CINTA DALAM PERJALANAN.

CINTA DALAM PERJALANAN.
Episode. 12. Terbayang-bayang.


__ADS_3

Begitu banyak kalimat cinta yang di lontarkan oleh seorang Harry Davidson. Pria asing yang baru beberapa jam lalu secara resmi berstatus sebagai sahabat dari seorang Anuska Holcher. Keduanya mengikat tali persahabatan lewat pertanyaan-pertanyaan aneh yang di ajukan. Persahabatan yang tak di ketahui ujungnya itu berlanjut hingga Anuska mulai merasakan sesuatu yang berbeda di dalam sana.


Cahaya kota Praha menjadi saksi biksu hubungan keduanya mulai terjalin. Hubungan persahabatan yang berawal dari rasa penasaran karena ingin mengetahui alasan dari terkurungnya seorang gadis remaja cantik. Hubungan yang di mulai dari rasa ketidaktahuan mengenai apa itu cinta.


Kerlap-kerlip lampu jalanan di kota Praha, juga menjadi saksi bisu hubungan keduanya berjalan sesuai kehendak sang maha agung. Percikan salju mengeratkan hubungan keduanya. Suara musik jalanan di pinggir kota Praha mengalun indah, seakan menggambarkan syahdunya perasaan Anuska. Hatinya damai, jiwanya tentram, dan semua bersarang di relung yang terdalam.


Kalimat cinta itu selalu terbayang-bayang hingga memenuhi sekujur tubuh Anuska. Rasanya sangat aneh. Namun, menumbuhkan benih-benih yang masih belum di pahami oleh Anuska.


Dia melihat wajah Harry lewat sela jari-jari yang menutupi matanya. Senyuman pria itu bagaikan sihir yang menembus relung hati Anuska. Bibir pria itu terus berucap, banyak kata yang di lontarkan oleh pria bermata perak tersebut. Membuat jiwa Anuska meronta ingin menanyakan, dimanakah letak cinta Harry saat ini? oh ayolah Anuska. Bukankah kamu seorang wanita yang baru saja mempelajari apa itu defenisi cinta? tetap lah berada di jalur mu Anuska. Anuska mengutuk dirinya sendiri.


"Berhenti menatapku seakan aku ini adalah pangeran yang akan membangunkan mu dari tidur panjang," ucap Harry, menyentak kan Anuska dari lamunannya.


"Aku tidak sedang mengagumi mu," balas Anuska canggung.


"Aku tidak mengatakan jika kamu mengagumi ku Anuska. Bedakan antara mengagumi dan menghayal. Kamu tadi sedang menghayal. Apakah kamu sedang memikirkan seseorang datang dan membawamu pergi dari dunia ini,?" tanya Harry dengan senyum mengejek.


"Sudahlah, berhenti menggodaku. Aku ingin mengelilingi kota Praha ini. Menikmati keindahan malam di bawah cahaya bulan," tutur Anuska seraya melihat ke arah langit yang terang benderang. Ya, saat ini Anuska dan Harry tengah berada di luar hotel tempat mereka menginap. Anuska ingin mengelilinginya kota Praha sebelum pagi hari. Karena mereka akan melanjutkan perjalanan selanjutnya untuk mengejar bus yang meninggalkan mereka ketika berada di Kastil Praha siang tadi.


"Baiklah, Nona Anuska Holcher. Malam ini aku adalah milikmu," ucap Harry seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Anuska semakin terpesona akan ketampanan pria tersebut.


"Baiklah, Nona Anuska. Kita mulai dari mana perjalanan kita malam ini,?" lanjutnya kemudian.


"Aku ingin ke Menara Gerbang jembatan Charles," jawab Anuska mantap.


"Baiklah Nona."

__ADS_1


Harry dan Anuska pun melakukan perjalanan menuju Menara Gerbang jembatan Charles. Malam itu menjadi saksi bisu hubungan antara keduanya terjalin erat selayaknya pasangan kekasih. Tanpa mereka sadari, jemari keduanya saling bertautan dalam menikmati panorama indah nya kota tua di sepanjang perjalanan.


Keduanya saling melempar senyuman kebahagiaan. Senyuman itu tak memiliki beban sama sekali. Nafas berhembus ringan, dada itu tak memiliki duri lagi. Anuska yang tak pernah mengenal cinta, kini merasakan sesuatu yang berbeda. Sementara Harry sang pria keras kepala yang belum menemukan jati diri, kini seakan mulai mengetahui tujuan hidupnya.


Senyuman polos Anuska mengalihkan dunia Harry. Hanya saja dia belum menyadari pentingnya Anuska dalam hidupnya.


Harry dan Anuska mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat ponsel wanita tersebut. Keduanya berfoto selayaknya pasangan yang tengah kasmaran. Anuska sang wanita cantik dan polos, sedangkan Harry sang pria dengan sejuta pesona. Perpaduan yang sangat sempurna.


"Apakah kamu tidak bosan berkeliling,?" tanya Harry di sela-sela keberasamaan mereka menikmati kota tua.


"Bukankah aku sudah katakan, aku harus menyelesaikan misi ku untuk mengelilingi dunia ini. Ternyata tak seburuk yang di bayangkan," ucap Anuska dengan raut wajah bahagia.


"Bagaimana jika aku adalah bagian keburukan dari dunia ini,?" tanya Harry dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.


"Apa maksudmu,?" tanya Anuska bingung.


"Harry, jangan menakuti ku," tutur Anuska takut.


