CINTA DALAM PERJALANAN.

CINTA DALAM PERJALANAN.
Episode. 6. Pertukaran Syarat.


__ADS_3

Ayah telah sampai di depan pintu kamar Anuska. Untuk pertama kalinya pria paruh baya yang masih tampak gaga meski tak lagi muda tersebut, berdiri di depan pintu kamar putrinya semenjak dia dewasa. Ayah tak pernah menyangka, jika kedatangannya itu justru membuat hatinya gundah dan bimbang.


Ayah mengetuk pintu kamar Anuska sebanyak tiga kali. Namun, tak ada juga jawaban.


Tok, tok, tok.


Ayah tak berputus asa, mungkin Anuska butuh waktu untuk berpikir. Namun, Ayah tetap mengulang ketukan tersebut hingga Anuska mau membuka pintu kamarnya.


"Anuska, ini Ayah nak. Bolehkah Ayah masuk,?" ucap Ayah. Sementara di dalam kamar, Anuska tampak terkejut karena untuk pertama kalinya Ayah datang ke kamar semenjak dia dewasa. Biasanya Ayah hanya menyuruh Ibu yang masuk ke kamar Anuska, dan memberikan informasi baru perihal keputusan hidup Anuska. Namun, kali ini berbeda. Ayah datang sendiri di kamarnya. Apakah Ibu sudah memberitahu Ayah mengenai permintaan Anuska? pikir wanita berambut panjang tersebut.


Puas bermain-main dengan pikirannya, Anuska membukakan pintu untuk Ayah dan mempersilahkan Ayah untuk masuk.


"Masuklah Ayah," titah Anuska tanpa melihat wajah Ayahnya. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap pria yang telah merawatnya selama 19 tahun tersebut. Mata Anuska sembab dan bengkak. Sangat jelas di mata Ayah, dan Ayah bisa memahami itu. Merasa terkurung dalam rumah yang besar, seumpama burung tak memiliki sayap. Rasanya tak bebas. Kini Ayah menyadari itu. Ya, Ayah baru sadar setelah 19 tahun lamanya.


Ayah duduk di tepi ranjang bersama Anuska. Ayah menatap wajah putrinya itu dengan iba dan hangat. Hati kecil seorang Ayah mulai tercubit.


"Bagaimana perasaan mu sekarang? apakah kamu lebih baik?," tanya Ayah seraya mengusap rambut Anuska.


"Ayah tahu, sulit rasanya menerima setiap keputusan Ayah dan Ibu selama ini. Mungkin kamu menderita, tapi kami jauh lebih menderita. Tak mudah bagi orang tua untuk melepas putrinya di luar sana tanpa pengawasan secara langsung." Ayah mulai berbicara panjang pada Anuska untuk pertama kalinya.


"Kami melarang mu mengenal dunia luar karena kami memiliki alasan yang kuat, dimana alasan itu cuma kami yang tahu. Akan ada saatnya kamu mengetahui kenyataan pahit yang Ayah dan Ibu alami selama 23 tahun ini." Anuska begitu tercengang ketika kalimat yang satu ini begitu dalam. Seperti sedang menyembunyikan sebuah luka yang parah di dalam sana hingga menyebabkan trauma yang mendalam.


"Ayah tidak ingin memaksamu untuk menikah sekarang, tapi ketahuilah Nak, Ayah dan Ibu lakukan ini semua demi kebaikan mu. Tak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam jurang yang terjal." Anuska masih belum bergeming. Dia masih diam seribu bahasa, seakan menikmati tiap bait kalimat Ayahnya.


"Kamu akan memahami ketakutan Ayah dan Ibu setelah kamu menjadi orang tua." Ayah beralih memegang kedua tangan Anuska.

__ADS_1


"Dia adalah pria yang baik, percayalah pada Ayah, em.?" Hati Anuska bertambah sakitnya. Dia pikir kedatangan Ayah akan memberinya angin segar, tapi ternyata sama saja. Harapan tinggalah harapan. Pikir Anuska.


"Apakah tidak ada lagi harapan untuk Anuska, Ayah,?" tanya Anuska akhirnya. Dia memberanikan diri untuk menatap mata Ayahnya.


"Harapan apa, Nak? katakanlah," titah Ayah.


