
Anuska merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ternyata cukup besar untuk dirinya. Setidaknya dia juga merasa nyaman berada di atas sofa. Kendati wanita dia tak merasa puas merasakan berada di atas tempat tidur hotel mewah tersebut.
Sementara Harry sudah tertidur pulas sejak perdebatan singkat keduanya berakhir. Ternyata lelah membuat pria bermata perak tersebut dapat menembus dunia mimpi dalam waktu singkat.
Setelah merebahkan tubuhnya di atas sofa, Anuska merasa gerah. Dia tak bisa memaksa matanya untuk terlelap. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Anuska membawa perlengkapan mandinya ke dalam kamar mandi hotel yang berukuran sangat besar dan mewah. Namun, yang pasti tak semewah kamar mandi di rumahnya.
Dia mengisi air ke dalam bathub dan sabun mandi beraroma strawberry. Lalu kemudian memasuki bathub tersebut tanpa sehelai benangpun. Anuska merasa segar dan nyaman. Ternyata seperti ini rasanya mandi di kamar mandi hotel. Meski rasanya tak jauh beda ketika mandi di rumah sendiri. Namun, di hotel Anuska merasakan sensasi yang berbeda. Wanita itu merasa nyaman dan damai. Mendengar desiran angin di luar hotel yang menembus kamar mandi, kicauan burung bersiul ria yang menghinggap di jendela, dan mendengarkan lagu cinta yang berdendang ria dalam kamar mandi tersebut. Sungguh damai rasanya.
Anuska tak merasa ada tekanan yang hebat dalam dadanya. Jika dulu ketika bernafas dia merasa bagai menelan duri, kini duri itu seakan tercabut dengan sendirinya sejak melangkahkan kaki keluar rumah. Kenyamanan yang di tawarkan dunia ternyata sangat indah dan menakjubkan. Dia terpaksa harus melewatkan keindahan itu selama 19 tahun lamanya. Terkurung dalam rumah bagai penjara. Tanpa adanya bantahan dan sanggahan. Dirinya mengikuti tiap keputusan Ayah. Namun, kini dirinya mengambil keputusan sendiri, mengambil langkah sendiri, dan berjalan di haluan yang di buatnya sendiri pula. Kendati setelah perjalanan nya berakhir, ia akan kembali di hadapkan dengan situasi seperti sedia kala. Namun, wanita berdarah cantik tersebut tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang bernama, dunia.
Puas membersihkan diri, Anuska pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju kaos berwarna putih dan celana sebatas lutut. Dirinya tampak segar sekali.
Anuska melihat Harry yang masih tertidur pulas. Dia melirik jam dinding yang tergantung tepat di atas tempat tidur. Ternyata waktu masih menunjukan pukul 15.00.
Anuska kembali merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa. Kali ini wanita itu merasa lebih rileks. Dia kembali mengajak matanya untuk tidur. Namun, kali ini perut Anuska memprotes ingin di beri nutrisi. Akhirnya Anuska memesan makanan lewat telpon hotel.
Sepuluh menit kemudian, pesanan Anuska pun datang. Dia memesan Gulas, Smazeny syr, kulajda, Svickova, dan jus melon, serta greentea. Semua menu makanan tersebut adalah kuliner khas kota Praha.
Anuska mulai memakan Smazeny syr terlebih dahulu. Dia menikmati makanan yang di suguhkan oleh pihak hotel. Makanan yang sungguh menggugah selera itu membuat lidah Anuska semakin penasaran untuk merasakan menu makanan lainnya yang telah di pesan.
Puas menyantap Smazeny syr, Anuska beralih ke Gulas. Makanan yang terbuat dari daging sapi dan sayuran itu, serta tambahan saus yang sangat banyak, membuat Anuska semakin lahap memakan nya. Namun, di tengah-tengah asiknya menikmati makanan, tiba-tiba saja Harry bangun dari tidurnya dan ikut bergabung bersama wanita tersebut. Harry mengambil kulajda untuk di makannya.
__ADS_1
"Hei, mengapa kamu mengambil makanan ku,?" protes Anuska.
"Ini terlalu banyak untuk kamu makan. Aku tidak yakin kamu bisa menghabiskannya Nona," balas Harry sembari memakan kulajda dengan lahap.
"Tapi itu milikku," ucap Anuska.
"Ayolah Nona, aku juga lapar. Bisakah kita tidak berdebat ketika makan? aku sudah menjagamu selama seminggu ini, dan memastikan kamu baik-baik saja. Setidaknya biarkan aku makan," terang Harry. Dan Anuska pun merasa iba pada Harry yang menjaganya selama melakukan touring.
