
Di tempat yang berbeda. Dalam sebuah kamar bernuansa abu-abu yang di temani lampu LED. Suasan kamar tersebut teduh dan hangat. Pria itu mengerjab matanya efek terkena sinar matahari yang mulai muncul menyinari bumi dan masuk lewat sela-sela jendela kamarnya.
Mata perak nan berbulu lentik itu, sayu karena baru saja bangun dari tidur panjangnya. Dia merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Harry, apa kamu sangat menikmati pesta semalam hingga kamu bangun sesiang ini?" tanya Mama yang tiba-tiba masuk dalam kamar Harry. Ya, pria tersebut adalah Harry Davidson. Pria bermata perak dan bertubuh tinggi itu baru saja bangun dari tidurnya setelah pukul 12.00 siang dan melewatkan sarapan pagi bersama keluarga.
"Kenapa mama harus berteriak? apakah tadi pagi mama sarapan pengeras suara?" goda Harry di sela-sela merenggangkan otot-ototnya yang kekar.
Mama melempar bantal pada Harry seraya berkata.
"Apa kamu masih punya kesempatan untuk bercanda?"
"Dan apakah Mama masih punya tenaga untuk marah?" balas Harry santai.
"Harry!"
"I love you Mom." Ucapan hangat Harry meluluhkan hati wanita paruh baya yang masih tampak cantik meski tak lagi muda itu. Hatinya terasa teduh dan damai ketika mendengarkan kalimat sederhana putranya sendiri.
"I love you to sayang," balas Mama tak kalah hangatnya. Harry memeluk tubuh Mama yang masih ramping dan mengecup puncak kepala wanita paruh baya tersebut.
"Aku sayang sama Mama. Mama adalah wanitaku," ujar Harry seraya tersenyum.
"Kalau begitu turuti keinginan Mama untuk menggantikan posisi Papa kamu, Nak," pinta Mama. Wanita itu berusaha untuk membujuk Harry mengikuti jejak suaminya yang menjadi kapten kapal.
__ADS_1
"Apakah ini benar-benar keinginan Mama atau hanya sekedar menjalani kewajiban saja?" tanya Harry penuh selidik. Mama menjadi canggung.
"Apa maksudmu?" tanya Mama seraya membuang wajahnya ke sembarang arah. Wanita paruh baya itu tak berani menatap mata putranya yang berusaha untuk mencari kebenaran di dalam sana. Harry tersenyum kecut.
"Bahkan Mama tidak berani menatap mata Harry," lirih Harry. Mama menoleh pada Harry.
"Sayang, turuti lah keinginan Papa kamu atau keinginan Kakek. Setidaknya jadilah seseorang yang bertanggung jawab," tutur Mama.
"Mama, Harry tidak suka di paksa. Kalau Harry ingin menunjukkan tanggung jawab terhadap keluarga ini, biarkan Harry melakukan dengan cara Harry sendiri," terang Harry berusaha untuk menjelaskan kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Tapi Nak, mau sampai kapan kamu seperti ini terus? usia kamu sudah tak lagi muda, Nak. Setidaknya kamu harus menikah," jawab Mama penuh harap membuat Harry terkejut.
"Oh, jadi ini tentang pernikahan?" tanya Harry penuh selidik.
"Mama, berbicara masalah pernikahan itu bukanlah perkara yang muda. Harry tidak ingin menunjukkan rasa tanggung jawab Harry lewat pernikahan bodoh itu. Jika Harry ingin bekerja, maka Harry akan melakukan sesuai dengan keinginan Harry sendiri," tandas Harry. Namun, masih dengan kelembutan.
"Pekerjaan yang mana yang kamu maksud? apakah dengan menjadi pemandu wisata kamu akan menjadi seseorang yang sukses? atau dengan mengikuti teman-teman kamu menjadi seorang pembalap liar di jalan.?" Suara Mama mulai meninggi. Kali ini emosinya tak terkendali dan meluap begitu saja tanpa permisi. Sementara Harry diam tak bergeming.
"Ayolah Harry, mau sampai kapan kamu akan seperti ini, Nak? setidaknya bekerjalah di rumah sakit Kakek atau ikuti Papa kamu berlayar," ucap Mama penuh harap. Suara Mama pun mulai melunak.
