
Harry berjalan mendekati Anuska, sementara wanita itu memundurkan langkahnya tiap kali pria tersebut berjalan ke arahnya. Sangat gugup dan waspada. Tubuh Anuska menjadi gemetar, jantungnya berdetak tidak karuan. Perasaannya mulai panik, jiwanya mulai meronta, hatinya ingin berteriak meminta tolong, tetapi di Kastil tersebut tak ada satu pun orang selain mereka berdua.
Masih terus berjalan mendekati Anuska, hingga punggung gadis remaja itu terkena tembok yang menandakan, bahwa dia telah sampai di penghujung sudut ruangan.
Anuska menatap penuh waspada, dia menutup kedua dadanya dengan tangan. Lutut wanita cantik tersebut semakin bergetar bagai tak bisa menahan tubuhnya untuk berpijak lagi.
Anuska menutup mata, sebab jarak antara dirinya dan Harry sangat dekat. Sisa 2 senti saja. Harry menarik sudut bibirnya, dia tersenyum mengejek. Lalu tiba-tiba saja.
Plak,
"Aww."
Harry menyentil kening Anuska dengan cukup keras. Anuska membuka matanya sembari mengelus dahinya yang terasa sakit.
"Apa yang kamu lakukan? ini rasanya sangat sakit," keluh Anuska.
"Anda bisa juga merasakan sakit rupanya," cibir Harry.
"Aku bukan benda mati yang tidak memiliki rasa," tandas Anuska dengan sedikit geram.
"Yang mengatakan Anda benda mati, siapa? lagi pula, untuk apa menutup mata tadi,?" tanya Harry penuh selidik.
"Itu karena aku takut kamu akan menodai ku," jawab Anuska sarkatis. Membuat Harry menatap tak percaya. Bagaimana bisa wanita itu berpikiran buruk tentang dirinya.?
"Apa aku sejahat itu,?" tanya Harry tak terima.
"Aku kan hanya menduganya saja. Tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Kata Ayah, kalau ada orang asing yang mendekati ku, harus di lawan dan harus menjauh," tutur Anuska polos. Harry semakin menatap tak percaya. Ternyata gadis yang di ikutinya selama seminggu ini sangat polos.
"Apakah Ayah Anda juga melarang untuk tidak keluar rumah dan tak memiliki teman? haha." Harry tertawa sumbang dan penuh ejekan. Sementara wajah Anuska berubah menjadi sendu. Dia membenarkan ucapan Harry.
__ADS_1
"Itu benar," lirih Anuska. Wajahnya tertunduk, tak berani menatap wajah Harry. Mendengar jawaban Anuska, dan melihat raut wajah sendu wanita tersebut, Harry menghentikan tawanya.
"Benarkah,?" tanya Harry, dan Anuska mengangguk kan kepalanya, mengiyakan pertanyaan pria tersebut.
"Apakah Anda seekor burung yang terkurung dalam sangkar dan baru saja mengepakkan sayapnya,?" tanya Harry tak percaya, dan sekali lagi Anuska mengangguk kan kepalanya.
"Pantas saja kampungan," cibir Harry dengan suara pelan. Namun, masih bisa di dengar oleh Anuska. Wanita itu menjadi kesal pada Harry.
"Apa kamu bilang? aku kampungan? kalau aku kampungan, kamu mau apa? apa kamu akan mengejek ku seperti yang kamu lakukan saat ini,?" tanya Anuska secara beruntun. Perasaannya menjadi menggebu-gebu. Dia sedang di rundung rasa kesal.
"Hei, kenapa Anda marah Nona? tenanglah. Aku hanya berusaha melihat wajah yang tanpa dosa ini? bukankah baru saja Anda mengatakan, bahwa wajah ini tak memiliki dosa.?" Pertanyaan Harry sontak saja membuat Anuska bungkam.
"Ehem, tapi jarak kita terlalu dekat. Aku jadi sesak nafas," sanggah Anuska masih tak mau kalah. Namun, dengan intonasi suara pelan.
"Bukankah untuk melihat wajah seseorang dengan jelas harus dari jarak dekat,?" tanya Harry dengan mata seksama. Mata perak pria tersebut seolah mampu menembus jendela ruang hati Anuska, hingga membuat organ tubuh itu bergetar. Ya, tatapan mata Harry mampu menembus relung hati wanita berambut panjang tersebut.
"Jauhi aku, aku sudah memiliki tunangan," titah Anuska dengan raut wajah canggung. Harry semakin menatap tak percaya pada wanita tersebut. Bagaimana bisa ada wanita yang berbicara begitu impulsif dan polos? apakah hidupnya terlalu serius hingga lelucon pun tak pernah hinggap di hidupnya? pikir Harry.
