
Tawaran pertemanan yang berikan Harry, membuat Anuska terdiam. Dia tak serta-merta menerima tawaran tersebut. Terlalu dini jika ia menerimanya. Bahkan mereka baru terhitung dua jam saling menyadari keberadaan masing-masing. Mungkin Anuska sudah mengetahui nama pria tersebut, tetapi Harry? apakah dia sudah mengetahui namanya? bahkan mereka tak pernah saling berkenalan.
Melihat uluran tangan yang di berikan Harry, tak membuat dirinya bergeming. Dia masih belum yakin dengan ajakan tersebut. Namun, jika melihat ketulusan yang terdapat di mata Harry, membuat Anuska tahu, bahwa pria tersebut tulus padanya. Jika lidah bisa berbohong, maka tidak dengan mata. Mata akan memancarkan segala kesungguhan yang terjadi di sekitar kita, atau pada diri kita sekalipun. Seperti saat ini misalnya. Akhirnya Anuska menerima permintaan pertemanan Harry. Karena Anuska bisa melihat ketulusan pria tersebut. Keduanya saling berjabat tangan sembari melempar senyuman.
"Berteman," ucap Harry dan Anuska secara bersamaan. Sekali lagi keduanya tersenyum hangat.
"Oh iya, apakah aku tidak pantas mengetahui nama dari teman baru ku ini,?" tanya Harry dengan nada suara yang di buat-buat.
"Anuska Holcher," tutur Anuska sembari menatap mata Harry.
"Harry Davidson," balas pria tersebut.
"Jadi, apa yang membuatmu ingin mengenal dunia seperti yang kamu katakan tadi,?" tanya Harry penasaran. Dia seakan ingin mengenal lebih jauh lagi sosok Anuska.
"Apakah kita memulai pertemanan ini dengan cara menyelediki ku,?" jawab Anuska dengan sebuah pertanyaan pula. Harry tersenyum dengan jawaban Anuska.
"Bukan maksud ku ingin menyelidiki mu, aku hanya penasaran saja. Mengapa gadis seperti mu terkurung dalam rumah dan tak di izinkan keluar? tentu saja ada alasan di balik itu bukan,?" tanya Harry datar.
"Tentu ada, hanya saja baik Ayah maupun Ibu, mereka tak pernah memberitahu alasan di balik larangan itu," jawab Anuska.
"Berapa usia mu sekarang Anuska? maaf, aku hanya ingin tahu saja. Selama beberapa jam terakhir ini, kamu selalu menyebut dirimu anak kecil dan di bawah umur," terang Harry penasaran.
"Menurutmu berapa?"
"Haruskah kita bermain teka-teki sekarang,?" tanya Harry penuh penekanan. Pria itu tampak tak sabar untuk mengetahui usia Anuska.
"Haha, aku rasa kamu harus melatih kesabaran mu Harry," ucap Anuska dengan senyum mengejek.
"Baiklah, ajari aku tentang kesabaran anak kecil," goda Harry. Pria itu tampak ingin mencairkan suasana. Anuska kembali tertawa sumbang.
"Haha, apa kau tahu Harry? ini adalah momen dimana aku menantikan nya." Pernyataan Anuska membuat kening Harry berkerut hampir menyatu. Dia tak memahami maksud dari ucapan Anuska.
"Dulu aku ingin melepas tawaku dengan seseorang yang spesial dan berharga. Aku ingin bercerita hal-hal kecil sekalipun dengan dirinya. Berbagi dalam segala hal." Anuska bercerita sembari menatap kosong kedepan. Dia seolah membayangkan masa lalunya. Sementara Harry masih terus menyaksikan cerita wanita tersebut sampai akhir.
"Usiaku sekarang 19 tahun, aku melewatkan banyak hal selama ini. Tanpa aku sadari, usiaku semakin bertambah tiap harinya. Aku bahkan tidak memiliki siapapun untuk berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan. Aku tidak tahu apa itu rindu, kehilangan, sahabat, dan--"
__ADS_1
"Cinta,?" timpal Harry. Pria tersebut memotong ucapan Anuska dengan menyebut kata yang menurut Anuska sangat asing. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci, tak ada yang saling membuka suara untuk beberapa detik lamanya.
