Cerita Pendek Cinta Islami

Cerita Pendek Cinta Islami
Cinta Ini Berlabuh Pada Doa


__ADS_3

Pagi ini begitu berbeda, aku tak mendengar ponsel ini berbunyi. Tidak seperti biasa dia yang selalu membangunkanku di pagi hari dan memberi semangat serta do’a terbaiknya untukku. Dia lelaki yang mengambil hatiku sejak 3 tahun terakhir ini. Lelaki yang pernah aku kagumi ketika baru menginjak bangku kuliah. Dia adalah lelaki sederhana yang pernah aku temui dalam sebuah komunitas yang aku ikuti. Ketika mendengar namanya, tidak tau mengapa bahwa alam bawah sadarku selalu menggebu-gebu untuk menemui lelaki itu. Ya, saat itu dia punya tambatan hati. Tapi hatiku hanya berkata, “Ya Allah, kenapa aku begitu kagum dengan lelaki ini?, jika Engkau kehendaki aku mengenalnya, dan jadikan dia pendamping hidupku untuk kebaikan dunia dan akhiratku”.


Aku menjalani hari-hari dengan sendiri, menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri. aku mencoba mengikis rasa kesedihan dengan cobaan-cobaan yang aku lalui selama masa perkuliahan. Aku hidup di perantauan dengan mandiri, bantuan moril dari orangtua sudah cukup untuk membuatku semangat untuk mencari pekerjaan guna memenuhi kebutuhan hidup di kota orang. Segala puji bagi Allah, setelah berusaha dan berdoa Allah memberiku profesi yang sangat mulia. Profesi yang membuatku belajar bagaimana menjadi ibu terbaik untuk seorang anak. Dan profesi itu tak lain dan tak bukan adalah seorang guru. Dimana profesi tersebut diperlukan hati yang sangat mulia, niat tulus tanpa mengharap imbalan apapun. Yang diharapkan adalah perkembangan dan pertumbuhan murid-murid secara membaik dalam hal akademis, spritual, maupun psikomotorik.


Berbulan-bulan aku menjalani profesi mulia tersebut, terkadang lelah, ingin marah dan berputus asa kerap berperang dalam diri ini. Tetapi senyum dan tawa tulus anak-anak selalu membuat diri ini semangat berangkat mengajar. Aku banyak belajar tentang perkembangan anak dengan tipe-tipe tiap individunya, aku harus belajar bagaimana menjadi guru serta orangtua yang terbaik untuk mereka. Dan ditengah kesibukanku, dia yang pernah aku kagumi. Ya, lelaki itu datang dalam hidupku. Kala itu dia mengirim pesan lewat facebook untuk meminta pin disaat hari ulang tahunku. Aku tidak tau apa ini jawaban dari do’aku, ataupun memang dia tercipta sebagai bagian dari takdir hidupku.


Hari-hari berlalu, dia selalu mengirim pesan dan nasehat terbaiknya setiap harinya. Sekalipun aku tidak mengungkapkan kepadanya bagaimana perasaanku dari awal. Aku menerima dia dengan baik dalam hidupku, dan aku berharap dia adalah lelaki yang bisa mendampingiku sampai akhir hayat ini. Aku tidak mengenalnya begitu mendalam, aku tidak mengetahui bagaimana keluarganya, bagaimana kehidupannya. Tapi mengapa hati ini begitu yakin bahwa dia adalah lelaki baik dan sholeh.


Dan hari indah itu datang, allahku yang Maha baik mendengar doa-doaku selama ini. Senja itu dia mengirim pesan untuk mengajakku buka puasa dan tarawih bersama. Dan mengapa diri ini begitu bahagia untuk menyanggupi dan menunggunya untuk menjemputku di senja itu.

__ADS_1


Setelah buka puasa dan tarawih bersama, entah mengapa dia mengajakku untuk jalan berdua sebentar dan menikmati Festival Ramadhan di malam itu. Malam itu dia menyampaikan perasaannya padaku, dia mengakui bahwa aku ada dalam perasaannya. Aku hanya terdiam dan tersenyum, tanpa bisa berkata apa-apa aku hanya memandanginya. Aku merasa ini hanya mimpi di hari lalu yang terjadi saat ini di hadapanku. Dia mulai meyakinkanku bahwa dia akan menjalin hubungan serius denganku. Dan hati tidak bisa menolak apapun dengan apa yang dia katakan.