"Bukankah tadi kamu bilang, bahwa dunia tak seburuk yang di bayangkan,?" Harry terus memasang wajah yang membuat Anuska semakin ketakutan. Wanita itu menelan salavinya dengan susah payah. Langkahnya semakin mundur, hingga belakang wanita tersebut sampai di penghujung jalan.


"Harry, kamu menakutiku," ucap Anuska sekali lagi dengan suara gemetar. Sementara Harry masih tak berhenti untuk membuat Anuska ketakutan.


"Hahahaha," tawa Harry pecah hingga memenuhi jembatan Charles tersebut. Dia sangat menikmati permainannya. Sementara dahi Anuska berkerut hampir menyatu.


"Anuska, bukankah aku sudah katakan padamu. Dunia tak se-elok yang di tawarkan. Terkadang kamu harus mengenal orang di sekeliling mu dengan baik. Hanya mengetahui defenisi cinta saja tidak cukup. Kamu harus memahami orang di sekeliling mu juga. Haha." Penuturan Harry membuat Anuska memahami satu hal. Ternyata Harry hanya menguji dirinya. Ya, Harry sengaja melakukan itu agar Anuska tak terlalu gampang mempercayai keindahan dunia yang belum tentu nikmat. Dunia juga memiliki banyak kebohongan disana.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku mempercayai mu seratus persen.?" Pertanyaan Anuska membuat tawa Harry berhenti seketika. Dia beralih menatap mata coklat Anuska.


"Maka kamu akan menemukan sensasi lain dari kepercayaan mu itu," balas Harry dengan raut wajah yang tak terbaca. Sekali lagi hati Anuska berdesir. Dia mulai merasa hatinya menuntun dirinya ke arah Harry.


"Anuska, dunia tak seindah yang kamu bayangkan. Namun, tak seburuk apa kata orang. Terkadang kamu harus mengenal orang di sekitar mu untuk lebih memahami hidup. Cinta saja tak cukup untuk saling melengkapi. Butuh kepercayaan dan keyakinan dalam sebuah hubungan." Anuska terdiam kala mendengar kalimat Harry yang sarat akan makna tersebut. Dia ingin memahami maksud dari tiap bait kalimat Harry.


"Dunia juga menawarkan kebohongan Anuska. Terkadang dalam perjalanan kamu akan menemukan nya. Kamu tinggal memilih, apakah akan tetap yakin dengan perasaan mu. Atau justru mengabaikannya dan berjalan di jalur semestinya. Karena hidup itu bukan hanya tentang cinta, tetapi juga pilihan. Pilihan lah yang akan menuntun mu dalam kebimbangan."


"Bagaimana jika pilihan itu justru menuntunku berjalan ke arahmu? apa yang akan kamu lakukan.?"


Deg,


Pertanyaan Anuska membuat Harry diam seribu bahasa. Pertanyaan itu seakan memiliki makna yang mendalam. Apakah Anuska telah jatuh cinta padanya? pikir Harry.


"Anuska, pilihan itu tidak selalu harus di ambil dalam sekejab. Kamu harus memantapkan dirimu untuk memutuskan pilihan apa yang akan kamu ambil. Bukankah kamu sudah memiliki tunangan? maka berjalanlah ke arahnya." Ucapan Harry mengenai tunangan, mengingatkan Anuska akan statusnya saat ini. Dia adalah wanita yang sudah memiliki tunangan. Tapi bukankah wajar jika menemukan cinta sejati dalam pencarian jati diri? anggap saja Anuska sedang mencari jati dirinya lewat perjalanan ini.


"Kamu benar, aku akan berjalan ke arah tunangan ku. Ya, tunangan," lirih Anuska. Namun, sukses membuat hati Harry tercubit. Dia juga sudah mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya kali ini. Raut wajah Anuska menggambarkan kekecewaan. Benarkah Anuska kecewa dengan jawaban Harry?


Anuska mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Dia tak ingin menatap mata perak pria yang sukses membuat hatinya meronta. Pria itu mengajarkan defenisi cinta, tetapi dalam sekejab membuat cinta itu seakan memiliki makna yang lain.


Sementara hati Harry mulai bergejolak. Dia bisa melihat seberapa dalam kekecewaan Anuska atas jawabannya. Bukankah Harry tidak salah dalam hal ini? bukankah wajar jika ia menuntun Anuska untuk mengenal cinta dalam dirinya lewat tunangannya? oh ayolah Harry. Kamu bukanlah pria bijak yang mampu mengubah prinsip hidup seseorang dalam sekejab mata. Anuska juga manusia yang berusaha untuk mengenal tentang kehidupan. Jadilah sahabat nya. Batin Harry.


"Anuska, maafkan aku jika aku menyinggung perasaan mu," sesal Harry. Anuska menoleh ke arah Harry, dan menatap manik mata perak pria tersebut.


"Aku memahami ucapan mu Harry. Aku akan memberikan kesempatan pada diriku untuk mengenal cintaku. Biarkan pilihan itu menuntunku dalam kebimbangan. Agar aku bisa menentukan jalur mana yang akan aku tuju nanti." Jawaban Anuska membuat hati Harry semakin berdenyut. Ada sedikit rasa sesal dalam benaknya. Namun, bukankah terlalu cepat jika dia mengartikan rasa yang mulai tumbuh saat ini adalah cinta?

__ADS_1


Lalu kemudian Harry berkata, jangan lupa like dan vote ya readers.


To be continued.


__ADS_2