
Puas mengelilingi Kota Praha, Kastil Praha atau biasa masyarakat kota Praha menyebutnya Prague Castle. Lalu beralih ke Old Town Square yang merupakan kota tua Praha atau alun-alun kota Praha. Letaknya di jantung kota Praha, dekat dengan jembatan Charles. Dan di jembatan Charles itulah Anuska dan Harry mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri mereka. Namun, tak berani untuk menyimpulkannya.
Jembatan Charles menghubungkan antara Old Town Square dan Kastil Praha. Jembatan ini melintasi sungai Vlatva, Praha. Jembatan dengan gaya arsitektur Gothic yang menambah keindahan jembatan bak di negeri dongeng, membuat kehidupan Anuska berubah seratus delapan puluh derajat layaknya berada di negeri dongeng tersebut.
Setelah berkeliling di kota tersebut, keduanya beralih ke Petrin Hill. Kota ini merupakan area bukit yang letaknya di sisi kiri sungai Vlatva, tepatnya di Lesser Town. Anuska dan Harry memasuki bangunan Hall of Miror dan Petrin Lookout Tower, yang merupakan dua bangunan gereja tua bersejarah yaitu, Saint Lawrence dan Saint Michael. Keduanya menyelipkan doa dan harapan agar menemukan jati diri dan tujuan hidup masing-masing. Terutama Anuska, wanita berambut panjang tersebut menyelipkan seberkas doa, agar menemukan cintanya dalam perjalanan itu. Sementara Harry, berharap tak salah mengartikan rasanya pada gadis yang bernama, Anuska Holcher.
Puas mengalunkan bait doa dalam hati, Anuska dan Harry melanjutkan perjalanan ke kota Wenceslas Square. Di tempat ini lah Anuska menikmati kuliner kota tersebut untuk mengisi perutnya yang kosong agar bertenaga dan melanjutkan perjalanan yang sangat penting itu.
Terakhir, Anuska dan Harry mengunjungi kota Wallenstein Palace dan berakhir di Vysehrad. Keduanya sangat menikmati perjalanan. Baik Anuska maupun Harry, sama-sama mengumbar senyum kebahagiaan. Senyuman itu tak pernah menyurut hingga keduanya tiba di hotel tempat mereka menginap. mereka tiba di hotel pukul 03.00 dini hari waktu setempat.
Harry merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa, membuat Anuska berdegup penuh tanya.
"Mengapa kamu berada di kursi sofa? bukankah itu tempatku,?" tanya Anuska dengan kening hampir menyatu.
"Apakah aku sejahat itu membiarkan seorang gadis tidur di kursi sofa,?" balas Harry datar.
"Tapi bukankah kamu bilang, bahwa ranjang itu adalah milik mu,?" jawab Anuska seraya menunjuk tempat tidur yang berukuran king size tersebut.
"Sekarang itu adalah milik mu, aku sudah menikmati nya tadi siang."
"Baiklah, aku akan menikmati tempat tidur ini." Anuska mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Lalu membuka syal yang melingkar di leher jenjangnya.
Anuska mulai merebahkan tubuhnya yang mulai kaku akibat dari perjalanan yang di tempuhnya. Perjalanan itu di rangkai indah dalam hati dan benak Anuska. Begitu juga dengan Harry. Pria itu masih berusaha untuk menampik rasa yang mulai bergejolak, hingga matanya sulit untuk terpejam. Dia melirik ke arah tempat tidur dimana Anuska berada. Pria itu bangun dan berjalan menuju Anuska.
Di lihatnya lekat-lekat wajah polos gadis tersebut. Bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, dan bulu mata lentik, berkulit mulus, menambah poin kecantikan seorang Anuska Holcher. Semua tak luput dari pandangan Harry. Dia benar-benar berdecak kagum atas ciptaan Tuhan yang satu ini. Anuska adalah gadis polos dengan sejuta pesona di dalamnya. Tak banyak yang tahu tentang itu, karena sayap-sayap patah yang di miliki Anuska. Namun, sekarang sayap itu seakan tumbuh dan berkembang hingga terbang dan menuju ke arah Harry.
__ADS_1
Puas menikmati kecantikan Anuska, Harry pun ingin beranjak pergi menuju kursi sofa. Namun, langkahnya terhenti ketika Anuska memegang tangannya secara tiba-tiba. Ternyata wanita itu belum juga tidur, sama seperti Harry.
"Apakah kamu sangat menikmati nya,?" tanya Anuska dengan mata terpejam. Namun, tidak membuatnya tertidur.
"Apakah kamu belum tidur,?" balas Harry.
"Apakah aku sedang mengigau sekarang? aku tahu kamu sedang menikmati kecantikan wajahku, bukan,?" tanya Anuska masih dengan mata terpejam.
