CINTA CEO DINGIN DAN GADIS CUEK

CINTA CEO DINGIN DAN GADIS CUEK
Eps 07 ◕Chapter 007~•


__ADS_3

Pagi telah datang, matahari sudah menampakkan sinarnya. Namun, seorang gadis yang tengah terbaring di ranjang tak kunjung bangun walaupun sinar matahari sudah menerpa wajah. Sinar itu masuk karena horden yang menutupi jendela sudah di buka oleh Sheira.Ya di adalah Alexa.


"Apa dia pacar Alex?" tanya Sheira di dalam benaknya.


"Tapi kenapa Alex tidak pernah bilang" sambungnya.


Emhhh.......


Perlahan mata Lexa mulai terbuka, sinar matahari tersebut ternyata telah menganggu dirinya. Sheira setia di samping Lexa, dia khawatir kalau-kalau dia mencari Alex atau memerlukan sesuatu.


"Apa kau baik-baik saja nak?" tanya Sheira pelan.


Alexa kemudian segera membuka matanya lebar-lebar dan segera bangun namun....


"Akhhhhh" rintih Lexa kesakitan.


Siku dan lutut Lexa rasanya sangat sakit saat digerakkan. Mungkin karena lukanya sudah mengering. Sheira kaget karena Lexa merintih kesakitan.


"Nak apa ada yang sakit?"


"Dimana?"


"Coba sini tante liat" deretan pertanyaan Sheira.


"Tidak, saya tidak apa-apa" jawab Alexa.


"Saya dimana?" sambung Lexa.


"Kamu ada di rumah tante" katanya sambil berusaha meraih tangan Alexa.


Namun Alexa selalu menghindari sentuhan Sheira. Ia masih waspada. Alexa masih menahan rasa sakit itu. Walaupun hanya memar biasa namun cukup luas. Sehingga ketika bagian tubuhnya yang terluka bergerak akan menimbulkan rasa sakit.


"Jangan takut, tante orang baik kok" ucap Sheira tersenyum.


"Apa Alex memperlakukan mu dengan buruk?" tanya Sheira.


"Kenapa kamu ketakukan seperti ini?" sambungnya penasaran.


Alexa hanya menggelengkan kepalanya. Bahkan ia tak tau siapa yang di maksud dengan Sheira. Saat ini ia hanya ingin pulang dan segera memeluk ibunya tersayang. Ia tau bahwa sekarang ibunya pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Saya ingin pulang" ucap Alexa kemudian.


"Tapi nak...." ucapan Sheira terpotong.


"Saya ingin pulang" ucap Alexa lagi sambil sesenggukan.


Sheira kini tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat gadis di hadapannya menangis seperti ini membuat hatinya gelisah. Terlebih lagi ia tak tau pasti apa yang membuatnya menangis. Sheira segera memeluk gadis di hadapannya ini, dan berusaha menenangkan dirinya.


"Nak, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sheira lembut.


"Apa Alex benar-benar memperlakukan mu dengan buruk" sambungnya.


Alexa kembali menggeleng, dan Sheira semakin penasaran kenapa gadis dalam pelukannya ini masih menangis.


"Saya ingin pulang" ucapnya lagi.


"Baiklah dimana rumahmu, biar tante yang antar" jawab Sheira kemudian.


Awalnya Alexa menolak untuk memberitahukan dimana alamatnya, ia bilang ia akan pulang sendiri. Namun Sheira tetap kekeh untuk mengantar nya pulang. Dan pada akhirnya Lexa memberitahukan dimana alamatnya.


Setelah itu Sheira segera bergegas menuju alamat yang di tunjuk Lexa bersamanya. Di dalam perjalanan Alexa hanya diam seribu kata. Ia tak tau harus berkata apa.


"Nak siapa nama kamu?" Tanya Sheira.


"Dari tadi kita berbincang namun tante belum tau nama kamu" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Saya Lexa tante" jawab Alexa.


"Nama yang bagus" puji Sheira.


"Terimakasih tante" jawab Alexa.


Sesampainya di alamat itu Alexa segera turun dari mobil tak lupa ia juga berterimakasih pada Sheira.


"Terimakasih tante sudah mengantar Alexa pulang" ucap Alexa.


"Tidak masalah cantik, maaf ya tante nggak bisa mampir. Tante ada hal mendesak" Jawab Sheira dari dalam mobil.


"Iya tante tidak apa-apa, sekali lagi makasih ya tante" Ucap Alexa.


Sheira hanya tersenyum menanggapi ucapan Alexa. Kemudian ia menyuruh sopirnya untuk berangkat kesuatu tempat. Sebelum mobil bergerak maju Sheira tak lupa melambaikan tangan pada Alexa dan Alexa pun sama.


"Syukurlah aku bertemu dengan orang baik" gumam Alexa yang melangkahkan kaki memasuki halaman rumah milikknya.


"Ma, Lexa pulang" Ucap Alexa saat ia sudah berada di depan pintu.


Ceklekk....


Pintu kemudian terbuka dan menampakkan wajah Wendy yang sangat khawatir. Ia segera memeluk putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.


"Kemana saja kamu nak, mama sangat mengkhawatirkan kamu" Ucap Wendy penuh kekhawatiran.


"Maafin Lexa ya ma, sudah buat mama khawatir" jawab Alexa dalam pelukan Wendy.


