“tapi Nit, kau sudah salah menggunakan cintamu padaku, aku tak ingin melanjutkan hubungan ini Nit, aku tak ingin kau mencintaiku melebihi Penciptaku dan Penciptamu, ingatlah Nit, ingatlah Nit aku miliknya dan kau pun miliknya, jelas jika ia marah padaku jika ku merebutmu sebelum menghalalkanmu.”
“tapi Dion..” aku tak mampu berucap lagi.
“sadarlah Nit, Cintailah Dia lagi, sebagaimana kau mencintaiku, aku ingin kau mencintai-Nya melebihi diriku, dan kuingin kau hapuskan cintamu padaku, aku pun akan berusaha untuk lebih mencintainya dan menghapus cintaku padamu. Aku pamit Nit. Assalammualaikum.”
“walaikumsalam”
Di kamar jam 3 pagi kuserahkan semuanya padaNya, memohon ampun padanya.
“ya Allah maafkan hambamu yang jauh dari kata layak ini ya Rabb, ampuni hamba ya Allah, hamba sadar, hamba terlalu mencintainya, hingga melebihi siapa yang menciptakannya ya Allah, ya Allah bantulah hamba menghapus rasa cinta kepadanya. Hamba ingin selalu mencintaiMu ya Rabb ku. Amin” lalu kulanjutkan dengan membaca Al-Quran.
__ADS_1
mulai saat itu selalu kuusahakan untuk selalu beristiqomah agar selalu mencintaiNya