Hari-hari indah itu pun dimulai, dia menemaniku dalam susah dan dukaku. Aku menghargai dia dalam hidupku, bagiku dia adalah kesempatan yang diberikan Allah padaku untuk terus menjaga hatinya dan terus menemaninya hingga menapaki kesuksesannya di dunia dan akhiratnya. Sampai akhirnya di hari bahagianya aku diberi kesempatan untuk mendampinginya dan dia mengenalkan diriku kepada orangtua serta keluarga tercintanya. Dia lulus dari bangku kuliah dan menyandang sebagai lulusan sarjana ekonomi. Aku turut bahagia serta bangga kepadanya sampai akhir dia selalu berjuang tanpa ada kata menyerah, tujuannya sangat mulia untuk membahagiakan kedua orangtua tercintanya. Syukur kupanjatkan pada sang Robbi sudah memberiku kesempatan untuk ikut andil dalam proses perjalanannya menuju sukses.


Hari-hari indah itu kulalui bersamanya, kulalui berdua setiap harinya. Sampai makan, sholat berjama’ah, dan ke manapun berdua untuk mengisi kebahagiaan kita berdua. Dan aku sadar bahwa hubungan itu selalu diuji kesetiaannya, duji kejujurannya, dan ketulusannya. Setelah dia berhasil memperoleh gelar sarjana ekonominya, dia diberi allah kesempatan untuk bekerja di Jakarta, di Kota kelahirannya. Dimana pekerjaanya sesuai keinginan dan passionnya, dan disinilah hubungan kita teruji, dia menyampaikan keinginannya padaku di malam itu untuk pindah dan bekerja di Jakarta. Dia selalu mencoba meyakinkan hatiku untuk sabar dan menantinya hingga sukses. Meskipun jarak ini akan mengurangi intensitas kita untuk berdua, dan dia tetap meyakinkan aku setiap harinya bahwa akan ada hari indah yang akan menyatukan kita di waktu yang tepat.


Malam itu, dia mengajakku untuk ikut mengantarkannya ke stasiun bersama keluarganya. Aku tau dalam hatinya dia tidak tega melihat kesedihanku tapi dia begitu menguatkanku meyakinkanku bahwa dia akan setia, dan tulus mencintaiku.


Bulan-bulan berlalu dengan jarak yang memisahkan kita, tapi hati ini selalu mendekatkan kami berdua. Dia selalu menyemangati di tugas akhir perkuliahanku, dia selalu berdoa untuk kebaikanku. Dia adalah lelaki yang begitu baik yang dikirim allah untukku. Aku merasakan cinta tulus darinya, dia membantuku tanpa pamrih. Dia membantu menyelesaikan problem dalam kehidupanku dan aku tak pernah lupa bahwa dia ada dalam hidupku karena kiriman dari Allah. Entah kenapa ketika dia mengajarkan kebaikan, mengajarkan tentang agama aku selalu nurut dan mendengarkannya tanpa membantah. Bagiku dia adalah lelaki yang aku inginkan untuk menjadi mendamping hidupku, sebelum mengenal dan setelahnya pun aku selalu yakin tanpa ragu. Keyakinan itu berasal dari hati dan fikiran seseorang dan itu datangnya pun dari sang Maha Pencipta yang memiliki diri ini. Dan aku juga belum mengerti kenapa hati ini begitu yakin.

__ADS_1


Sampai diakhir perkuliahanku aku berhasil menyelesaikan tugas akhirku. Aku bersyukur allah mewujudkan mimpiku untuk menjadi seorang sarjana pendidikan. Dia begitu bahagia mendengar kabar dariku, dia selalu menyemangatiku sampai di hari bahagiaku. Di hari bahagiku dia rela menyempatkan waktu dan materinya untuk datang dan mendampingiku di hari dimana aku berhasil menyandang gelar sarjana pendidikan islam. Aku bangga kepadanya, aku selalu mengucapkan terima kasih pada allah atas segala apa yang diberi untukku. Aku melewati hari itu dengan bahagia bersama dia dan orangtua serta adik-adikku. Dia dengan sabar memanjakan adik-adikku dan berhasil mengambil hati mereka.


