
Anuska terus menatap wajah Harry lekat-lekat. Dia mulai merasakan sesuatu yang berbeda di dalam sana. Ada desiran yang tak di pahami oleh wanita tersebut. Ini pertama kali dirinya merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya.
Sementara Harry terus berbicara, entah apa yang di bahas oleh pria tampan tersebut. Anuska sudah tak konsentrasi lagi. Kepalanya penuh dengan pertanyaan sederhana Harry tadi.
Anuska merasa dunia sedang berputar mengelilingi dirinya, dan pada akhirnya berhenti tepat di depan wajah Anuska.
"Halo," ucap Harry seraya melambaikan tangannya di depan wajah Anuska, dan Anuska pun sadar dari lamunannya.
"Apakah mulut mu mendadak bisu? mengapa kamu melamun dan tersenyum? dasar wanita aneh." Harry menggelengkan kepalanya, lalu kemudian pergi meninggalkan Anuska yang masih saja diam tak bergeming. Anuska memegang dadanya yang berdegup kencang sedari tadi.
"Mengapa rasanya sangat aneh,?" gumam Anuska. Setelah menyadari Harry telah jauh dari pandangan nya, wanita tersebut akhirnya mengembalikan kesadaran nya yang sempat goyah. Lalu kemudian mengejar pria tersebut.
"Hei tunggu aku," ucap Anuska sembari mengejar Harry.
"Mengapa kamu meninggalkan aku,?" tanya Anuska seraya memegang dadanya. Nafas wanita itu mulai memburu akibat dari mengejar Harry.
Harry menghentikan langkahnya, dan beralih melihat Anuska.
"Apakah aku menyuruh mu untuk mengejar ku,?" tanya Harry kesal.
"Kamu memang tidak menyuruh ku, tapi bukankah kamu tidak boleh meninggalkan tamu sendirian di kota asing," sanggah Anuska tak mau kalah.
Harry tampak mengembuskan nafas lelah. Dia tidak ingin berdebat kali ini, biarlah dia mengikuti ucapan wanita yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Huff, baiklah. Ikut denganku," titah Harry seraya berjalan, dan di ikuti oleh Anuska.
"Kita mau kemana.?"
"Ke Hotel."
"Apakah kita akan menginap disana,?"
__ADS_1
"Iya."
"Apakah kita akan berada dalam satu kamar,?" tanya Anuska polos, dan sukses menghentikan langkah Harry. Dia menoleh pada wanita yang menurutnya sangat cerewet itu.
"Apakah aku pria pedofil yang menyukai anak-anak seperti mu,?" kesal Harry.
"Aku kan hanya bertanya saja, mengapa kamu selalu menanggapi nya dengan serius dan marah-marah,?" tanya Anuska datar. Harry tidak ingin menjawab ucapan Anuska, karena dia tahu pasti akan berakhir dengan perdebatan lagi. Tentu saja hal itu akan menyita waktunya untuk beristirahat.
Harry berjalan kembali mendahului Anuska. Pria itu mendatangi Hotel yang jaraknya tidak jauh dari Kastil Praha. Dia memasuki Hotel tersebut dan menanyakan kamar kosong pada bagian resepsionis.
"Permisi Nona, apakah masih ada kamar kosong,?" tanya Harry pada resepsionis tersebut dengan menggunakan bahasa Jerman. Sebagian besar penduduk Praha menggunakannya Bahasa Jerman.
"Untuk berapa orang Tuan,?" tanya resepsionis yang bernama Berta tersebut.
"Dua."
"Maaf Tuan, kamar di hotel kami hanya tersisa satu," ucap resepsionis tersebut dengan penuh sesal.
"Benarkah? apakah ada hotel lain di sekitar sini,?" tanya Harry lagi. Sementara Anuska tak bergeming. Dia hanya menyaksikan percakapan yang tak di pahaminya itu dengan seksama.
Harry tampak berpikir dan menimbang-nimbang keputusan apa yang akan di ambilnya. Tidak mungkin dia satu kamar bersama Anuska. Untuk pergi ke hotel lain yang jaraknya cukup jauh rasanya tidak mungkin. Sementara dirinya sudah di landa kelelahan. Akhirnya Harry memutuskan untuk bertanya pada Anuska, apakah wanita itu mau sekamar dengan nya. Tentu saja mereka akan tidur terpisah. Tentang siapa yang tidur di ranjang dan di sofa, itu perkara belakang. Yang terpenting saat ini adalah persetujuan Anuska.
"Apakah kamu mau sekamar dengan ku,?" tanya Harry secara gamblang, membuat Anuska ber-ha ria.