"Aku tidak tahu apa itu cinta, aku hanya sering mendengar Ayah mengucapkan setiap hari kepada Ibu," lirih Anuska.
"Lalu denganmu? apa kamu tidak mengetahui arti dari cinta,?" tanya Harry dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.
"Aku rasa tidak, bahkan aku tidak tahu dimana letak cinta. Apakah di rumah, gunung, benua, manusia, atau--"
"Disini," timpal Harry seraya memegang dada Anuska seolah itu adalah hati wanita tersebut. Anuska menjadi terdiam seribu bahasa. Ada getaran hebat di dalam sana yang mulai berdenyut. Jantung wanita itu mulai berdegup kencang. Perasaan aneh mulai di rasanya. Entah apa namanya itu, tetapi dia merasa ada sesuatu yang berbeda kali ini. Benarkah cinta itu letaknya ada dalam diri Anuska? benarkah cinta itu ada dalam hatinya? pikir Anuska.
"Cinta itu letaknya disini." Harry masih terus memegang dada Anuska seraya menjelaskan apa itu cinta.
"Kamu akan memahami apa itu cinta, jika jantung mu berdegup kencang ketika berada di dekat seseorang yang mungkin kamu tidak pernah bertemu dengan nya selama ini. Cinta itu tentang bagaimana kamu menggapai mimpi bersama, menjalankan visi dan misi bersama. Meski memiliki prinsip yang berbeda, tetapi cinta itu tak pernah memaksakan kehendak. Cinta itu bagaimana tentang seseorang mampu menahan ego untuk mempertahankan sebuah hubungan. Cinta itu sangatlah indah jika kamu mampu memahami pasangan mu kelak nanti," terang Harry, dan sukses membuat Anuska terpukau. Wanita itu seakan memahami tiap bait kalimat Harry. Pengertian tentang cinta ternyata tak sesederhana yang di bayangkan. Butuh pengorbanan untuk saling melengkapi, dan harus saling menurunkan ego agar hubungan cinta itu tetap berjalan di jalur yang semestinya.
"Jika kamu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hatimu, maka itu cinta. Jika hatimu terasa dihujam sesuatu yang istimewa, maka itu cinta. Jika jantung mu tak berhenti berdegup kencang ketika berada di sisinya, maka itu cinta. Jika pandangan mu selalu tertuju padanya, maka itu cinta. Cinta merupakan kata yang sarat akan makna. Dia tak kasat mata, tetapi mampu menyentuh damainya hati. Apa kamu paham.?" Penjelasan Harry mengenai cinta, membuat Anuska merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya mengenai Harry. Benarkah pria itu sangat istimewa di hatinya? ah, tidak mungkin. Ini pasti hanya ilusi saja. Batin Anuska.
"Ternyata usiamu tak sekecil ucapan mu, kamu terlalu cantik untuk di katakan anak kecil," lanjut Harry kemudian, dan sukses membuat Anuska semakin bungkam seribu bahasa. Sedari tadi wanita cantik tersebut diam tak bergeming. Dia benar-benar meresapi defenisi cinta.
"Ah, aku rasa kita sudah terlalu banyak membahas tentang diriku. Bagaimana denganmu? seperti keluarga misalnya, atau sahabat." Anuska tampak mengalihkan pembicaraan tentang dirinya. Dia tidak ingin terjebak dengan perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya saat ini.
"Tidak ada yang spesial dari diriku, lalu apa yang mau di bahas,?" balas Harry datar.
"Pacar,?" tanya Harry penuh selidik.
"Iya, mungkin itu namanya," jawab Anuska polos, dan sukses membuat Harry terkejut. Benarkah wanita ini tidak tahu status apa yang di sandang seseorang jika terikat dalam suatu hubungan sebelum pernikahan? pikir Harry.
"Bagaimana ceritanya sampai kamu memiliki tunangan jika kamu tidak tahu apa itu pacar,?" tanya Harry masih dengan raut wajah tak percaya nya.