Wendy pun melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Alexa. Kemudian mereka berdua segera masuk kedalam rumah. Rumah yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman untuk di tempati. Rapi dan Bersih, barang-barang yang berada disana pas berada di tempatnya. Halaman yang tidak terlalu luas namun sangat tertata rapi dan hijau. Banyak bunga yang menghiasi pekarangan rumah orang tua Alexa.


"Nak dimana motor kamu? kenapa mama tidak mendengar bunyi motor kamu?" tanya Wendy.


"Maaf ma, sepertinya motor Lexa di bawa preman semalam" Ucap Lexa sambil menunduk.


"PREMAN!!?" kaget Wendy dengan perkataan anaknya.


"Lexa janji bakal lebih bekerja keras lagi" sambungnya.


"Iya sayang, tidak apa-apa yang penting kamu tidak kenapa-kenapa" Ucap Wendy.


"Soal harta itu masih bisa kita cari tapi kalau kamu yang kenapa-napa dimana mama akan mencari nya nak" sambung Wendy


Alexa tersenyum mendengar perkataan Wendy, ia tak berniat mengatakan hal yang sebenarnya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya takutnya aku Wendy akan syok.


__________________________________/


"Viona, kamu liat Lexa nggak?" tanya Aiden.


"Enggak, emang kenapa?" jawab Viona.


"Kangen ya..." sambungnya sambil menggoda Aiden.


"Paansihh" ucap Aiden lagi.


"Dihh gitu aja marah" ucap Viona cemberut.


"Sepertinya hari ini Alexa tidak masuk" sambung Viona sambil melirik jam tangannya.


"Ya aku tau" jawab Aiden.


"Kalau tau kenapa nanya Ai" ucap Viona kesal.


"Emang nggak boleh ya" tanya Aiden kembali.


"Tau ahh Ai,aku masih harus membersihkan meja meja ini, pergilah menganggu saja" usir Viona.

__ADS_1


Viona pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena Aiden. Ia sedang membersihakn meja meja yang kotor karena telah di pakai pelanggan. Hari semakin siang dan pelanggan pun semakin ramai.


"Kemana lagi anak itu??" gumam Liana.


"Beraninya hari ini tidak masuk kerja"sambungnya lagi.


Walaupun hanya bergumam namun Clara yang berada di sampingan masih bisa mendengar nya.


"Sudahlah Lian, mungkin saja Lexa ada halangan." Ucap Clara.


"Kenapa kau selalu memarahi Alexa tanpa alasan?" sambung Clara.


"Kenapa? tidak suka?"jawab Liana sedikit kesal.


"Kita bicarakan ini nanti, sekarang masih banyak pelanggan. Nggak enak tau di liatin" Ucap Clara.


"Malu dudul" sambungnya.


Liana pun cemberut dan kesal, tapi ia berusaha menyembunyikan itu dan tetap bersikap sedikit ramah pada pelanggan yang datang....


.


.


********_⚡⚡⚡


KANTOR A.LX CORP **


Alex saat ini tengah di sibukan dengan beberapa berkas. Ia sedang membaca satu persatu setiap kata dan kalimat dalam berkas itu. Setelah dirasa benar ia akan segera membubuhi tanda tangan di berkas-berkas itu. Sesekali ia juga melihat laptop yang berada di hadapannya.


Ceklek....


"Alex" panggil seseorang.


"Mama" Alex menoleh dan mendapati mamanya yang berdiri di depan pintu.


"Ada apa Mama kemari?" Tanya Alex.


"Mama hanya ingin bertanya perihal gadis yang kamu bawa kemarin malam" Ucap Sheira sembari duduk di salah satu kursi depan Alex.


"Ada apa" tanya Alex.


"Alex apa dia kekasih kamu?"


"Tapi kenapa kamu tidak pernah bilang sama Mama?"


"Lalu kenapa tadi pagi dia kesakitan, apa kamu melakukan sesuatu yang menyakitinya?" Rentetan pertanyaan yang di lontarkan Sheira.


Alex semakin pusing dengan pertanyaan sang mama. Ia sudah di pusing kan dengan berkas-berkas ini dan sekarang mamanya malah datang dan menanyakan hal-hal itu.


"Jawab Alex" Ucap Sheira lagi karena Alex hanya diam saja.


"Mama, gadis itu bukanlah kekasih Alex" Jawab Alex.


"Lalu jika bukan kekasihmu, kenapa dia bersamamu kemarin malam Alex?" Ucap Sheira kembali.


Alex pun dengan terpaksa menceritakan kejadian semalam. Ia tidak mau mendengar pertanyaan Sheira yang tidak masuk akal baginya. Ia menceritakan kronologi bagaimana saat Alexa akan di pe*k*s* oleh dua preman.


Setelah mendengar cerita dari Alex, Sheira pun paham kenapa Lexa bersikap takut dan waspada pada dirinya. Ia merasa kasihan pada Alexa. Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa agar dia baik-baik saja. Dan untung saja Alex beserta Vino tepat waktu melintas di jalanan sepi itu kemarin malam. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Alexa waktu itu....


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


~•°Next Chapter°•~


~•°Like,Komen,Fav,Vote/Gift°•~

__ADS_1


_TERIMA KASIH_


__ADS_2