CINTA DALAM PERJALANAN.

CINTA DALAM PERJALANAN.
Episode. 5. Permintaan Anuska.


__ADS_3

Permintaan Anuska masih terngiang-ngiang di atas kepala Ibu. Wanita paruh baya itu tak pernah berpikir sekalipun jika putrinya mengajukan permintaan yang sangat sulit untuk di terima hati dan batinnya.


"Mengapa harus pergi dari rumah, nak? tidak bisa kah kamu memberi Ibu pilihan lain? Ibu akan membujuk Ayah untuk menunda pernikahan mu sampai kamu benar-benar siap," tawar Ibu.


"Apakah untuk kesekian kalinya Ibu akan mengecewakan Anuska? apakah permintaan Anuska sangat berat untuk Ibu penuhi,?" tanya Anuska lirih.


"Bukan itu masalahnya, Nak."


"Lalu apa Bu? tidak bisa kah kalian memberiku alasan yang logis agar aku menerima semua itu?" kali ini intonasi suara Anuska mulai meninggi. Dirinya tak bisa menahan diri lagi untuk memendam rasa yang meronta di dalam sana.


"Dunia luar itu sangat berbahaya, Nak. Kamu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi nanti. Bisa saja orang jahat akan melukaimu," ucap ibu sungguh-sungguh.


"Apakah dulu Ibu di jodohkan dengan Ayah? apakah dulu Ibu tak mengenal dunia luar sehingga pertemuan Ayah dan Ibu di rencanakan sampai pada akhirnya kalian menikah? dan apakah Ibu tidak memiliki sahabat sama sekali dulu? lalu dimana Ibu mengenal Tante Meli, Tante Dina, Tante Aska, dan Tante Dania? apakah mereka sengaja datang di rumah ini,?" tanya Anuska secara beruntun, dan sukses membungkam Ibunya. Wanita paruh baya itu membenarkan semua pertanyaan dari putrinya tersebut.


"Sayang," lirih Ibu.


"Baiklah Bu, kita memang tidak bisa menjadi sahabat. Seorang sahabat tentu saja akan saling mendukung satu sama lain. Bukankah itu yang sering Ibu dan Ayah ajarkan padaku.?" Pertanyaan kali ini sukses membuat hati Ibu tercubit berkali-kali lipat. Dia terjebak dengan aturan dan ajarannya sendiri selama ini.


"Jika Ibu sudah selesai, Ibu boleh pergi. Anuska ingin istirahat dulu," titah Anuska tanpa melihat wajah Ibunya. Hati Ibu semakin perih dan bimbang. Antara ingin menjadi seorang Ibu sekaligus sahabat, atau menjadi seseorang yang tampak jahat di mata putrinya sendiri.


Ibu meninggalkan kamar Anuska dengan perasaan campur aduk. Sedih, kecewa, bimbang, dan ragu. Semua rasa itu muncul secara bersamaan.


Sepanjang jalan menuju kamarnya, Ibu terus berpikir. Semua kalimat Anuska seolah bermain-main di atas kepalanya.


"Anuska sekarat Bu, ada luka yang besar di dalam sini. Tolong jadi teman Anuska sekali saja. Selamatkan Anuska, Bu." Semua kalimat itu terus berputar di atas kepala wanita paruh baya tersebut. Hingga tibalah dia di kamar pribadinya.


Ibu mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, lalu beralih membuka laci nakas yang selama 23 tahun tak pernah di sentuhnya. Namun, kali ini hatinya seolah menuntun dirinya untuk membuka kisah pilu di masa lalu lewat permintaan putrinya sendiri.


Ibu mengambil sebuah foto hitam putih yang telah usang. Foto itu adalah gambar seorang gadis remaja cantik yang sedang tersenyum dan di peluk oleh seorang wanita paruh paya. Keduanya tampak sangat bahagia.


Ibu mengusap foto itu seraya menitikkan air mata. Cairan bening itu mengalir bagai tak bertepi. Tak lama terdengar suara pintu terbuka.


Ceklek,


"Sayang kamu sedang apa?."

__ADS_1


"Ayah.?"


Buru-buru Ibu menyimpan foto tersebut dan menyeka air matanya. Ibu membalikkan badannya menghadap sang suami.


"Kok Ayah belum berangkat ke kantor,?" tanya ibu. Bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri, Ayah justru menatap wajah Ibu penuh selidik. Ayah bisa melihat mata sembab wanita yang di nikahinya selama 25 tahun tersebut.


"Apa kamu menangis? apa terjadi sesuatu yang aku tidak ketahui,?" tanya Ayah.


"Tidak ada apa-apa sayang, tadi mataku kemasukan debu. Jadinya sembab," jawab ibu mencari alasan.


"Benarkah,?" sangsi Ayah.


"Benar sayang."


Akhirnya Ayah mempercayai ucapan istrinya itu tanpa menyimpan rasa curiga sama sekali. Melihat raut wajah serius Ibu membuat Ayah tak memiliki alasan untuk meragukan istrinya.


