Cerita Pendek Cinta Islami

Cerita Pendek Cinta Islami
Semua Karena Allah


__ADS_3

Kring… kring… kring… Bunyi keras alarm membangunkanku dari mimpi indahku. Refleks, kumatikan segera alarm itu. Pukul setengah empat. Segera kubangun dan membaca doa, setelah itu langsung mengambil air wudlu untuk mensucikan diri sekalian sholat malam. Kugelar sajadah biruku, dan langsung khusuk menghadap-Nya. Dalam khusuknya sujudku, kuselipkan beberapa doa kepada Sang Maha Pencipta. Seusai salam kusempatkan berdzikir dan membaca Al-quran sembari menunggu adzan subuh berkumandang. Drrt… drrt.. Terdengar suara getaran dari HP-ku bertanda ada SMS yang masuk. Ku tersenyum membacanya, rupanya sahabatku Lia membutuhkan tumpangan untuk pergi ke sekolah, karena sepeda motornya lagi sakit dan berada di bengkel. Kubalas dengan huruf yang singkat, padat, jelas. “Y”.


“Pagi Abi, Umi…”


“Pagi sayang…” jawab mereka serentak. Aku duduk di kursi depan Umi. Sekilas ku melihat meja, senyumku mengembang. “wah.. umi, makasih ya udah masakin makanan kesukaan Zahra “.


“Iya zahra.. Umi bikin makanan kesukaanmu soalnya Umi kan udah lama nggak masak ini”. jawab Umi. Iya sih.. Umi memamg udah lama nggak pernah masak ini, kalau nggak salah terakhir mungkin pas aku kelas 2 SMA. Hmm… lama banget.


“Abi.. Umi.. Zahra berangkat dulu ya”.


“Iya, hati-hati di jalan”. jawab Abi.


“Yang rajin belajarnya!!” Umi menambahkan.


“Iya Umi”. kucium tangan Abi dan Umi. Aku sangat bersyukur mempunyai orangtua yang sayang sama aku. Seperti Abi dan Umi. Mereka selalu perhatian kepadaku. Tak jarang aku meminta sesuatu dan sering dipenuhi. Maklumlah aku adalah anak tunggal.


“Zahra pamit dulu, Assalamualaikum..”.


“Waalaikumsalam…”


“Ya Allah Zahra… lama banget sih kesininya. Hampir aja aku mau berangkat sendiri tadi”. Ucap Lia yang kesal kepadaku sesaat setelah aku datang.


“He he he… maaf tadi jalannya macet sih..!”


“Hmm.. ya udah deh. Ayo berangkat keburu telat nih..!!!”. Jawab Lia yang masih kesal kepadaku. Hmm.. sahabatku ini emang suka ngambek. Tapi, aku bersyukur punya sahabat kayak Lia. Walaupun dia suka ngambek, tapi dia sangat baik dan perhatian. Ketika aku sedih Lia selalu menghiburku, dan aku ingat saat kelas sepuluh dulu aku pernah lupa mengerjain PR dan aku merengek ke Lia. Ternyata Lia langsung pergi ke rumahku untuk mengajariku. Padahal itu sudah larut malam. Dan Lia juga baru pulang dari luar kota.


Yang benar saja, sesampainya di kampus sudah banyak mahasiswa yang udah datang. Kuparkir motorku dan bersama-sama aku dan Lia lari sekencang-kencangnya menuju kelas.


“Alhamdulillah… nggak telat”. ucapku.


“hu…iya Ra, Alhamdulillah”. Jawab Lia.


“Lia, ikut aku ke perpustakaan yuk..!”

__ADS_1


“Ngapain?


“Ya mau baca buku lah Li.. masak mau ngamen”.


“Ya kan bisa aja, kamu kekurangan uang trus ngamen di perpus kan lumayan hasilnya bisa bagi berdua..”


“Hiii… Lia ngawur deh ngomongnya!” jawabku ketus. Sambil mencubit pinggang Lia.


“Aww..” teriak Lia. “Zahra.. kok aku dicubit sih.. kan tadi aku cuma bercanda. Ya udah, nggak jadi aku anterin ke perpustakaannya”. jawab Lia ketus.