"Ha? apakah kamu sudah gila? apa yang kamu katakan pada wanita itu sehingga kamu mengajakku untuk tidur bersama,?" tanya Anuska seraya menutupi dadanya dengan menggunakan kedua tangan. Sementara Harry memutar bola matanya merasa jengah dengan wanita yang membuat emosinya naik turun itu.
"Aku tidak memintamu untuk tidur bersamaku. Aku hanya bertanya, apakah kamu mau sekamar dengan ku? karena kamar di hotel ini cuma tersisa satu yang kosong," terang Harry. Mendengar penjelasan Harry, Anuska pun mengangguk-anggukkan kepalanya seakan memahami ucapan pria tersebut.
"Oh begitu," gumam Anuska.
"Jadi kamu mau atau tidak? aku sudah lelah dan butuh istirahat," desak Harry tak tahan lagi. Dirinya benar-benar lelah kali ini. Bahkan untuk berdebat pun ia sudah tak sanggup lagi. Saat ini, tempat tidurlah yang memenuhi otak dan pikirannya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku tidur di ranjang dan kamu di sofa," tawar Anuska. Wanita itu tampak masih tak mau menerima begitu saja penawaran Harry. Dan Harry pun terpaksa menyetujui permintaan Anuska agar tak terjadi perdebatan lagi. Karena bisa di pastikan, jika dia tak mengikuti ucapan wanita tersebut, maka perdebatan panjang akan kembali terjadi, dan itu justru membuat Harry semakin lelah.
"Baiklah," ucap Harry akhirnya setelah beberapa saat kemudian.
Akhirnya Harry dan Anuska memesan satu kamar yang tersisa itu. Kamar tersebut terlatak di lantai 27. Kini keduanya telah tiba di kamar yang akan mereka gunakan bersama. Harry merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhya terasa nyaman ketika menyentuh kasur yang berukuran king size tersebut.
"Hei, mengapa kamu berbaring disitu? bukankah kita sudah sepakat untuk berbagi kamar,?" protes Anuska.
"Bukankah saat ini kita sedang berbagi kamar,?" tanya Harry santai. Dia terus menggerak kan kedua tangan dan kakinya seolah menikmati kenyamanan yang di tawarkan oleh pihak hotel.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakan, jika kamu tidur di sofa dan aku yang tidur di tempat tidur ini." Anuska masih bersi kukuh untuk mempertahankan keinginannya.
"Kapan kamu mengatakannya? aku tidak ingat," balas Harry datar. Dia sudah tidak memperdulikan ocehan wanita itu lagi. Baginya saat ini kenyamanan sangatlah penting. Mendapatkan tempat tidur membuat jiwa egoisnya muncul.
"Kau--"
"Apa? apakah kamu menginginkan tempat tidur ini? baiklah, ayo kita tidur bersama. Aku rasa ranjang ini cukup besar untuk kita berdua," ucap Harry seraya menepuk sisi tempat tidur di sampingnya untuk mempersilahkan Anuska berbaring di ranjang tersebut. Lalu kemungkinan melanjutkan kalimatnya.
"Kita bisa saling berbagi hal di tempat tidur ini. Atau bisa juga--"
"Stop, stop. Apakah kamu tidak tahu sedang berbicara dengan anak di bawah umur sekarang,?" protes Anuska. Wanita itu bergidik ngeri membayangkan tidur bersama Harry.
"Bukankah kamu menginginkan nya tadi? ayolah Nona, aku tidak keberatan," tutur Harry dengan suara yang di buat-buat. Sehingga Anuska semakin takut. Jantungnya mulai bekerja keras lagi.
"Apa kamu sudah gila? aku masih di bawah umur," tandas Anuska seraya menutup dadanya penuh waspada.
"Benarkah? apakah kamu masih di bawa umur? tapi aku lihat kamu cantik juga," goda Harry. Anuska semakin geram dan takut. Tingkat kewaspadaan wanita tersebut menjadi dua kali lipat dari biasanya. Mengapa ada pria mesum seperti ini? pikir Anuska.
"Baiklah, aku akan tidur di sofa dan kamu di ranjang itu. Apa kamu puas sekarang.?" Akhirnya Anuska menyerah juga, atau mungkin dia tidak punya pilihan lain. Karena jika dirinya tetap bertahan dengan pendirian nya untuk tidur di ranjang itu, maka bukan hal yang mustahil jika Harry akan berbuat nekat yang bisa melukai harga dirinya. Setidaknya itulah yang di pikirkan oleh wanita cantik tersebut.
"Anak pintar," ucap Harry dengan raut wajah penuh kemenangan. Sementara Anuska terpaksa harus menelan kekesalan nya, karena harus mengalah.
__ADS_1
Jagan lupa untuk terus like dan vote ya. To be continued.
Happy reading.