Cerita Pendek Cinta Islami

Cerita Pendek Cinta Islami
Penantian Seorang Aisyah


__ADS_3

Sudut surau yang tampak remang ini selalu menjadi tempat dimana aku bisa meredam semua sedihku, mendengarkan suara-suara mereka yang dengan lantangnya melantunkan bacaan-bacaan indah itu.. semangat yang memancar dari mata-mata indah yang mereka punya selalu membuatku tersenyum, melihat ini semua, aku merasa ingin kembali pada masa kecilku yang begitu indah.


Aku rindu saat-saat indah ketika ustadzah dengan sabarnya mendengarkanku menghafalkan ayat demi ayat setiap harinya, namun hari ini tidak lagi. Ustadzah sudah meninggalkan surau ini, ia sudah menemui jodohnya, dan kini akulah yang menjadi orang tertua di sini. Sesekali ustadzah datang untuk menghampiriku, bahkan tak jarang beliau menanyakan kapan aku akan menikah. Ya, pertanyaan yang membuatku selalu merasa sesak saat mendengarnya.


**Cintai dan miliki aku atas ridhonya


Jadikan aku yang halal bagimu.


“assalamualaikum aisyah” ucap ustadzah kala itu


“waalaikumus salam ustadzah” jawabku dengan lirih. Beliau melangkahkan kakinya ke arahku dengan senyuman manis yang biasa beliau tujukan padaku, aku bergegas bangkit dari tempat dudukku dan segera mencium tangannya, begitupun dengan santri-santriku.


“ada hal penting yang ingin saya bicarakan padamu aisyah” tutur ustadzah


“baik, mari kita ke teras rumah saja” pintaku, kami segera bergegas menuju teras rumah untuk segera membicarakan hal penting seperti yang ustadzah katakan padaku.


“silahkan duduk ustadzah” ucapku


Senyum itu kembali terlihat dari sudut bibir ustadzah, lesung pipi yang begitu lucu itu terlihat semakin jelas, aku begitu heran dengan tingkahnya. Alisku mulai mengerut karena kebingungan.


“ada apa ya ustadzah” tanyaku heran


“apa kamu tidak berpikir untuk segera menikah? Saya rasa ini sudah waktunya” ucapan ustadzah semakin membuatku kebingungan, aku masih belum mengerti


“maksud ustazah apa?” tanyaku lagi


“ada seseorang yang datang pada saya, dia menanyakan kabarmu syah, dia berkata ingin melamarmu. Alangkah baiknya jika kamu segera memberitahukan hal ini pada abimu” jelas ustadzah padaku.


“siapa dia ustadzah, kenapa harus menemui ustadzah” ucapku


“namanya Ali. Dia begitu mengagumimu, cobalah untuk taaruf dulu. Mungkin dia jodohmu” tutur ustdzah


“insyaallah biar saya pikir-pikir dulu” jawabku

__ADS_1


Setelah membicarakan hal itu, ustdzah pulang, aku kembali menemui santri-santriku yang terlihat sudah menungguku sejak lama.


Hal ini membuatku bingung, memang sudah sejak lama aku menanti seseorang yang berani memintaku langsung pada Abi, tapi kenapa setelah mendengar semua ini dadaku terasa makin sesak. Rasanya hatiku begitu berat untuk menerimanya, entah kenapa semua jadi serumit ini. Aku pun masih bingung.


Duduk termenung sambil menatap ke luar jendela, memperhatikan setiap tetes air hujan yang jatuh kembali membuatku mengingat semua itu, janji dulu pernah diucapkan seseorang kepadaku. Janji yang sampai saat ini masih aku tunggu kenyataannya,.


Flashback ON


Kriiing…


Dering ponsel mengagetkanku, aku segera bergegas melihatnya. Ternyata itu adalah telepon dari Aji.


“assalamualaikum” ucapku


“Waalaikumussalam” balasnya


“aisyah hari ini aji mau ke perpustakaan. Kamu mau ikut” tanyanya.


“aji maaf, mungkin mulai hari ini berhenti menghubungiku, lebih baik kita jaga jarak. Jika aji memang serius mengagumiku. aku tunggu nanti setelah saat itu tiba, tolong jangan mengundang dosa” ucapku


Flashback OFF


Perlahan kutenggelamkan wajah di antara kedua lututku, hati dan pikiranku masih terasa berat, nafasku masih begitu terasa sesak.


“ya Allah, beri kemudahan” ucapku lirih. Tiba-tiba Umi masuk ke kamarku. Wanita bercadar itu mengusap bahuku lembut. Aku bergegas memeluknya, dan butiran bening itu tidak bisa aku tahan.