“Lo… kok gitu sih..? sebenarnya kan aku yang kesal, tapi kenapa kamu yang ngambek. Ya udahlah, aku ngalah aja. Maaf deh Lia. Jangan ngambek dong”. ucapku.


“Ya udah ayo!”. Jawab Lia singkat.


Untunglah suasana perpustakaan saat itu nggak terlalu ramai. Ku berjalan menyusuri tiap-tiap rak mencoba meneliti barangkali ada buku yang sedang aku perlukan. Dan kuambil buku-buku dan membawanya ke meja.


“Ya Allah Zahra.. banyak banget bukunya. Kuat bacanya..?”. ucap Lia keheranan melihatku membawa buku yang begitu banyak.


“Emang kenapa?, nggaka boleh..? kan aku memang butuh”. Jawabku dengan nada kesal. Emang sih.. banyak buku yang aku bawa, dan aku juga nggak yakin bisa mambacanya semua. Tapi, gak apa-apa lah, itung-itung penghilang stres.


“Sayang saudara-saudaranya, sayang temen-temennya. Gitu kan Lia..?”. jawabku yang langsung memotong pembicaraan Lia. “Lia, sampai kapan sih kamu berhenti ngenalin aku sama temen cowokmu. Aku sedang gak ingin mencintai seseorang sekarang, aku ingin…”


“Ingin fokus sama kuliahmu, ingin fokus bagaimana membahagiakan orangtuamu, dan kamu ingin fokus sama Allah. Begitu kan. Aku sangat faham, Ra. Tapi, semenjak kamu kenal dengan Fahri, kamu jadi berbeda. Kamu bukan seperti Zahra yang kukenal. Kamu jadi takut untuk mencoba mencintai seseorang lagi. Lagian Fahri juga udah pergi ninggalin kamu. Aku tahu kamu suka sama Fahri. Tapi, udahlah, Ra. Lupain Fahri. Masih banyak lelaki lain yang lebih baik daripada Fahri”. ucap Lia yang langsung memotong pembicaraanku.


“Tolong Lia, stop. Jangan bahas ini lagi. Jangan ngelibatin Fahri. Dan aku gak takut jatuh cinta. Aku hanya ingin memperbaiki diriku, sikapku, akhlaqku, aku ingin berhijrah di jalan Allah. Ya udahlah Lia. Aku mau masuk ke kelas dulu. Assalamualaikum…”.


“Lo.. lo… Ra.. Iihh, kok ditinggalin sih aku. Ya.. ngambek deh ni anak. Lagian kenapa juga sih aku bahas itu. Duh Lia… terakhir deh ngomong bahas itu. Kapok”. Ucap Lia.


Siang itu jam kuliahku telah berakhir. Di tengah perjalanan menuju tempat parkir aku bertemu Lia. “Lia, maaf aku gak bisa nganter kamu pulang. Soalnya aku ada urusan mendadak”. Ucapku.


“…Zahra. Masih marah ya sama aku, soal tadi aku bahas Fahri. Maaf Ra…”.


“Nggak Lia. Aku gak marah kok. Ya udah ya..aku pergi dulu. Assalamualaikum”.

__ADS_1


“Waalaikumsalam, hati-hati Zahra…”. Aku hanya tersenyum dan langsung pergi.


Saat itu aku langsung pergi ke tempat favoritku. Sebuah tempat yang biasa aku datangi untuk menghibur diri, menenangkan hati, tempat yang bisa aku gunakan untuk mencurahkan semua keluh kesahku. Ya, Masjid.


Karena aku belum sholat Dzuhur, jadi sekalian. Mengambil air wudlu dan langsung khusyuk menghadap Allah. Kesebutkan semua doa dalam sujud terakhirku. Dan kucurahkan semua keluh kesahku pada-Nya. Aku hanya percaya Allah sebagai tempat untuk kucurahkan semua masalahku. Seusai sholat, kulipat mukena yang sudah kupakai untuk segera kumasukkan ke dalam tas. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu titik. Memandang seorang lelaki yang saat ini juga sedang melihat ke arahku. Entah kenapa ingatan beberapa tahun lalu, seolah-olah kini diputar kembali. Derai air mata pun tak dapat kuhindari, dan kini mulai mengalir deras. Lelaki itu berjalan menghampiriku. Dan kenapa rasanya kakiku tak bisa bergerak, rasanya seperti di paku.