"Aku mengikuti Anda sejak dari kota Paris, Amsterdam, dan sekarang di kota Praha. Aku mengawasi Anda dan memastikan Anda baik-baik saja Nona. Sekarang pun Anda terlihat sehat, tapi bisakah kita akhiri tour hari ini? rasanya betis ku ingin terbelah. Silahkan lanjutkan esok hari." Harry mengakhiri perdebatan yang cukup panjang itu dan berjalan mendahului Anuska. Namun, sebelum itu Harry berkata :
"Dan satu lagi, saya bukan lah seorang pencopet. Anda harus membiasakan diri untuk mengucapkan kata maaf." Tutup Harry. Pria itu sengaja menekan kata maaf untuk menyinggung Anuska yang sedari tadi tak meminta maaf padanya. Kendati telah mengetahui, bahwa Harry bukan lah seorang pencopet, tetapi seorang pemandu wisata yang selama seminggu ini mengawasi dirinya, dan memastikan dia baik-baik saja.
"Maaf," ucap Anuska penuh sesal setelah Harry pergi dan hilang dari balik pintu Kastil.
**
Setelah keluar dari Kastil, Harry ingin pergi ke tempat dimana bus mereka berada. Namun, bus tersebut sudah tidak ada lagi. Harry meraih ponsel miliknya dan menghubungi supir bus tersebut. Ternyata bus itu telah berangkat ke kota lain dan meninggalkan dirinya serta Anuska.
Mendengar mereka ketinggalan bus, Anuska bukannya sedih, dia justru merasa senang.
__ADS_1
"Mengapa kamu senyum-senyum? apa kamu tahu? gara-gara kamu, kita jadi ketinggalan bus," ucap Harry kesal, menyalah kan Anuska.
"Mengapa kamu menyalah kan aku,?" sanggah Anuska.
"Aku bahkan senang kita ketinggalan bus." Lanjutnya kemudian seakan tanpa beban.
"Apa? kamu senang? aku harus istirahat sekarang, dan kamu merusak waktu istirahat ku. Gara-gara mengikuti mu, aku jadi kehilangan waktu istirahat." Harry benar-benar kesal kali ini. Bahkan dia tak berbicara secara formal lagi pada Anuska. Dia tak lagi menggunakan kata "Anda dan Nona."
"Apa aku menyuruh mu untuk mengikuti ku,?" tanya Anuska tak terima dengan tuduhan Harry.
"Oh, Nona lumba-lumba. Dengarkan aku baik-baik, aku tidak berminat untuk mengikuti mu. Aku hanya mengikuti perintah dari bos ku untuk terus mengawasi mu kemanapun kamu pergi. Kalau mau salahkan seseorang, maka salahkan saja orang tua mu yang meminta ini semua." Harry mengeluarkan segala kekesalannya pada Anuska. Sementara wanita tersebut sangat terkejut. Ternyata Harry mengikuti dirinya karena atas permintaan dari Ayah dan Ibu. Namun, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Anuska justru semakin tak merasa bersalah sama sekali. Bahkan dia tetap semangat untuk mengelilingi kota Praha selama berhari-hari bila perlu.
"Kalau begitu salahkan saja mereka," ujar Anuska santai seolah tanpa beban. Harry semakin menatap tak percaya. Bahkan matanya serasa ingin melompat ke lantai.
"Astaga, berdebat dengan mu membuat darah tinggi ku kambuh," tutur Harry dengan menahan kekesalannya. Dia benar-benar lelah hari ini. Yang di butuhkan pria bermata perak tersebut adalah tempat tidur untuk menyandarkan tubuhnya yang mulai lelah.
"Itu karena memang kamu sudah tua," cibir Anuska.
"Apa? aku tua? apakah kamu tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada orang tua seperti ku,?"
Deg,
Jantung Anuska berdetak kencang dari biasanya ketika pertanyaan aneh itu tercetus dari pria yang satu jam lalu baru di kenalnya. Jatuh cinta pada pria tua? bagaimana bisa dia jatuh cinta? bahkan dirinya tak mengenal apa itu cinta. Tapi mengapa pertanyaan itu justru membuat jantung Anuska seakan bekerja keras.?
"Rasanya sangat enak. Bahkan kamu akan merasa bahagia hingga kamu lupa, bahwa kamu pernah mengunjungi Kastil Praha ini." Lanjutnya kemudian setelah beberapa saat diam.
Kalimat sederhana itu sukses membuat hati Anuska berdesir hebat di dalam sana. Bait kalimat itu terasa aneh. Namun, sarat akan makna. Anuska memegang dadanya yang terasa membuncah. Dia tak menyangka, jika kalimat sederhana itu mempengaruhi dirinya. Cinta? apakah itu cinta? pertanyaan itu seakan terucap tanpa sengaja. Haruskah dia bertanya dan mempelajari apa itu cinta? haruskah dia bertanya dimana letak itu cinta? akankah cinta itu benar-benar datang dan menghampiri dirinya? entahlah. Yang jelas saat ini Anuska tengah asik menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. Matanya tak berkedip kala memandang wajah Harry, dan sukses membangkitkan perasaan aneh di dalam sana. Seperti... ah tidak mungkin. Lalu Anuska pun berkata :
"Jangan lupa like dan vote ya readers."
__ADS_1
To be continued. Happy reading.