"Di jodohkan," jawab Anuska santai.
"Ha? di jodohkan? apakah di negara kita masih berlaku perjodohan.?" Harry di buat bingung dan tak percaya dengan situasi yang di lalui Anuska selama hidupnya. Apakah setegang itu kehidupan Anuska? batin Harry.
"Tentu saja, buktinya aku di jodohkan."
"Dan kamu terima begitu saja.?"
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku menyetujui pertunangan itu agar aku bisa berkeliling dunia. Ya..., anggap saja aku bertukar syarat dengan Ayah ku."
"Oh, aku paham sekarang. Kamu mau menerima pertunangan itu karena kamu ingin menghabiskan masa muda mu sebelum menikah, benar,?" tanya Harry penuh selidik.
"Tepat sekali," jawab Anuska mantap.
"Lalu bagaimana jika dalam perjalanan ini kamu menemukan cinta sejati mu? apakah kamu tidak akan berjuang untuknya.?" Pertanyaan Harry sukses membuat Anuska bungkam. Dia tidak memiliki jawaban sama sekali.
"Aku rasa tidak, lagi pula dimana aku harus menemukan cinta itu.?"
"Disini." Harry meraih tangan Anuska, lalu kemudian meletakkan tangan itu di dadanya. Harry menatap lekat-lekat mata Anuska, hingga tatapan keduanya pun terkunci.
Jantung Anuska mulai berdegup kencang, desiran aneh itu mulai terasa lagi. Harry mendekati Anuska, wajah keduanya hampir bertemu, hingga jarak yang ada hanya tersisa satu senti saja.
Anuska menundukkan pandangan nya, situasinya menjadi canggung. Sementara Harry masih terus menatap Anuska. Dia mengangkat dagu wanita tersebut. Harry menatap lekat-lekat manik mata coklat Anuska, lalu kemudian beralih ke bibir wanita tersebut. Bibir itu sangat tipis dan manis. Harry menjadi terpancing dan terbawa suasana.
Sementara jantung Anuska tak berhenti berdegup kencang. Organ tubuh itu seakan bekerja keras semenjak tangannya menyentuh dada bidang Harry.
"Apakah jantungmu berdegup kencang,?" bisik Harry sensual. Anuska mengangguk kan kepalanya.
"Apakah kamu merasakan sesuatu yang berbeda,?" bisik Harry selanjutnya, dan Anuska pun masih mengangguk kan kepalanya mengiyakan pertanyaan pria tersebut.
"Itulah cinta," ucap Harry mantap, dan sukses mengembalikan kesadaran Anuska 100%.
Wanita itu menunduk kan kepalanya, dia benar-benar malu pada Harry. Dia seakan sedang kedapatan mencuri. Harry pun menarik sudut bibirnya membentuk senyuman disana, senyuman yang tak di sadari oleh Anuska.
"Itu artinya kamu telah jatuh cinta padaku."
Deg,
Kalimat Harry sontak membuat Anuska terkejut. Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Harry. Benarkah dia jatuh cinta pada Harry? benarkah rasa itu bernama cinta? tidak mungkin.
"Hahahaha, aku hanya bercanda. Mengapa wajahmu sangat tegang begitu? haha." Tawa Harry pecah dan memenuhi ruangan tersebut. Anuska menjadi salah tingkah. Dia seakan terjebak oleh permainan Harry.
Cinta begitu aneh, dia datang tanpa permisi. Dia seolah melulu lantahkan pertahanan manusia. Terkadang cinta itu datang tak terduga. Menyentuh hati seseorang yang kalut, membangkitkan semangat yang rapuh. Cinta itu rasanya sangat manis, mampu menyejukkan hati dan jiwa. Menyegarkan perasaan hingga menembus pori-pori.
__ADS_1
Cinta itu sungguh aneh, seaneh perasaan Anuska pada Harry saat ini. Perasaan itu seolah menuntun dirinya berjalan ke arah Harry. Jika memang benar itu cinta, maka Anuska akan memberi nama, Cinta Dalam Perjalanan.
To be continued.