
Mentari di pagi hari masih malu-malu untuk menampakan sinarnya. Sementara sebagian orang telah mengerjakan aktivitas nya. Sedangkan di sudut ruangan seseorang sedang duduk terdiam tanpa kata. Entah apa yang di pikirkan oleh wanita tersebut. Tatapannya kosong, dia hanya memeluk lututnya sembari menopang dagu.
Air mata itu mengalir deras untuk yang kesekian kalinya. Entah mengapa kali ini wanita itu merasa jiwanya benar-benar terkurung. Dia hanya bisa berjalan ke arah yang sama. Arah itu seolah tahu betul kemana tempatnya kembali.
"Anuska, apakah kamu di dalam sayang? Ibu masuk ya.?" Suara Ibu membuyarkan lamunan Anuska. Ya, wanita itu adalah Anuska. Dia masih setia dengan pikiran gundah yang akhir-akhir mencuri senyumannya.
Anuska menyeka air matanya. Beruntung pintu masih terkunci rapat. Jadi Ibu tak akan melihat dirinya yang berantakan akibat menangis.
Anuska berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang pucat dan bermata sembab. Di dalam kamar mandi tersebut Anuska menarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk menetralkan perasaan nya, dan mencoba untuk menyiapkan hati serta mental jika ada keputusan baru lagi yang di tentukan oleh kedua orang tuanya seperti biasa. Semoga saja kali ini akan berbeda. pikir Anuska.
Setelah yakin merasa baik-baik saja, Anuska pun keluar dari kamar mandi. Sementara suara Ibu masih terdengar nyaring di telinganya dari balik pintu kamar.
"Iya Bu, tunggu sebentar," jawab Anuska seraya berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu kamar tersebut dan melihat Ibu sedang membawa sarapan yang di letakan di atas nampan. Pasta kacang dan hamburger, serta susu putih kesukaan Anuska.
"Selamat pagi sayang," ucap Ibu dengan senyuman terbaiknya.
"Pagi juga, Bu," jawab Anuska.
"Apakah kamu tidak akan mempersilakan Ibu masuk," tanya Ibu masih tetap berada di luar kamar.
"Sejak kapan Ibu membutuhkan izin Anuska untuk masuk dalam kamar ini? bukankah sejak dulu Ibu bisa keluar masuk kamar ini kapanpun Ibu mau.?" Kalimat itu seakan menyindir Ibu yang masih memegang nampan berisikan sarapan. Mama tersenyum kecut. Namun, masih tetap dengan sikap yang hangat.
"Baiklah, Ibu masuk ya." Ibu pun masuk dalam kamar Anuska dan meletakan nampan berisi sarapan tadi di atas nakas, lalu kemudian wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang.
"Kemarilah," titah Ibu, dan di ikuti oleh langkah Anuska yang berjalan menuju ke arahnya. Anuska duduk di tepi ranjang bersama Ibu.
"Sarapan lah dulu, setelah itu kita akan bicara."
Deg,
Kalimat sederhana itu sukses membuat hati Anuska berdesir untuk yang kesekian kalinya. Sekarang keputusan apa lagi yang di ambil oleh Ibu dan Ayah? tidak bisakah Anuska mengambil keputusan sendiri sekali saja dalam hidupnya? pikir Anuska.
"Baiklah," jawab Anuska pasrah.
Gadis remaja berusia 19 Tahun itu pun memakan sarapannya dengan lahap hingga habis tak tersisa. Kendati hatinya masih di baluti kegusaran, tetapi tubuhnya juga butuh perhatian. Makanan adalah obat untuk pikiran nya tetap jernih dan normal.
Puas menyantap sarapannya, Anuska beralih meminum susu, dan menyisakan setengah dari susu tersebut. Dia masih memegang gelas susunya tanpa mengembalikan gelas tersebut di atas nakas. Ibu tersenyum.
__ADS_1
"Apakah kamu suka dengan sarapannya sayang,?" tanya Ibu.
"Iya."
"Baiklah, apakah kita sudah bisa mulai,?" tanya Ibu. Pertanyaan itu sukses membuat jantung Anuska berdetak kencang. Dia takut keputusan kali ini benar-benar akan mengguncang seluruh jiwanya.
"Iya."
Mama menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya berkata.
"Kami telah menemukan jodoh yang pantas untukmu, dan kamu akan segera menikah."
PRANG...
Gelas susu Anuska jatuh ke lantai dan pecah hingga menumpahkan sisa susu tadi. Seluruh tubuhnya gemetar, jantungnya berdegup kencang, otaknya berputar seakan berusaha untuk mencerna tiap bait kata Ibunya. Benarkah dia akan menikah? benarkah tidak ada kesempatan untuknya melihat dunia di luar sana? benarkah Ayah dan Ibu tega menyatukan dirinya dengan pria yang tak pernah di kenal sebelumnya?
Kalimat Ibu bagai petir di siang hari, dan sukses mengaduk jiwanya. Anuska pikir kali ini Ibu akan merasa iba pada dirinya dan memberi Anuska satu kali kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri seumur hidupnya. Namun, semuanya pupus sudah kesempatan itu.
Mata Anuska mulai berkaca-kaca. Cairan bening itu sudah tertampung di pelupuk matanya yang sayu dan siap tumpah kapan saja. Dia menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.
"Kamu akan segera menikah sayang," ucap Ibu sekali lagi.