Bersyukur dan terus bersyukur atas apa yang Allah beri, melewati dia. Aku mengerti segalanya, aku mengerti arti ketulusan, aku mengerti kebaikan. Setelah lulus dari bangku perkuliahan, dia pun tidak diam. Dia terus menyemangati dan membantu untuk kebaikan karirku. Sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih dari seorang guru. Aku mencari penghasilan lebih hanya karena ingin membantu keluargaku, membantu menyekolahkan adik-adikku.


Menapaki pekerjaan baru, di awal bekerja aku merasa sepi tanpa tawa dan tangis anak-anakku. Aku merasa bekerja di kantor terasa begitu bosan dan tidak sesuai dengan keinginanku. Allah benar, disaat aku begitu ingin menjadi pegawai kantor allah memberikannya. Tapi allah melihatkan kepadaku bagaimana damainya hati ketika menjadi guru. Kembali kuceritakan kepada dia, bahwa aku rindu dengan muridku. Dia begitu sabar menasehatiku untuk menjadi guru kembali.


Disaat keyakinan aku dan dia begitu kuat. Aku selalu membicarakan soal pernikahan dengan dia. Wajar, aku hanya wanita yang ingin memiliki dia secara sah baik lahiriyah maupun bathiniyah. Di awal tahun 2017, aku selalu berdoa pada Allah agar hatinya dan hatiku bisa dipersatukan dalam ikatan sakral yaitu sebuah pernikahan. Namun di tengah bulan, aku membuatnya begitu marah. Entah aku selalu meyalahkan diriku jika pernah membuat hatinya terluka karena kemarahanku. Aku marah karena aku sayang, aku khawatir akan keadaan dan kesehataanya. Namun aku salah ketika tak bisa mengontrol emosiku, karena aku tau dia adalah lelaki yang hatinya sangat halus dan lembut. Aku selalu meminta maaf padanya bahwa aku salah. Cepat-cepat aku perbaiki diriku, dan aku berjanji aku tidak akan menyakiti hatinya lagi sampai akhir hayatku.


Demi mendapatkan maafnya, aku rela ke jakarta untuk mencari rumahnya dan menemuinya. Saat itu aku hanya berbekal doa tahajud dan doa ibu. Ibuku begitu sayang pada dia. Ibuku mencintai dia seperti anaknya sendiri. Hampir seluruh keluargaku mengharapkan dia sebagai seseorang yang bisa mendampingiku selamanya. Namun Allah menguji kita, Allah sayang padaku dan padanya. Allah menemukanku dengan dia di rumahnya, meskipun hampir menunggu 2 hari untuk bisa bertemu dengannya. Karena dari awal aku hanya ingin menemuinya untuk menjelaskan permasalahan dan memperbaiki suatu hubungan. Aku menemuinya diantar ibu, disitulah kedua keluarga bertemu dan bersillaturrahim. Aku mengenal kebaikan ibunya beserta keluarganya di hari itu. Ibunya begitu sayang denganku, beliau memberikan nasehat-nasehat terbaiknya untuk kebaikan hubunganku dengan dia.

__ADS_1


Ketika bertemu dengannya, aku menatap matanya. Aku mendengar segala nasehatnya dengan pikiran terbuka. Dan aku tetap luluh untuk nurut dan tunduk dengan ucapannya. Karena aku mengerti bahwa aku salah, melihat dan mendampinginya makan pun aku sudah bahagia dan merasa bahwa aku masih ada dalam hatinya. Segala nasehatnya adalah untuk kebaikan kita berdua, dikala permasalahan itu datang, Allah beri kesempatan kita untuk saling memperbaiki diri agar nanti ketika Allah persatukan hati kita, kita sudah menjadi suami istri sholeh & sholehah serta orangtua terbaik untuk anak-anak kita.


Dan cinta ini akan berlabuh pada doa doa kepada Sang Khalik dan Sang pembolak balik hati. Doa-doa yang kita panjatkan setiap hari akan melangit dan hambanya akan menunggu kisah indah itu. Cinta akan tetap sama untuk orang yang sama dan keyakinan yang sama bahwa doa kita akan diijabah oleh Allah di waktu yang tepat. Karena doa dapat mengubah takdir manusia jika doa itu terus dipanjatkan di waktu-waktu mustajab.


__ADS_2