**


Sementara di kamar Anuska, dia sedang menangis tersedu-sedu seakan meratapi nasib yang tak berpihak padanya. Akankah semua berakhir seperti ini? tidak bisakah dia di beri kesempatan sekali saja seumur hidupnya.?


"Ibu, berpihak lah padaku kali ini saja. Aku kesepian, Bu. Hiks...Hiks..."


Tangis itu terdengar sangat pilu. Hingga Anuska tertidur dengan sisa-sisa air mata di pipinya.


**


Keesokan harinya, Ayah menemukan Ibu tengah menangis di atas tempat tidur. Ada sesuatu yang terpendam dalam hati wanita paruh baya tersebut. Namun, dia memilih untuk diam.


Ayah mendekati Ibu yang masih terisak. Dia memegang pundak Ibu. Wanita paruh baya itu cukup tercengang ketika di rasa kulitnya tersentuh oleh seseorang.


"Ayah?"


"Kenapa kamu menangis sayang?" tanya Ayah tenang. Ibu mengusap air matanya. Dia menundukkan kepala, tak sanggup menatap mata suaminya. Ayah mengangkat dagu Ibu.


"Ada apa sayang? katakan padaku," ucap Ayah.

__ADS_1


"Anuska menolak untuk menikah," jawab Ibu dengan suara terbata-bata.


"Benarkah? apa alasannya sampai Anuska menolak untuk menikah,?" tanya Ayah masih dengan raut wajah tenang.


"Dia ingin mengenal dunia luar."


Deg,


Pernyataan Ibu membuat hati Ayah berdenyut. Jantungnya berdegup kencang, matanya pun terbelalak.


"Anuska ingin mengenal dunia luar? bagaimana bisa,?" tanya Ayah tak percaya.


"Dia menderita sayang, selama ini dia menderita. Anuska memendam semua perasaannya tanpa kita ketahui ada luka di dalam dirinya yang teramat sangat besar. Dia bahkan memintaku untuk menjadi temannya bersandar." Mata Ayah mulai berkaca-kaca kala mendengar kalimat memilukan dari istrinya. Tak di sangka jika selama ini putrinya yang penurut, ternyata memendam sesuatu yang besar di dalam hatinya.


"Dia ingin aku menjadi tempatnya kembali. Bahkan dia mengulurkan tangannya untuk meminta kasih sayang dariku. Ibu macam apa aku ini yang tidak pernah tahu derita anaknya sendiri. Aku bahkan menciptakan jarak antara anak dan Ibu. Hiks...Hiks..." Tangis ibu mulai pecah, dia menangis terisak di dada suaminya. Ayah memeluk tubuh Ibu yang gemetar. Sejujurnya jiwa Ayah juga terguncang manakala mendengar fakta yang begitu memilukan.


"Lalu apa keputusan mu,?" tanya ayah akhirnya setelah beberapa saat diam mendengar penuturan Ibu.


"Aku tidak siap jika dia harus mengenal dunia luar. Masih sangat jelas kejadian 23 tahun yang lalu. Luka itu bahkan belum kering di dalam sini. Luka itu masih terasa segar." Ibu memegang dadanya yang terasa sesak untuk bernafas. Peristiwa 23 tahun yang lalu seolah bermain-main di atas kepalanya.


"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Aku harus mengerjakan sesuatu dulu," ucap Ayah seraya menatap kedepan.


"Kamu mau kemana? bukankah kamu tidak ke kantor hari ini,?" tanya Ibu.


"Aku ingin berbicara dengan Anuska mengenai pernikahan nya," balas Ayah.


"Tapi dia tidak mau menikah sayang," tandas Ibu sungguh-sungguh.


"Kamu tenang saja, kali ini aku akan berbicara sebagai seorang Ayah pada Anuska. Bukan sebagai si pembuat keputusan." Ibu terdiam sejenak untuk mencerna tiap bait kalimat suaminya. Tak lama setelah itu Ibu mengiyakan perkataan Ayah.


Ayah pun beranjak pergi meninggalkan Ibu yang masih terdiam dalam kamar. Pria paruh baya itu berjalan menuju kamar putri semata wayangnya.


Di sepanjang perjalanan menuju kamar Anuska, Ayah memikirkan alasan yang tepat mengapa selama ini Anuska tak di perbolehkan mengenal dunia luar selain kedua orang tuanya, serta Kakek dan Nenek nya. Dia harus membuat keputusan yang bijak kali ini, tanpa harus menyakiti hati putrinya lagi. Dia harus menjadi seorang Ayah sekaligus sahabat bagi putrinya sendiri seperti yang di inginkan oleh Anuska.


Lalu Ayah berkata, jangan lupa like dan vote ya. Jangan lupa beri bintang juga. Happy reading 😊.

__ADS_1


__ADS_2