
“Huh ngeselin banget, rasanya ingin tak bunuh.” Kataku pada Fira temanku yang lagi asyik dengan hpnya.
“Yang ngeselin siapa? Yang mau dibunuh siapa? Emang kamu berani bunuh aku? Aku nggak percaya.” Jawabnya sambil mengejek.
“Hih kamu malah kaya gitu sih?”
“Iya iya maaf. Kamu kenapa? Curhat dong. Soal Reza lagi ya?” Bujuknya sambil tersenyum. Mungkin niatnya sambil nenangin hati aku.
“Iya lah, ngeselin banget. Baru aja aku lihat dia jalan sama cewek lain. Ya harusnya aku biasa aja sih. Reza aja nggak tau kalo aku kagum padanya. Aku nggak punya nyali buat ngungkapin apa yang aku rasakan.” Ceritaku.
“Oo jadi gitu. Aku juga dengar dari teman-teman katanya Reza baru jadian sama Lia.” Saut Fira.
“Hah… Ya Ampun! Aku memang ditakdirkan menjomblo.” Jawabku agak kaget.
Aku langsung pergi meninggalkan Fira. Lagi pengen sendiri meratapi nasib orang yang punya masa kelam. Kelamaan jomblo! Entahlah ini musibah atau berkah, aku akan tetap berhusnudzon kepada-Nya. Aku akan bersabar di jalan-Mu.
Ketika aku jalan sendirian tiba-tiba ada orang yang mengejarku. Aku terkejut, ternyata itu orang gila. Aku langsung lari dengan rasa takut yang sangat hebat. Untung saja ada yang menolongku, entah dia siapa. Aku salut dengannya, dia hanya menyuruh orang gila itu untuk tidak mengejarku, dan orang gilanya langsung pergi. Tapi aku nggak sempat berterima kasih karena dia langsung pergi setelah menolongku. Ya sudahlah, Alhamdzulillah aku selamat dari serangan orang gila itu.
__ADS_1
Hari berikutnya sekolah seperti biasa. Tidak kusangka setelah pulang sekolah aku berjumpa dengan orang yang kemaren menolongku. Dia masih mengenakan seragam SMA, tapi itu seragam SMA lain. Kali ini aku berani mengejarnya.
“Hey kak… kak tunggu…” teriaku memanggilnya.
“Assalamu’alaikum.” Ucapnya sambil tersenyum. Mendengar salam darinya membuatku kagum padanya. Harusnya aku yang lebih dulu menebar salam, tapi malah dia. MasyaAllah masih ada ikhwan shalih seperti dia. Akhwat mana yang tidak kagum dengannya.
“Wa’alaikumsalam. Kakak ini yang kemaren menolongku kan? Terima kasih ya kak.” Jawabku.
“Oo iya sama-sama. Manggilnya pake nama aku aja ya, aku Arfan.”
Aku pulang dengan perasaan senang, ditengah lamunan hati berkata “Ya walaupun masih jalan sendirian. Setidaknya ada orang yang membuatku nyaman” Aduh ini perasaan apalagi ya? Cinta? Kayanya enggak. Entahlah, abaikan saja.
Lagi-lagi di sepanjang perjalanan pulang yang terlintas di pikiranku adalah nama Arfan. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya tapi apalah dayaku yang sepertinya tengah jatuh cinta. Kelihatannya dia anak sholeh dengan iman yang kuat, jadi tidak mungkin bisa jatuh cinta pada seseorang sepertiku. Tapi apa salahnya aku berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya. Tentu saja aku memikirkannya, mungkin aku rindu. Fira pun menghampiriku, seperti biasanya dia meledekku. Hadeh aku punya teman kok kaya gini amat ya. Tapi nggak apa-apa, tingkahnya yang membuatku nyaman dan tak ingin kehilangan, “Eliya oh Eliya… lagi mikirin siapa nih? Kayanya serius banget, nyampe bulu tanganku mrinding nih hahaha.” Tanya dia padaku.
“Huh… Aku merindukan seseorang yang tampan, manis dan shalih, pokoknya sempurna deh, oh Arfan seandainya kamu jadi milikku serasa akulah manusia paling beruntung.” Jawabku dengan halusinasi ketinggian.
__ADS_1
“Mana ada orang shalih mau pacaran. Oo jadi namanya Arfan, kenal dari mana, El?”
“Kepo!! Pokoknya semua berawal dari orang gila, untung aja aku dikejar orang gila.” Jawabanku membuat Fira terbahak-bahak, “Ahahahahahahahahahha… jangan-jangan kamu suka sama orang gilanya hahaha… gimana ceritanya sih?” masih dengan tertawa. Kemudian aku ceritakan semuanya dan Fira masih lagi tertawa. Aduh ini anak kalo udah tertawa berhentinya susah, hahaha Fira… Fira… Aku sayang kamu deh. “Fira, nanti sore jalan-jalan mau nggak? Aku bosen nih.”
“Boleh, aku juga lagi bosen nih. Jam 3 aku ke rumahmu ya.” Jawabnya.
Waktu sudah menunjukkan jam 3, aku dan Fira langsung berangkat jalan-jalan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Nggak sengaja aku melihat Arfan. Seneng banget bisa ketemu dia lagi. Tapi kok Arfan bawa koper kaya mau bepergian aja. Nggak kelamaan aku sapa dia dengan salam, “Assalamu’alaikum Arfan.” Sapa aku dengan senyuman.
“Wa’alaikumsalam Eliya. Oo iya, kebetulan kita ketemu nih, aku sekalian mau pamit ke kamu. Aku mau pindah ke kampung kakekku.”
Baru saja kemarin ketemu, udah mau pergi lagi. Sedihnya hati ini, “Oo gitu ya. Berapa lama? Nanti balik lagi ke sini nggak?” tanyaku padanya.
“InsyaAllah aku akan kembali dan menikah denganmu. Aku harap kamu dan orangtuamu menerimaku” Jawab dia dengan muka serius.
Hati aku langsung bergetar mendengar jawabannya. Ya Allah, aku harap Arfan serius mengatakan ini padaku dan tolong jaga hati kita sampai Engkau menghalalkan kita. Pokoknya aku harus memperbaiki diri untuk jadi sepantasnya buat Arfan.
Sejak saat itulah aku lebih mendekatkan diri pada Allah. Arfanlah yang membawaku pada kebaikan. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah hadirkan untukku seorang ikhwan yang dapat membawaku ke jalan-Mu.
__ADS_1