“ada apa aisyah?” Tanya Umi padaku


“kemarin malam ustadzah Nurul ke sini saat umi sama abi keluar, dia bilang ada seseorang yang bernama ali datang padanya dan berkata ingin melamarku, dan aku harus segera memberitahu abi” jelasku


“lalu kenapa aisyah sedih? Bukankah ini bagus?” sepertinya umi masih belum mengerti maksudku. Aku masih belum merasa puas mendengar jawaban umi


“aisyah kenapa masih bingung? Ingat nak, umurmu sudah cukup. S1 mu sudah selesai 3 tahun yang lalu, sudah saatnya kamu menyempurnakan agamamu. Mungkin ini jawaban Allah atas doamu selama ini” tutur umi lagi

__ADS_1


“tapi Umi, umi tau siapa seseorang yang selalu aisyah tunggu, umi tau siapa orang yang selalu aisyah do’akan. Dia pernah berjanji pada aisyah, dia berjanji akan menemui abi suatu saat nanti. Dan aisyah percaya janji itu sampai saat ini” ucapku


“bukankah abi dan umi selalu mengajarkan agar tidak berharap pada manusia, cobalah bertaaruf dulu dengannya nak” pinta umi.


Aku masih belum bisa memikirkan ucapan umi, yang jelas sampai saat ini aku masih menunggu Aji, bukan Ali. Ya Aji yang sudah aku kenal 10 tahun yang lalu, dia pernah menjadi seseorang yang begitu mengagumiku, kami juga pernah berteman dengan begitu dekat. Namun beberapa tahun terakhir kami memutuskan untuk menjaga jarak sebelum setan membisikkan kami dengan hal yang tidak benar. Sejak kuliah aku tidak pernah melihatnya lagi, bahkan sampai saat ini. Namun aku selalu percaya dengan janji yang pernah ia ucapkan dengan begitu mantapnya.


Beberapa hari berlalu, aku memberanikan diri untuk membicarakan hal ini dengan Abi. Aku berharap abi akan mengerti dengan maksudku. Aku segera menemui abi yang terlihat bersantai di teras rumah dengan secangkir teh di tangannya.


“bii…” ucapku lirih


“oh aisyah, kebetulan kamu ke sini, duduklah temani abi menunggu seseorang” mendengar ucapan abi, aku bermaksud untuk menunda memberitahu abi tentang hal ini. Aku memilih duduk untuk menemani abi saja


“baiklah bi” jawabku.


Beberapa menit kemudian terlihat mobil hitam berhenti di halaman rumahku, aku rasa itu tamu yang sudah abi tunggu sejak tadi. Aku pun bergegas menyiapkan beberapa minuman untuk mereka, tapi abi mencegahku, entah kenapa abi seperti ini.


Terlihat seorang laki-laki dengan peci turun dari mobil itu, ia terlihat bersama dengan ayahnya yang sebaya dengan abiku. Saat ia membalikkan badan aku kaget, rasanya ini mimpi.


Subhanallah, dia Aji. Laki-laki yang aku tunggu sejak 3 tahun lalu kini berdiri di hadapanku, ada apa ini. Dan untuk apa dia ke sini, di dalam kepalaku penuh dengan tanda Tanya. Dia mendekat pada abiku dan segera mencium tangannya.


“assalamualaikum aisyah” ucapnya padaku


“waalaikumus salam” jawabku, kali ini abi tersenyum ke arahku. Sepertinya ada yang aneh, dan entah ada apa.


“baiklah pak mari kita segera tentukan tanggal pernikahannya.”


“abiii..” ucapku heran


“aisyah, waktu itu Aji datang pada abi untuk melamarmu. Dia bilang ingin menepati janjinya padamu, abi sudah tau bagaimana kerasnya ia berjuang untuk memantaskan dirinya untukmu. Abi rasa dia adalah laki-laki yang layak untuk menjadi imam bagimu. Dan abi juga merasa memang dia laki-laki yang selalu kamu tunggu dan selalu kamu do’akan” jelas abi padaku. setelah mendegar semuanya aku tidak lagi bisa berkata apapun, aku memeluk abi dengan air mata bahagiaku. Penantianku selama ini benar-benar terjawab.


Maha besar Allah yang telah mengabulkan semua do’a-do’aku. DIA telah menjodohkanku dengan seseorang yang selalu aku do’akan selama ini.


Terimakasih ya Rabbi, dengan kejadian ini aku semakin percaya bahwa rindu tidak selalu harus diumbar dalam sosial media, cinta tidak perlu dibuktikan dengan cara kita harus selalu bersamanya, namun do’alah yang memiliki kekuatan atas segalanya.

__ADS_1


Hubungan haram yang selalu mereka bangga-banggakan di depanku, rasanya sudah tidak ada gunanya dibandingkan dengan ikrar setia yang diucapkan di depan orangtua**.


__ADS_2