
Di sebuah rumah mewah berlantai empat. Ada seorang gadis cantik sedang mengerjakan tugas yang di berikan oleh gurunya. Gadis tersebut sedang melaksanakan kegiatan home schooling. Gadis cantik itu bernama Anuska Holcher. Anuska merupakan gadis yang sangat cerdas dan kreatif. Hanya saja dia berbeda dari gadis lainnya.
Keterbatasan pengetahuan mengenai dunia luar membuat Anuska ketinggalan banyak hal. Dia tidak tahu sama sekali mengenai perkembangan zaman.
Anuska tidak memiliki sahabat sama sekali, itulah sebabnya dia selalu menyendiri. Kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan urusan bisnis, membuat Anuska semakin terkucilkan. Kendati demikian, Anuska tidak pernah merasa kecewa terhadap kedua orang tuanya. Hanya saja rasa jenuh kerap kali menghampiri gadis cantik tersebut.
**
lima tahun pun berlalu, kini Anuska berusia 19 Tahun. Bahkan untuk kuliah, dia harus menjalaninya di rumah pula. Semua kehidupan Anuska telah di tentukan oleh kedua orang tuanya. Tak ada bantahan, tak ada sanggahan, dan tak ada balasan. Anuska hanya diam menerima.
"Anuska, dosen kamu sudah datang sayang," ucap Ibu Anuska yang bernama Rima Holcher.
"Baiklah." Jawaban singkat Anuska membuat hati wanita paruh baya itu sedikit tercubit. Untuk pertama kalinya hati Ibu bergeming ketika melihat dan mendengar sikap pasrah dari putri semata wayangnya itu.
Ibu mendekati Anuska dan mengelus lembut rambut putrinya tersebut. Dia tersenyum tipis, lalu kemudian memegang tangan Anuska.
"Anuska, selama belasan tahun kamu menjalani hidup dengan baik dan tak pernah membantah kami. Apakah kami terlalu keras padamu, Nak?" tanya Ibu. Anuska hanya tersenyum kecut.
"Bukankah hidup aku ada di tangan Ibu dan Ayah? lalu aku bisa apa? sejak dulu memang seperti ini, dan akan terus seperti ini," jawab Anuska dengan suara lirih.
"Maafkan ibu sayang, kamu tidak tahu seberapa jahatnya dunia di luar sana. Kamu akan tersakiti jika mengenal dunia luar, dan ibu tidak mau itu terjadi," lirih wanita paruh baya tersebut.
"Bukankah aku tidak mengatakan apa-apa sejak tadi? lalu mengapa Ibu harus repot menjelaskan seberapa kejamnya dunia luar?" pertanyaan Anuska sukses membuat hati Ibu semakin berdesir. Kalimat itu bagai tamparan keras untuknya. Untuk pertama kalinya putri semata wayangnya itu berkata lebih dari yang di bayangkan.
"Sayang, apakah kamu kecewa kepada Ibu?" tanya Ibu dengan suara lirih. Wajah wanita paruh baya tersebut berubah semakin sendu. Sejujurnya dia merasa iba pada Anuska, tetapi rasa takut akan sesuatu hal yang buruk lebih mendominasi rasa iba nya.
__ADS_1
"Ibu, kita tidak perlu membahas ini. Aku sudah menerima takdir yang Ibu dan Ayah garis kan sejak kecil." Anuska mengakhiri kalimatnya dengan membenahi buku yang sedikit tercecer di atas meja.
"Baiklah, Nak. Ibu pergi dulu, sebentar lagi dosen mu akan tiba," pamit Ibu. Lalu kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Anuska dalam kamarnya.
"Ibu tidak pernah tahu seberapa besar luka yang ada di dalam sini." Anuska menyentuh dadanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Cairan bening itu sudah tertampung di pelupuk matanya yang sayu, dan siap tumpah kapan saja.
"Ibu bahkan tidak bisa membalut luka putri ibu sendiri. Aku sakit, Bu. Aku sekarat. Hiks... Hiks... Hiks...." Tangis Anuska pun pecah. Air mata itu turun bagai tak bertepi. Tubuhnya terkulai lemah dan jatuh ke lantai.
"Ada luka yang menganga disini, Bu. Tidakkah ibu bisa merasakan itu? jika aku tidak di beri kesempatan untuk mengenal dunia luar, maka setidaknya beri aku alasan yang masuk akal, mengapa aku tidak boleh mengenal siapapun selain Ibu dan Ayah?"
Kali ini Anuska tak sanggup lagi menahan tangisnya. Perasaan yang sudah lama terpendam, kini mulai muncul di permukaan. Hatinya hancur dan sakit. Sakit bukan kepada kekasih, tetapi pada kedua orang tuanya sendiri. Kekasih? bahkan dia tidak pernah melihat lawan jenisnya selain Ayah.
