
Fandi hanya terdiam ketika sang kakak mengatakan bahwa foto Maya ada didalam kamarnya. Vani aku dan Intan saling memandang dan diakhir tatapan kami tertuju kepada Maya yang diam menunduk dengan wajahnya yang memerah.
" Kenapa kalian?" kata Dinda.
" tidak kak, aku hanya gak percaya aja." kata Vani dengan nada gugup.
pandangan kami tertuju kepada Fandi yang hanya diam, kami terus menatapnya berharap Fandi akan menceritakan semuanya.
" Fandi kenapa kamu hanya diam saja." kata Dinda.
" Kalau kamu benar menyukai gadis ini, lebih baik kamu katakan sekarang. Daripada nanti diambil orang. hahaha..." tambah Dinda sambil menyenggol Fandi agar bergerak tidak diam saja seperti seorang pengecut.
" Fandi kamu kan cowok... ayo katakan saja kalau kamu suka sama Maya. kalau kamu suka sama Maya sih aku dukung 100%." kata Firman
Kami pun melihat kearah Kak Firman dengan tatapan tajam, mencoba mencari tahu maksud dari perkataan kak Firman itu.
" Kenapa... kalian tidak setuju? lihatlah... ini salah satu perbedaan kalian dengan Maya. dia lembut baik hati dan cantik..kalian?" kata Firman
Terlihat senyuman puas diwajah kak Firman karena mengejek kami bertiga.
" Kata siapa... mereka juga cantik-cantik kok, aku baru tahu kalau disekolahan Fandi banyak cewek-cewek cantik." kata Dinda
" Makasih kak... kak Dinda tahu gak, kalau kak Fandi adalah pangeran disekolah kami, dia menjadi rehutan para cewek-cewek disana lo... kalau mereka semua tahu yang disukai kak Fandi adalah Maya mungkin mereka semua akan marah." kata Vani.
" Benarkah itu Fandi? aku tidak heran dengan itu. karna dia memang tampan, kakaknya aja cantik." kata Firman
" Kamu jangan hanya menasehati mereka aja Man... lihatlah dirimu, kamu saja belum bisa mengutarakan perasaanmu kepada gadis yang kamu sukai... buat apa kamu menasehati mereka." kata Atha
Kami memandang kak Firman dengan mencipitkan mata kami, sepertnya aku tahu siapa wanita yang kak Firman sukai.
" Kak Dinda... kak Dinda berasa gak kalau ada cowok yang pedekate sama kak Dinda tapi hanya pura-pura jadi sahabat saja. padahal dia suka." kataku sambil melihat kearah kak Firman yang kemudian dia tersedak mendengar ucapanku.
" Dasar cebol... jaga ucapanmu ya." kata Firman
" Mas Firman kenapa marah, memangnya aku bilang kalau cowok itu mas Firman." tambahku sambil tersenyum puas karena bisa meledek kak Firman.
__ADS_1
" Enggak sih...." kak Firman tersipu malu sambil mengusab rambutnya.
" Mas Firman, kalau suka bilang aja. jangan dipendam. kalau beruntung mungkin dia juga suka sama kamu." kata Vani.
Susana sejenak terdiam, hanya alunan musik dicafe yang terdengar. Suara petikan gitar yang berpadu dengan dentuman suara piano mengiri seorang cewek yang bernyanyi begitu merdunya. Kami saling memandang tanpa ada suara yang keluar dari mulut kami.
Tiba-tiba Fandi berdiri, beranjak dari tempat duduk mendekati para musisi yang berada disudut ruangan. Entah apa yang dikatakan Fandi kepada mereka. Namun tiba-tiba Fandi duduk didepan sambil memegang gitar ditangannya.
" Fandi bisa nyanyi?" kata Vani dengan heran
" Serius.... dia bisa main gitar?" tanya Intan
Dinda tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk tangannya memberi semangat kepada Fandi.
" Lagu ini untuk seseorang yang aku sukai disini." kata Fandi sebelum memulai lagunya.
Petikan demi petikan gitar berbunyi merdu dari tangan Fandi yang terlihat lentur memainkannya.
JATUH HATI dari RAISA
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah aku selalu didekatmu
__ADS_1
Ada ruang hatiku kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun jatuh hati
katanya cinta, memang hanya bentuknya
ku tahu pasti sungguh aku jatuh hati.
Kami hanya diam menikmati lantunan suara yang keluar dari mulut Fandi. Begitu merdu dan hati kami pun tersentuh. Ketika lagu itu berakhir, tiba-tiba aku melihat Maya tersenyum manis kemudian berdiri mendekati Fandi yang masih berada didepan sambil membawa gitarnya.
Langkah demi langkah Maya mendekati Fandi. Kami kaget, tidak tahu apa yang akan dilakukan Maya. Mungkinkah Maya akan mengatakan cintanya kepada Fandi.
Vani berdiri dari tempat duduknya, dia sangat penasaran apa yang akan dilakukan Maya.
Ketika Maya sampai didepan Fandi, semua terdiam. Tidak hanya kami yang penasaran namun seluruh pengunjung dilantai 2 cafe itu sama penasarannya dengan kami.
Maya mengambil mikrofon yang berada didepan Fandi, kemudian mendekatkan kebibirnya.
" Hallo semua namaku Maya. aku akan menjawab lagu yang dinyanyikan olehnya." kata Maya dengan nada bergetar karena gugup
Maya terdiam sejenag kemudian menghela nafas panjang dan mulai berbicara.
" Aku tidak pernah tahu apa yang dinamakan cinta. Aku tidak pernah tahu apa yang membuat kita menjadi suka. Tapi kalau aku berada didekatmu nyaman itu yang dinamakan cinta. maka ya aku Cinta. Kalau dengan ingin melihat senyummu dan kehadiranmu itu dinamakan suka maka ya aku suka." kata Maya.
Fandi terdiam, dia hanya menatap Maya yang berbicara didepannya. Mungkin dia kaget karena tiba-tiba Maya yang pendiam dan pemalu bisa mengatakan semua itu didepan orang sebanyak ini. Tidak hanya teman-temannya saja disini namun banyak orang yang mungkin maya tidak mengenalnya.
" Terima... terima... teriam...." kata- kata dari pengunjung cafe yang berada dilantai 2 bahkan aku melihat dilantai satupun juga melihat keatas karena penasaran apa yang telah terjadi dilantai dua.
Fandi meletakan gitar ditangannya kemudian berdiri didepan Maya lalu memegang tangan Maya.
" Harusnya aku yang bilang seperti itu... maukah kamu menjadi teman berbagiku." kata Fandi
Maya menjawabnya dengan anggukan kepalanya yang pelan sambil menahan tangannya didelan bibir menutupi bibirnya yang tersenyum entah karena bahagia atau karena malu.
...^^^BERSAMBUNG^^^...
__ADS_1