“Zahra…”. panggil Fahri. Aku bingung, tubuhku bergetar.


“Aku ingin berbicara denganmu”. Lanjutnya.


“Maaf, aku harus pulang”. Jawabku,dan langsung pergi meninggalkannya. Tapi niatku terhalang ketika Fahri tiba-tiba menyentuh bahuku. Sontak aku kaget.


“Aku mohon, Ra. 5 menit aja..”. pinta Fahri


“Baiklah..” jawabku. Fahri mengajakku ke teras masjid. Tapi,setelah beberapa menit tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Fahri. “Kalo emang gak ada yang di bicarakan aku mau pulang”. Ucapku.


“Jangan Zahra…”.


“Eehh… Sebenernya aku mau bicara soal 5 tahun lalu. Aku…”.


“Apa..! mau jelasin kepergian kamu saat itu. Cukup sudah kamu buat aku sedih, Fahri. Kamu gak usah jelasin apa-apa lagi. Cukup 5 tahun sudah aku terus bersahabat dengan sepi, kesunyian malam, dan derai air mata, menahan rindu. Aku selalu berharap pada Sang Kuasa agar kau kembali dan mempertemukanku denganmu di waktu yang indah. Untuk melepas semua rinduku. Dan berharap kau akan menepati janjimu”. Jawabku yang langsung memotong pembicaraan Fahri.


“Maaf… telah menyiksamu dengan perasaan itu selama 5 tahun ini. Tapi, aku gak bisa biarin kamu terus salah faham sama aku, Ra”. Jawab Fahri, yang langsung membuatku kaget.


“Salah faham..? apa?”. Ucapku.


“5 tahun lalu, disaat aku mengatakan bahwa aku akan pergi. Kamu langsung marah, kamu beranggapan aku sudah tak mencintaimu lagi. kamu tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. Dan ketika itu kamu langsung pergi dengan amarahmu. Dan aku tidak bisa menahanmu. Zahra, aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi kepergianku saat itu bukan karena untuk meninggalkanmu. Justru karena aku memperjuangkanmu. Saat itu aku sedang sakit, dan aku harus berobat di luar negeri. Jika kamu beranggapan aku sudah tak mencintaimu lagi, aku gak akan ada di sini buat kamu, Ra. Kamu telah salah menilaiku”. Aku terdiam setelah mendengar penjelasan Fahri.


“Zahra, aku mencintaimu karena Allah, gak ada wanita lain yang aku cintai selain kamu. Ra, ada satu masa saat aku terbaring lemah tak berdaya, menahan sakit yang luar biasa. Seakan akan aku ingin menyerah, tapi aku ingat akan janjiku padamu. Janji yang sudah kuungkapkan. Dan itu yang membuatku bertahan, Ra. Dan atas izin Allah, sekarang aku sudah kembali, Ra. Dan aku ingin menepati janjiku. Aku ingin hidup bersamamu mencari ridlo Allah. Aku ingin membimbingmu ke Surganya. Tunggulah 2 hari yang akan datang, aku beserta orangtuaku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu”. Ucap Fahri. Aku tak bisa menahan tangisku setelah ku dengarkan penjelasan Fahri.


“Fahri, maaf ku telah salah menilaimu. Dan juga, aku berterima kasih padamu. Dengan kembalinya dirimu, rinduku telah terbalaskan. Dan telah berganti menjadi sebuah baitan doa, yang akan selalu ku panjatkan agar kita selalu bersama sampai masa yang telah ditentukan-Nya”. Ucapku.


“Zahra, pengorbanan kita telah selesai, dan rinduku padamu ataupun rindumu padaku telah terbalaskan. Di rumah Allah ini, kebahagiaan menghampiri kita. Semua terjadi atas izin Allah. Dia telah mempertemukan kita kembali. Ra, kita bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah”. Ucap Fahri.

__ADS_1


Aku tidak tau harus berbuat apa. yang pasti aku sangat bersyukur atas kebahagiaan yang telah Allah berikan padaku. Ya. Ini semua terjadi atas izin Allah.


__ADS_2