**
Kini Anuska duduk di tepi jendela kamarnya. Dia melihat pemandangan samping kamarnya yang di tumbuhi bunga berwarna warni. Bunga-bunga itulah yang menjadi sahabat sejatinya sejak dulu. Anuska mengajak cerita bunga-bunga tersebut seolah mahluk hidup ciptaan Tuhan yang tak bersuara itu mampu meneduhkan hatinya.
Banyak kupu-kupu berterbangan menghinggap di pucuk bunga tersebut. Menambah kesan keindahan dan keteduhan untuk gadis remaja bernama Anuska.
"Anuska, waktunya makan siang." Ucapan Ibu membuyarkan lamunan wanita berambut panjang tersebut. Dia menyeka air matanya yang sempat lolos tanpa permisi.
"Iya Bu, Aku akan segera turun," jawab Anuska seraya beranjak dari jendela yang menjadi pijakannya tiap kali merasa gundah.
Lima belas menit kemudian, Anuska turun ke lantai bawah untuk makan siang bersama. Di ruangan yang sangat besar itu terdapat Ibu, Ayah, Nenek, dan Kakek Anuska. Keempat nya duduk diam seraya menunggu kedatangan Anuska untuk melengkapi khidmatnya makan siang mereka.
Anuska duduk di sisi Ibunya. Sedangkan di depan Anuska adalah sang Nenek. Kelimanya makan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya suara sendok makan yang saling bersahutan menemani khidmatnya makan siang tersebut.
__ADS_1
Puas menyantap makan siang, Anuska kembali ke kamarnya. Sedangkan kedua orang tuanya duduk bercengkrama di ruang keluarga bersama Kakek dan Nenek.
"Apakah kalian sudah menetapkan tanggal pernikahan Anuska?" tanya Kakek di sela-sela keberasamaan mereka.
"Kami masih membutuhkan waktu, Pa. Anuska juga masih kuliah. Nanti setelah lulus baru dia akan menikah," jawab Ayah Anuska.
"Tapi kalau kamu membiarkan masalah ini terlalu lama, putrimu akan menjadi perawan tua sampai akhir hayatnya. Dan satu lagi, Papa ingin melihat cucu satu-satunya Papa duduk di pelaminan bersama suaminya," balas Kakek tegas. Pria tua renta itu menginginkan cucu semata wayangnya menikah sebelum usianya genap 20 tahun.
"Papa, aku sudah terlalu sering menekan Anuska. Biarkan dia menjalani hari-harinya sebelum pertunangan itu di laksanakan. Aku sudah menemukan jodoh yang pantas untuk dia," jawab Ayah Anuska mantap. Pria paruh baya yang masih tampak gagah meski tak lagi muda itu ternyata sudah menemukan sosok pendamping untuk putri semata wayangnya.
"Siapa?" tanya Ibu penuh selidik.
"Kalian akan mengenalnya jika nanti waktunya tiba."
Dua pasang suami istri beda generasi itu pun diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tanpa mereka sadari, bahwa ada seseorang yang memendam rasa sakit dan kecewa di dalam sana. Bahkan tak jarang air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus, yakni Anuska.
Air mata itu selalu setia menemani hari-harinya selama ini. Namun, Anuska tak pernah menunjukkan sisi terlemahnya itu pada seluruh anggota keluarga. Dia memendam sendiri semua deritanya, kecewanya, lukanya, dan sakit hatinya.
Anuska menyeka air mata yang mulai lolos lagi. Entah mengapa beberapa hari ini gadis remaja berusia 19 Tahun itu menjadi emosional. Terkadang tangisan itu berlangsung hingga tengah malam. Bahkan dia harus menangis di sudut ruangan sambil menggigit selimutnya agar tak ada yang tahu jika dirinya sedang menangis pilu.
"Bu, setidaknya jadilah teman ku. Jadilah tempat pelipur lara ku, Bu. Jadilah tempatku untuk bersandar dan mencurahkan segala keluh kesahku. Jadilah dinding untuk menopang tubuhku yang lemah, Bu." Anuska masih terus menangis pilu di sudut ruangan. Tatapannya kosong.
"Ayah, setidaknya jadilah panutan ku agar aku bisa kuat menerimanya kenyataan. Jadilah cinta pertama ku agar aku mengenal apa itu kasih sayang yang sering Ayah dan Ibu ucapkan padaku."
Ya, Anuska hanya butuh teman untuk menjadi tempat sandarannya ketika hati menemukan titik kejenuhan. Maka hati itu akan kembali ke tempatnya semula. Anuska hanya butuh penjelasan mengenai kasih sayang di tengah gencarnya kalimat itu terlontar bagai tak berujung dari bibir kedua orang tuanya.
__ADS_1