"Dan Mama akan sendirian di rumah ini," tutur Harry, dan sukses membuat hati Mama tercubit.
"Harry tetap dengan pendirian Harry yang ingin menjadi pemandu wisata. Harry sudah membuat keputusan," tegas Harry. Namun, masih dengan kesopanan.
__ADS_1
"Kalau begitu dengarkan keputusan Mama juga. Kamu akan mengikuti jejak Papa kamu apapun yang terjadi, titik." Finish, keputusan sudah Mama ambil. Wanita paruh baya itu ingin meninggalkan Harry dalam kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika kalimat Harry begitu mengaduk jiwanya.
"Lalu Mama akan sendirian di dalam rumah ini tanpa seseorang yang mendengarkan keluh kesah Mama," tandas Harry, dan sukses menghentikan langkah wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Lalu apa bedanya dengan keputusan mu yang ingin menjadi pemandu wisata? bukankah itu sama saja dengan meninggalkan Mama sendirian di rumah ini?" pertanyaan Mama sukses membungkam Harry. Pria itu tak bisa menjawab lagi. Dia hanya menatap punggung Mama hingga hilang dari balik pintu. Harry tersenyum kecut.
"Mama hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Harry tahu, Ma. Jauh di lubuk hati Mama yang paling dalam, Mama tidak ingin Harry kemanapun."
Ya, sejujurnya Mama tidak menginginkan Harry mengikuti jejak Papanya. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu semua, tetapi dia tak bisa membantah keinginan dari suaminya. Pria paruh baya itu menyimpan harapan lebih pada putra satu-satunya tersebut. Menjadi kapten kapal menggantikan posisinya yang tak lagi muda.
Sementara Mama memiliki keinginan lain, yakni Harry menjadi seorang pebisnis atau menjadi direktur di rumah sakit Kakeknya. Harry adalah pria alumni kedokteran di salah satu Universitas ternama di negaranya. Namun, profesinya itu tak di jalankan sama sekali. Dia memilih untuk menjadi pemandu wisata, tetapi masih terbentur restu dari kedua orang tuanya. Untuk sementara Harry menjadi pembalap liar di jalanan.
Harry menjadi pembalap liar hanya untuk sekedar mengusir kejenuhan. Meski dia berwatak keras, tetapi pria bermata perak tersebut sangat menginginkan restu dari kedua orang tuanya.
Harry bukanlah putra tak berperasaan yang sengaja mengabaikan keputusan kedua orang tuanya, tetapi keinginan untuk mencari jati diri yang sebenarnya sangatlah kuat, yakni dengan menjadi seorang pemandu wisata. Entah apa yang menarik dengan menjadi seorang pemandu wisata. Namun, profesi itu membuat Harry tertantang untuk mengenal dunia lebih jauh lagi. Kendati di usia yang tak lagi muda, dia masih belum menemukan jati diri yang sebenarnya.
Dengan menjadi seorang pemandu wisata, Harry akan lebih menghargai hidup. Harry akan bertemu dengan orang lain dari berbagai negara dan bertukar cerita. Entah itu cerita pilu ataupun bahagia. Pasti akan ada hikmah yang di petik dari setiap cerita orang yang di temuinya dari berbagai negara.
Dengan menjadi pemandu wisata, Harry akan belajar tentang pentingnya menjadi seseorang yang berarti bagi keluarga. Dia akan belajar banyak tentang nilai kehidupan. Entah ilmu itu akan di dapat di jalan, ataupun dari seseorang yang tak di kenalnya sama sekali.
**
Sementara di tempat yang berbeda. Seorang wanita menagis pilu dalam sudut ruangan berharap keajaiban akan datang menggantikan hari-harinya yang tak berwarna. Anuska Holcher. Ya, wanita itu adalah Anushka Holcher. Dia masih meratapi nasibnya yang tak pernah berubah. Takdirnya telah di ukir di atas tangannya oleh kedua orang tuanya. Takdir itu sangat berdiri kokoh hingga wanita berambut madu tersebut tak bisa menerobos dinding tersebut. Dinding yang sengaja di di buat oleh kedua orang tuanya, hingga dia tak sanggup melangkah kedepan. Dirinya tejebak dalam ikatan takdir yang memilukan. Dia menjadi sosok yang terasingkan dari penjuru dunia.
__ADS_1