"Baiklah, kamu boleh makan yang itu. Tapi yang ini milikku," tutur Anuska seraya menunjuk makanan yang bernama Svickova. Harry menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Anuska.
Keduanya pun makan dengan lahap dan habis tak tersisa. Sejujurnya sedari tadi Harry merasa lapar. Namun, rasa lelah telah memenuhi tubuh dan matanya. Sehingga memaksa dirinya untuk tidur dengan perut kosong. Di tengah asiknya menikmati dunia mimpi, Harry mencium aroma makanan yang begitu menggugah selera. Akhirnya dia memaksa tubuhnya yang masih lelah untuk beranjak dari tempat tidur dan ikut menyantap makanan pesanan Anuska tadi.
"Ah, sungguh nikmat. Akhirnya kenyang juga," ujar Harry seraya menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Berterimakasih lah padaku karena sudah memberimu makan," tutur Anuska dengan nada mengejek.
"Hahaha, kamu lucu sekali." Anuska memegang perutnya sembari tertawa ria. Dia seakan tak memiliki beban sama sekali. Tawa lepas itu tak pernah di keluarkan oleh nya. Hingga Harry merasa terpesona melihat wajah polos Anuska. Matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, semuanya tak luput dari pandangan Harry. Ingin rasanya dia mengecup bibir tipis Anuska. Oh astaga, ayolah Harry, dia adalah seorang anak kecil yang di bawah umur. Apakah kamu ingin menjadi pedofil.?
Harry mengutuk dirinya sendiri. Berpikir mesum membuat otaknya bergeser dua sentimeter.
Anuska menghentikan tawanya. Dia menjadi salah tingkah karena Harry tak bergeming sama sekali. Pria itu terus menatap dirinya tanpa berkedip. Akhirnya Anuska berdehem untuk menetralkan perasaan nya yang mulai merasa canggung.
"Ehem, maafkan aku," ucap Anuska.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu terlihat cantik ketika tertawa," ucap Harry tanpa sengaja.
"Ha.?"
"Ah, maksudku kamu terlihat sangat bahagia," ralat Harry. Pria itu menjadi salah tingkah dengan ucapannya sendiri. Bagaimana bisa dia memuji wanita yang sangat menyebalkan itu dalam waktu singkat hanya sebuah tawa.? pikir Harry.
"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Aku bahkan tak pernah tertawa lepas seperti tadi. Tawaku seakan mengering selayaknya dedaunan tua. Tak berbentuk," lirih Anuska. Mendengar nada suara Anuska yang begitu menyentuh hatinya, Harry pun menjadi tertarik untuk mengenal lebih dekat lagi dengan sosok wanita yang selama seminggu ini di ikutinya.
"Benarkah? apa yang terjadi,?" tanya Harry penasaran.
"Aku tidak pernah di izinkan untuk keluar rumah atau mengenal dunia oleh Ayah dan Ibu. Bahkan aku tidak memiliki teman sama sekali," ujar Anuska seraya menatap wajah Harry.
"Mengapa?"
"Karena Ayah takut akan kekejaman dunia luar, begitu juga dengan Ibu."
Harry menatap lekat-lekat manik mata coklat Anuska, dia bisa melihat seberapa polosnya wanita tersebut. Dia bukanlah tipe wanita yang mudah berbohong. Wanita itu seolah menyimpan sejuta duka di dalam dirinya. Namun, dia tak memiliki tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Anuska adalah wanita yang tulus. Dia memiliki sejuta pesona di balik wajahnya yang polos.
Kepolosan itu tampak sangat natural. Dia berbeda dari gadis lainnya yang mengejar dunia. Sementara Anuska, dia hanya ingin mengenal dunia untuk di jadikan sebagai bahan edukasi diri ketika dewasa nanti. Dia hanya ingin memetik pelajaran dari mengenal dunia luar, bukan ingin ikut terjerumus dalam lembah hitamnya dunia fana ini.
Anuska adalah sosok wanita yang luar biasa. Dia memiliki bakat dan prestasi yang menakjubkan. Hanya saja keterbatasan yang di berikan oleh kedua orang tuanya, membuat wanita cantik itu terlihat sangat kaku.
"Maukah kamu menjadi temanku,?" tanya Harry akhirnya. Pria itu menawarkan sebuah pertemanan pada Anuska. Dia bisa melihat seberapa kesepiannya wanita itu. Sampai matanya pun tak bisa berbohong.
__ADS_1
Akankah Anuska menerima permintaan pertemanan yang di tawarkan Harry? akankah keduanya bisa menjadi teman? ataukah justru lebih dari sekedar teman? saksikan terus kisah selanjutnya ya readers.
To be continued.