"Tidak bisakah Anuska mengenal dunia di luar sana? tidak bisakah Anuska mencari jati diri Anuska di luar? tidak bisakah Anuska memiliki teman di luar sana? tidak bisakah Anuska menentukan masa depan Anuska sendiri?" tanya Anuska secara beruntun dan tanpa ragu. Pertanyaan itu seolah tersusun rapi dan epik. Seakan telah lama di persiapkan.


"Anuska...," lirih Ayah.


"Apakah Ayah juga tidak bisa menjadi teman Anuska sama seperti Ibu? tidak bisakah kalian mempertimbangkan bagaimana kondisi perasaan dan mentalku,?" Lirih Anuska. Pertanyaan itu sangat dalam. Wajah Anuska semakin sendu. Dia menatap nanar wajah Ayahnya. Lalu kemudian Anuska tersenyum kecut.


"Ternyata Ayah juga tidak bisa," lirih Anuska. Hati Ayah tercubit berkali-kali lipat. Namun, dia memilih untuk diam terlebih dahulu.


"Anuska bisa saja menerima pernikahan itu tanpa ragu Ayah. Seperti biasanya,


takdir Anuska telah di tentukan oleh Ayah dan Ibu selama ini. Bahkan Anuska tak pernah membantah itu. Anuska tak pernah mencegah Ayah dan Ibu. Karena kalian tahu yang terbaik untuk Anuska," ujar Anuska seakan mengeluarkan segala isi hatinya.


"Lalu apa yang harus Ayah lakukan sebagai seorang sahabat,?" tanya Ayah. Dan sukses membuat Anuska diam. Wanita itu berusaha untuk mencerna kalimat Ayahnya.


"Apakah barusan Ayah menawarkan pertemanan? dan menanyakan keinginan Anuska,?" tanya Anuska masih dengan raut wajah tak percaya.


"Katakanlah," titah Ayah.


"Anuska ingin berkeliling dunia," jawab Anuska mantap.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Ayah tak kalah mantapnya.


"Apa maksud Ayah? apakah Ayah baru saja mengizinkan Anuska untuk keluar rumah? berkeliling dunia,?" tanya Anuska antusias.


"Tentu saja," jawab Ayah. Anuska memeluk tubuh Ayahnya. Dia benar-benar bahagia kali ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup Anuska, dia merasakan bahagia yang tiada tara. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini.


"Tapi dengan satu syarat," ucap Ayah kemudian. Anuska melepas pelukannya.


"Apa itu Ayah?"


"Kamu harus bertunangan terlebih dahulu sebelum berkeliling dunia. Dan sepulangnya kamu dari tour, kamu langsung menikah tanpa menoleh lagi kebelakang, bagaimana?" tawar Ayah.


Anuska tersenyum ketika mendengarkan penawaran Ayahnya. Lima menit yang lalu dirinya yang memberi sebuah persyaratan, kini giliran Ayahnya. Apakah ini semacam pertukaran syarat? pikir Anuska.


"Baiklah Ayah, Anuska akan menikah setelah pulang dari tour nanti," ucap Anuska akhirnya.


"Janji.?"


"Janji."


Anuska dan Ayah saling melempar senyuman. Tanpa mereka sadari, ada ibu yang menitikan air mata dari balik pintu kamar Anuska. Ya, wanita paruh baya itu tak sanggup masuk ke dalam kamar putrinya sendiri. Dia tak bisa menerima permohonan Anuska yang ingin berkeliling dunia. Namun, Ayah telah mempercayai Anuska dan memberinya satu kali kesempatan. Itu artinya Ayah bisa melihat kepercayaan di mata Anuska tanpa ragu.


Akhirnya Ayah keluar dari kamar Anuska dan meninggalkan wanita tersebut dalam kamarnya. Sementara hati dan perasaan Anuska sedang berbunga-bunga. Bagai ada ribuan kupu-kupu yang bermain di atas kepalanya. Sungguh tak ada yang lebih indah dari ini. Mengenal dunia luar merupakan impiannya sejak kecil. Terlebih lagi dengan mengelilingi dunia, Anuska akan menemukan jati dirinya.


Anuska bahagia, Anuska bebas, Anuska tak sedih lagi, Anuska benar-benar tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Namun, sangat jelas di mata wanita berambut warna madu tersebut, bahwa dia bahagia. Sayap yang dulunya tak pernah ada, kini seakan tumbuh dan membawa dirinya kemanapun dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2