Suara Anuska mulai meninggi. Untuk pertama kalinya dia membentak Ibunya. Membuat wanita paruh baya tersebut tercengang.
"Anuska tidak ingin menikah," lirih Anuska seraya menatap nanar Ibunya.
"Sayang, kami sudah mengambil keputusan," tutur Ibu selembut mungkin agar Anuska tak terguncang. Namun sayang, jiwanya sudah terlanjur sakit. Luka yang selama ini di balut Anuska dengan air mata, kini menganga kembali dan berdarah.
"Tidak.!" Anuska masih tetap dengan satu kata itu.
"Ibu, setidaknya satu kali saja. Satu kali saja Anuska menentukan pilihan dalam hidup Anuska, Bu," lirih Anuska. Permintaan itu terdengar sangat dalam dan pilu. Hati ibu mulai tercubit. Kali ini hati seorang ibu tergerak.
"Selama ini Anuska tak pernah mencegah Ibu dan Ayah memutuskan apapun untuk di jalani. Anuska tak pernah membuat Ibu dan Ayah kecewa. Tapi paling tidak, jadilah teman Anuska, Bu. Jadilah tempat Anuska bersandar untuk mencurahkan segala keluh kesah. Hiks.. Hiks..." Isakan itu sungguh membuat hati Ibu menangis. Hatinya sebagai seorang Ibu ikut menagis pilu. Apakah selama ini dia telah menanam batas antara dirinya dan putrinya sendiri?
"Jadilah teman Anushka, Bu. Anuska sekarat sekarang."
Dor,
__ADS_1
Kalimat itu sukses membuat jiwa Ibu terguncang hebat. Air matanya mulai turun. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menatap tak percaya dengan ucapan putrinya barusan.
Anuska memegang dadanya yang terasa sesak untuk bernafas.
"Ada luka di dalam sini, Bu. Luka itu sangat besar dan berdarah selama ini. Tidak bisakah Ibu membalut luka Anuska kali ini saja? bisakah Anuska mengulurkan tangan untuk meminta belas kasihan dari seorang Ibu? bisakah Ibu memegang tangan Anuska untuk menuntun Anuska agar tetap berada di jalur yang semestinya? bisakah Ibu melaksanakan itu sekali ini saja.?"
"Tolong jangan buat jarak antara seorang anak dan Ibu." Lanjutnya kemudian.
Rentetan pertanyaan itu membuat Ibu bungkam. Hatinya menagis pilu. Jiwanya terguncang. Ada desiran hebat di dalam sana yang mulai terobrak-abrik. Jadi selama ini putrinya menderita tiap keputusan yang di ambil? benarkah selama ini dia sudah menanam jarak yang begitu terjal antara dirinya dan putrinya sendiri? pikir Ibu.
Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Ibu menatap dalam mata sayu putrinya tersebut. Akhirnya dia bisa melihat seberapa terlukanya Anuska selama ini. Dia bisa melihat seberapa besar ukuran luka tersebut. Luka yang kini memenuhi sekujur tubuh dan jiwa putrinya.
"Sayang, maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu. Hu... Hu..." Tangis Ibu pun mulai pecah. Dia menangis penuh sesal. Ibu macam apa aku ini,tidak bisa merasakan luka putrinya sendiri. Aku gagal sebagai seorang Ibu. Aku gagal. Batin Ibu.
Ibu memeluk erat tubuh Anuska, dan Anuska pun membalas pelukan itu.
"Maafkan Ibu, nak. Ibu tidak pernah tahu jika selama ini ada banyak luka yang kami berikan kepadamu, nak. Maafkan Ibu. Hu... Hu..."
Anuska hanya diam tak bergeming. Dia masih larut dalam pikirannya. Berusaha mencerna tiap bait kalimat Ibunya.
Ibu melepas pelukannya, lalu mengecup kening Anuska. Dia menyeka air mata Anuska, dan memindahakan sebagian rambut yang menutupi wajahnya.
"Ibu akan menjadi teman mu, nak. Ibu akan membalut luka mu sayang." Kalimat Ibu bagai angin segar bagi Anuska. Akhirnya Ibu mau menjadi temannya.
"Benarkah itu,?" tanya Anuska antusias.
"Tentu saja sayang. Katakan apa yang harus Ibu lakukan? apakah kamu ingin menunda pernikahan mu? baiklah, ibu akan menundanya dan memberitahu Ayah," ucap Ibu berusaha untuk menjadi Ibu sekaligus teman yang terbaik.
"Anuska ingin keluar dari rumah ini."
Deg,
Permintaan macam apa itu? mengapa harus permintaan yang satu ini? tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi. Luka selama 23 tahun yang lalu masih terasa segar di dalam sana, yang mana tak ada seorang pun yang tahu.
"Bisakan Ibu mengabulkan permintaannya Anuska yang satu ini.?"
Ibu masih tak bergeming sama sekali. Reputasinya di pertaruhkan kali ini. Dimana dia harus menjadi seorang Ibu sekaligus sahabat bagi putrinya. Namun, di sisi lain dia harus melawan trauma yang tertanam kuat di dalam sana sejak 23 tahun lamanya. Dan dia harus melawan rasa takut itu demi menepati janji seorang ibu sekaligus sahabat.
__ADS_1
Lalu Ibu pun berkata, jangan lupa like dan vote ya readers.😊