"Lepaskan tanganku, jangan menyentuh tangan pria pada jam begini." Nada suara Harry seolah memendam sesuatu yang meronta di dalam sana. Anuska membuka matanya, lalu kemudian beranjak dari tempat tidur tersebut. Dia memposisikan diri menghadap pada Harry.
"Apakah sentuhan ku membuat hati mu merasakan hal yang lain? atau jiwa mu mulai bergejolak merasakan sensasi yang berbeda? bukankah itu yang kamu ucapkan padaku beberapa jam yang lalu,?" tanya Anuska secara beruntun. Harry beralih melihat wanita tersebut.
"Aku sama sekali tidak merasakan apapun ketika berada di dekat mu. Apa lagi hanya sentuhan kecil ini," jawab Harry penuh penekanan. Anuska menarik sudut bibirnya membentuk senyum menyeringai. Namun, hampir tak terlihat.
"Apakah kamu sedang mengujiku sekarang.?"
"Anggap saja begitu," tutur Anuska santai sembari menaikan kedua bahunya.
"Anuska, apakah kamu menyadari ucapan mu itu,?" tanya Harry dengan mata penuh selidik.
"Tentu saja. Bukankah tadi kamu bilang tidak merasakan apa-apa terhadap ku? lalu apa yang kamu takutkan dari sekedar tidur bersama ini,?" tanya Anuska datar. Membuat Harry mengumpati wanita tersebut. Bagaimana bisa Anuska mengajaknya tidur bersama? meski tak memiliki perasaan apapun pada wanita itu, tetapi tidur bersama merupakan dua hal yang berbeda. Apakah dia sedang menguji dirinya? pikir Harry.
"Baiklah, aku anggap kamu takut padaku karena mulai merasakan sesuatu dalam hati mu bukan,?" goda Anuska.
"Baiklah, kita tidur bersama. Aku akan membuktikan jika perasaan ku padamu tak pernah ada, dan tak akan pernah ada," jawab Harry mantap dan penuh penekanan. Namun, sukses membuat hatinya bergetar. Ya, sejujurnya hati Harry bergetar ketika kalimat lugas itu terlontar begitu saja tanpa permisi.
__ADS_1
Sementara Anuska menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan disana.
**
Keduanya pun akhirnya tidur bersama. Sesuai ucapan Harry, pria itu tak melakukan apapun terhadap Anuska. Kendati dia harus berusaha dengan susah payah untuk menahan gejolak asmara yang mulai meronta di dalam sana. Adik kecil yang tak pernah bangun karena kedekatan nya dengan seorang wanita, kini berdenyut dan berdiri tanpa aba-aba.
Harry harus tidur dengan perasaan tertekan, sementara Anuska tidur dalam kedamaian. Hingga menjelang siang hari, Anuska sudah berada di atas dada Harry. Sedangkan satu tangan pria tersebut memeluk tubuh Anuska. Keduanya tidur dalam posisi yang di rasa nyaman. Tanpa mereka sadari, jarak keduanya semakin dekat.
Deru nafas Harry dan Anuska memburu, mereka masih berada di alam mimpi. Sembari memeluk tubuh Anuska, Harry mengelus hidungnya yang mancung ke atas kepala wanita tersebut. Hingga Harry mencium aroma strawberry, aroma lain ketika dirinya bangun tidur.
Perlahan Harry membuka matanya, dia melihat Anuska masih tidur di atas dada bidangnya. Harry cukup terkejut dengan situasi itu, tetapi tak membuat Anuska bangun dari tidur nya.
Sekali lagi Harry menatap bulu mata lentik Anuska, lalu kemudian beralih ke bibirnya yang tipis. Sungguh cantik natural. Tanpa Harry sadari, hatinya berdecak kagum akan kecantikan yang di miliki oleh wanita tersebut.
Kesadaran dan iman Harry mulai goyah, dia mendekatkan wajahnya pada Anuska. Lalu kemudian mengecup bibir tipis Anuska. Rasanya sangat manis.
Masih terus mencium bibir tipis tersebut sambil menutup mata, Harry seakan menikmati benda kenyal tersebut. Tanpa ia sadari, Anuska telah bangun dari tidurnya dan mata mereka saling menatap. Membuat Harry terkejut dan terjatuh dari tempat tidur. Dia seperti sedang kedapatan mencuri.
Bug,
"Aww." Harry merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Pertama, karena Anuska menindih dadanya sepanjang malam, lalu kemudian jatuh dari atas tempat tidur karena terkejut sekaligus malu.
Lalu kemudian Anuska berkata, jangan lupa like dan vote ya readers.
To be continued.
__ADS_1