
Kata maaf terus terucap tanpa henti, tanpa lelah, tanpa bosan. Takdir? Apa takdir sepahit ini? Jauh dari kata baik-baik saja, semuanya bahkan tidak sama sekali untuk hari ini. Membekas dan teringat, bahwa dia takkan pernah pergi. Tapi, dia pergi setelah aku kembali. Kenangan macam apa? Kenangan yang membuat hatiku terisak ketika mengingatnya. Dia pernah ada, bahkan selalu ada. duduk di sudut ruangan gelap hanya memperhatikanku.
“Cinta dan Sang Pemilik Cinta” katanya “Kau adalah cinta, dan aku lebih memilih Sang Pemilik Cinta, Allah swt” lanjutnya. Benar, ya itu benar tak ada kata “pacaran” dalam kamus islam. Tapi mengapa baru sekarang ia mengetahui pengetahuan tentang hal itu? Aku rindu selalu adanya dia dalam hidupku. Jauh, sangat jauh bahkan sulit kukejar. Karena dia mengejar cinta Sang Pemilik Cinta.
Tuhan berikan aku kesempatan kedua. Bukankah aku belum pernah melewati 504 hariku dengannya?. Kenyataan selama 504 hari itu sangat mengiris hatinya, aku tahu. Tapi haruskah aku membayar 504 hari itu untuk selamanya? Aku ingin memeluknya erat, menghangatkannya yang dingin karena terus menungguku di tempat parkir selama 504 hari.
Aku terlanjur menjatuhkan rasa itu padanya. Tak pernah aku berharap ini terjadi, tidak sama sekali. Aku sudah berjanji untuk tak mencintai yang lain, selain dia.
Tak bisakah dia menjaga cinta? tidak membuangnya begitu saja. Benar semua telah terjadi, aku telah menyakitinya begitu dalam. Sampai jika luka itu terlihat mungkin dia perlu cangkok hati untuk memperbaikinya. Tapi inilah rasaku, Aku tak sanggup bila harus menahan cinta ini, sungguh tak sanggup.
Aku sudah berkata tak memaksa status “pacaran” bila dia tak ingin. “Karena hatiku hanya untuk suamiku kelak. Ingatlah Fiqri lelaki yang baik tak akan mengajak gadis berpacaran juga tidak mendekatinya” lanjutnya. Aku memang bukan lelaki yang baik, tidak sama sekali. Tapi haruskah aku dihukum seperti ini?
__ADS_1
“Cinta dan Sang pemilik cinta” teringat kalimat itu. Aku hanya makhluk-Nya, ya itu benar. Namun salahkah aku bila ingin menikmati dicintai lagi? Aku sudah meminta maaf beberapa kali untuk waktu itu. Saat aku menyia-nyiakannya. Nampaknya kata maaf itu tak membuat namaku tercantum kembali di hatinya.
“Aku bisa apa?” Tanyanya. “Aku memlih Sang Pemilik Cinta daripada cinta. Cintaku padamu hanya setetes air dari lautan dan samudra di dunia ini” lanjutnya.
Langit begitu terlihat jauh, seperti dia yang kini telah jauh. “Cintaku berat pada-Nya” ucapnya kemudian.
Beberapa waktu kemudian.
Satu yang selalu kuingat “Cinta dan Sang Pemilik Cinta” aku hanya cinta, Sang Pemilik Cinta bisa mempersatukan cintanya dan cintaku dalam akad suatu hari nanti. Dan aku kembali mengingat bahkan menunggu kata “Cinta dan Sang Pemilik Cinta” dari bibir tipisnya dengan arti yang berbeda.
Sabar mudah di katakan,tapi sulit tuk dilakukan. Tapi kesabaran itu membawa ketenangan yg tidak pernah kita dapatkan saat emosi.
__ADS_1
Banyak yg bertanya,kenapa engkau tersenyum saat sedang sedih?...
Aku hanya bisa berkata,senyum itu menenangkan aku. Tapi amarah itu membebaniku..
Aku pernah bertanya ada diriku sendiri. Kenapa aku harus bersabar saat mereka menghinaku?...
Dan kenapa aku harus meminta maaf kepada mereka padahal kesalahanku sangat kecil. Tapi kini ku tau, kalau memaafkan itu lebih baik bagiku dan baginya.
Kesabaran telah mengajarkan kedewasaan padaku.
jujut sabar itu tidak lah mudah untuk dilakukan ,tapi proses dari kesabaran itu akan mengajarkan banyak hal bagi ku.
__ADS_1
belajarlah untuk menjadi dewasa, maka engkau akan tau apa hikhmah dari segala cobaan yg engkau terima🤗.